7 Hari di Yogyakarta bersama Dua Balita, Kemana  Saja?

7 hari di Yogyakarta bersama dua balita, kemana saja?

Salah satu ikon khas Yogyakarta.

Banyak kawan yang sudah pernah datang ke Yogyakarta berkata, bahwa kota gudek ini kota yang penuh dengan kenangan. Setiap yang pernah datang ke sini, pasti rasanya mau kembali lagi.

Ternyata benar, saya yang sekitar tahun 2016 ke Yogyakarta bersama abang dan suami, berencana kembali lagi tahun ini. Kali ini kami berencana mengajak bapak dan ibu mertua. Mengapa mau kembali lagi? Waktu pertama kami mengunjungi Yogyakarta bersama abang, dia baru berusia 1 tahun lebih, hampir 2 tahun, sehingga belum terlalu mengerti dan antusias dengan kunjungan kala itu. Kini di usianya yang hampir 4 tahun, kami mau mengajaknya lagi barangkali dia lebih antusias kali ini. Ditambah kali ini sudah ada adik yang sangat antusias dengan binatang.

Tapi ternyata rencana ini gagal, bapak dan ibu tak jadi ikut, sehingga kami pun urung pergi ke Yogyakarta.

Mungkin memang takdirNya kami harus berangkat ke kota pelajar ini, tiba-tiba saja mas suami diminta berangkat ke Yogyakarta untuk mengikuti training dari kantornya. Padahal sebelumnya tak pernah ada pelatihan keluar untuk operator, tapi Alhamdulillah kali ini suami dapat kesempatan ini. Berita baiknya, suami boleh mengajak anak dan istri, selama biaya transportasi dan kebutuhan selama di sana ditanggung sendiri. Alhamdulillah, berarti memang rizki anak-anak adalah jalan-jalan ke Yogyakarta tahun ini.

Dua hari sebelum waktu berangkat yang ditentukan, ternyata jadwal suami libur. Akhirnya kami pun memutuskan berangkat lebih awal, agar bisa main dulu, berhubung kami masih punya potongan diskon dari airy rooms yang kami dapat dari local guide. Kami berangkat jum’at sore, tanggal 4 mei dan pulang hari kamis tanggal 10 mei. Agar tidak lupa, saya coba tuliskan kegiatan kami selama 7 hari di Yogyakarta bersama dua balita.

Baca juga: Traveling bersmaa Anak, Ribet Nggak Sih? 

 

Hari pertama, Jum’at, 4 Mei 2018

Karena ini merupakan keberangkatan yang diutus kantor, suami bisa meminta fasilitas antar jemput dari dan ke stasiun, karena kami akhirnya memutuskan naik kereta, demi untuk menghemat biaya, meski akhirnya naik kereta eksekutif, haha.

Sekita jam 10 pagi, mobil sudah datang menjemput. Kereta kami dijadwalkan akan berangkat sekitar jam 5 sore dari Surabaya. Agar tidak terhalang macet dan nanti mau berhenti sholat jum’at, kami putuskan untuk berangkat pagi.

Sekitar 1 jam setengah perjalanan, kami berhenti di masjid pinggir jalan di Probolinggo. Suami dan pak supir mau melaksanakan sholat jum’at. Alhamdulillah abang dan adik tak rewel, karena kami menunggu di mobil. Abang sibuk dengan camilannya, adik sibuk dengan minum ASI. Setelah selesai, kami memutuskan untuk berhenti di Warung Ayam Bakar Wong Solo, di daerah Pasuruan.

Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah tidak macet dan jalanan lengang, waktu itu kami memilih jalan tol. Pak supir langsung mengantarkan kami ke Stasiun Gubeng Baru, karena kami akan berangkat naik kereta  Bima.

Meski harus menunggu sebentar, akhirnya kereta pun tiba tepat waktu. Kami pun langsung naik Kereta Bima.

Perjalanan malam yang sangat dingin. Tapi di kereta kami diberikan fasilitas selimut. Selain itu disini juga ada gerbong makan yang lumayan untuk kelas makan di kereta.

Sekitar jam 10 malam, kami tiba di Stasiun Tugu. Dengan berjalan kaki sekitar 300 m, kami akhirnya menemukan hotel yang dicari, Airy Sosrowijayan. Sebenarnya kami sudah mau langsung tidur malam itu, hanya saja, alarm perut lapar dari ibu menyusui terus berbunyi. Kami memesan ayam geprek melalui Go Food. Ayamnya enak, tapi sangat pedas. Selamat malam Yogya, malam itu kami tidur dengan pulas.

 

Hari kedua, Sabtu, 5 Mei 2018

Hari ini kami berencana mengajak abang dan adik ke kebun binatang Gembira Loka. Pagi hari, setelah mandi dan beres-beres, kami mencari makan di sekitar hotel. Gudeg Yu Djum jadi pilihan kami pagi itu. Berbekal google map, kami berjalan kaki dari hotel menuju tempat makan. Warung Gudeg Yu Djum terletak di daerah Jl. malioboro, ternyata warung yang kami jumpai ini adalah cabang dari Warung Gudeg Yu Djum. Alhamdulillah kami tidak tersesat, meski perjalanan hanya mengandalkan google map. Berterima kasihlah kepada mereka para penemu teknologi informasi seperti sekarang ini, bahkan sambil jalan-jalan seperti ini, kita bisa bayar tagihan air lewat Tokopedia atau bisa bayar tagihan telkom online. Alhamdulillah meski tanpa guide, bisa jalan-jalan keliling Yogya tanpa nyasar.

Setelah makan di Warung Gudeg Yu Djum, masih berbekal google map, kami pulang berjalan kaki sambil menyusuri jalan malioboro. Sampai di hotel, kami langsung bersiap-siap untuk check out. Sekitar jam  10an, bersama dengan go car, kami langsung berangkat menuju Kebun Binatang Gembira Loka.

Alhamdulillah ada tempat penitipan barang di sini. Barang bawaan yang tidak terlalu perlu, seperti koper, jaket, dan lain-lain, bisa dititip di sini. Kebun binatang yang luas sekali. Ada gajah, monyet, aneka ikan dan ular, unta, hingga zebra. Biaya masuk per orang hanya Rp 30.000. Anak-anak mulai usia 3 tahun, sudah diharuskan membayar tiket masuk. Beruntungnya di sini ada Taring, kereTa keliling, sekali naik Rp 8.000 dan untuk terusan hanya Rp 25.000. Sebagai bonus, kita bisa menikmati sensasi naik kapal di kolam sepuasnya dengan tiket terusan tersebut.

Alhamdulillah anak-anak senang sekali, terutama Emaknya, haha. Kami makan siang di warung gajah, semacam food court yang ada di kebun binatang ini. Di dekat warung ini ada toilet dan kamar mandi yang bersih dan nyaman. Untuk sholat, disediakan beberapa mushola, di pintu masuk dan di dalam. Sekitar jam 4 sore, kami pulang menuju hotel kedua, hotel dermaga keluarga, bersama dengan Go Car.

7 hari di Yogyakarta bersama dua balita, kemana saja?

Berfoto di Bird Park di Kebun Binatang Gembira Loka.

Untuk Hotel Dermaga Keluarga ini, kami memesannya via pegipegi.com. Sesuai dengan namanya, hotelnya didesain seperti kapal, di bagian depan ada museum perkapalan yang gratis bila pengunjung hendak masuk. Alhamdulillah hotelnya enak dan nyaman. Tidak menyesal kami memesan hotel ini.

Malamnya, masih berbekal Google Map, kami mencoba makan malam di Warung Nasi Bakar Wirobradjan. Warungnya homy dan makanannya enak. Semua suka dengan menu yang dipilih. Saya juga suka wedangnya, hanya saja memang harus sedikit bersabar, karena hanya ada dua pelayan yang membantu. Sekitar jam 8 malam, ada yang datang membeli tapi menu sudah habis. Malam itu kami tidur dengan perut kenyang.

Hari ketiga, Minggu 6 Mei 2018

Keesokan harinya, masih dengan agak malas kami pun bersiap-siap untuk sebelumnya check out lalu menuju Taman Pintar.

Sebelum check out saya dan abang sempatkan keliling hotel Dermaga Keluarga. Lalu sekitar jam 10an, disupiri Go Car, kami menuju KFC terdekat, di daerah Malioboro. Waktu itu area jalan sepertinya masih diperbaiki sehingga berdebu dan banyak tukang yang sedang bekerja. Setelah kenyang, kami memcoba naik Trans Yogya ke Taman Pintar. Hanya bayar Rp 3.500 per orang, si abang tidak, kami bisa duduk tenang di bus yang ber AC. Sedangkan abang tidak membayar sama sekali.

Sesampainya di Taman Pintar, kami langsung membeli tiket kunjungan ke gedung oval dan kotak. Biayanya sekitar Rp 20.000 per orang. Sayang di sini tidak ada tempat penitipan barang, sehingga kemana-mana kami harus mengangkut koper. Abang paling takut ketika masuk gerbang dinosaurus. Padahal ia senang sekali buku cerita dinosaurus. Dia paling antusias di tempat bermain anak-anak, yang ada main bola dan permainan di layar TV, main menangkap ikan serta main alat musik gamelan, karena bisa bebas bermain alat musik pukul. Setelah puas keliling kami main kapal-kapalan masih di area Taman Pintar, harga tiket Rp 10.000, awalnya adik bayi tak perlu membayar, lalu di tempat main diminta bayaran. Setelah itu abang dan adik puas main air mancur padahal airmya kotor sekali.

Kami makan seadanya dengan menu yang kami bawa dari KFC tadi, ditambah dengan membeli minuman di sekitar Taman Pintar. Sayang, tiket masuk main gerabah kami tidak bisa digunakan, karena jam kreasinya telah habis. Sekitar jam 4 sore kami pulang menuju hotel pilihan prusahaan untuk suami dan kawan-kawan, Hotel Cavinton. Kali ini kami mencoba kembali naik Trans Yogya. Sayangnya, ternyata busnya tidak berhenti di dekat hotel, sehingga kami harus berjalan sekitar 20 menit.

Dari luar hotel ini kesannya jadul dan biasa. Tapi di dalam, tampilannya lumayan mewah. Hotel ini sudah termasuk hotel bintang 4. Lantai kamar dan sepanjang kamar diberi karpet, untuk menambah kesan mewah dan menawan. Kami tidur di lantai 5, tepatnya kamar 502. Dari atas, kami bisa melihat sedikit hiruk pikuk lalu lintas Yogya. Malamnya, kami mencari makan di sekitar hotel, karena jatah makan hanya untuk pagi. Kami makan di Lesehan Aldan, di belakang Hotel Cavinton. Pilihannya ada ikan, ayam dan bebek, bisa goreng atau bakar. Rasanya enak dan sambalnya macam-macam. Selain itu nasi yang disuguhi banyak sekali. Alhamdulillah kenyang sekali rasanya. Pulangnya saya masih sempatkan membeli ronde dan terang bulan. Akhirnya malam itu kami bisa tidur dengan perut kenyang.

 

Hari keempat, Senin, 7 Mei 2018

 

Hari ini hari pertama suami pelatihan. Itu berarti kami harus menunggu di kamar atau jalan hanya bertiga. Saya memilih mengajak anak-anak main di playground saja. Beruntungnya, suami dapat jatah makan pagi sepuasnya, untuk 2 tamu hotel dan anak-anak di bawah usia 5 tahun masih gratis. Jadi setiap pagi makan kami sangat terpenuhi, haha. Menunya pun bermacam-macam dan enak. Ada buah, salad, manisan buah, nasi putih, nasi goreng, sayur, lauk, soto ayam, bubur ayam, aneka roti, puding, roti tawar bakar, sosis goreng, bubur manis, dan pisang goreng.

Pagi itu adik makan capcay sendiri. Setiap makan, kursi kami selalu berantakan, sehingga saya terpaksa harus membersihkan dulu kasihan petugas hotel.

Setelah makan dan mandi, anak-anak main di playground. Lumayan luas dan ada beberapa mainan. Ada plosotan, bola, ayunan, kuda-kudaan, dan boneka. Setelah puas main kami kembali ke kamar dan menonton. Sebenarnya perut lapar sekali siang itu. Tapi malas untuk keluar, seme tara bila memesan via Go Food, anak-anak tak bisa ditinggal turun karena sudah pulas. Saya minya dibungkuskan suami nasi dan ayam goreng dari warung Lalapan Aldan ketika pulang pelatihan. Alhamdulillah perut kembali tenang.

Malamnya, kami jalan-jalan ke Alun-alun Kidul masih dengan Go Car. Sesampainya di sana kami langsung mencoba naik mobil kelap-kelip. Sayang kami diminta agak mahal, Rp 30.000 satu keliling. Padahal setelahnya kami  ditawari langsung dengan harga Rp 25.000 untuk satu kali putaran. Setelah puas keliling, kami membeli sate ayam Cak Man dan makan di lapangan. Setelah kenyang saya membelikan abang mainan seperti ketapel yang ada lampu lednya. Sekitar jam 10an malam, kami langsung pulang diantar Go Car. Sebelum ke hotel, kami mampir di Indomaret untuk membeli persediaan camilan di hotel. Sampai di hotel kami langsung tidur.

7 hari di Yogyakarta bersama dua balita, kemana saja?

Mobil warna-warni di alun-alun kidul.

Hari kelima, Selasa, 8 Mei 2018

Hari senin sore, istri dan anak temannya suami datang menyusul dari Malang naik kereta. Sehingga paginya, setelah sarapan, kami memutuskan untuk renang bersama. Setelah sarapan dan main di playground, kami puj berenang. Airnya dingin sekali. Pihak hotel meminjamkan handuk sehingga kami tak perlu repot bawa dari kamar. Setelah renang, kami memutuskan untuk berangkat menuju Taman Pintar bersama. Hanya dengan naik Go Car lalu bayar Rp 10.000, kami sudah tiba di Taman Pintar. Abang sudah mewanti-wanti bahwa dia tak mau masuk dan melihat dinosaurus. Saya pun hanya membeli tiket main gerabah dan naik mobil-mobilan. Abang membuat cacing dari tanah liat dan saya membuat bunga. Setelah puas bermain, kami menuju taman lalu lintas. Ternyata mobilnya adalah mobil berjalan otomatis yang  harus ditekan pedalnya bila mau jalan. Karena itu merupakan pengalaman pertama untuk abang, dia pun bosan dan hanya satu kali putaran naik mobil tersebut.

7 hari di Yogyakarta bersama dua balita, kemana saja?

Abang serius membentuk gerabah jadi cacing.

Lalu kami pun istirahat dan makan bekal yang dibawa. Kali ini suami tidak ikut, karena harus mengikuti pelatihan. Jadi saya sendiri sambil menggendong adik dan menuntun abang. Sebelum pulang ke hotel, saya mengajak abang dan adik ke Wijaya Store, tempat jualan aneka perlengkapan bayi. Sebelum sampai kami menemukan semacam toko buku di area Taman Pintar. Akhirnya kami pun membeli dua buku untuk dibaca bersama abang dan adik di hotel. Sesampainya di Wijaya, abang mengantuk sekali. Oh ya saya sampai lupa. Jadi malam sebelumnya, setelah pulang dari Alun-alun kidul, sepatu adek jatuh satu. Sepertinya jatuh di mobil Go Car. Tapi karena malas untuk menghubungi supirnya, kami putuskan untuk membiarkan saja sepatu itu. Maka saya pun langsung berinisiatif membelikan adik sepatu baru. Toko Wijaya ini luas dan lengkap sekali ditambah ada liftnya. Ada kejadian tak terlupakan yang berawal dari sini, sepertinya terlalu panjang bila harus diceritakan di sini. Semoga bisa diposting di lain postingan, haha.

Dari Toko Wijaya, suami menghampiri kami sepulang training dan langsung menuju Pasar Beringharjo untuk membelikan kaos oleh-oleh. Harga kaosnya ternyata hampir sama. Untuk ukuran S dan M Rp 30 ribu, L dan XL Rp 35 ribu. Bila beli satu kodi, akan ada potongan Rp 1 ribu per pc. Kami belanja sampai magrib tiba.

Alhamdulillah ada Grab dan Go Car yang bisa dihubungi setiap saat. Pulangnya kami langsung sholat dan bersiap untuk makan malam yang disponsori oleh tempat training suami.

Malam itu sekitar jam 7, kami makan di Warung Kang Engking, di daerah Godean. Warung makan khas Sunda yang luas sekali. Ada tempat lesehan dan meja. Ada juga are kastil dan taman. Semua pengunjung bebas menentukan dimana mau makan.

Menu yang disajikan adalah ikan bakar, udang bakar madu, udang goreng, cah kangkung, karedok, sambel, tempe dan tahu goreng, nasi dan teh hangat. Sayangnya ada beberapa yang tidak datang karena sakit dan mau jalan-jalan, sehingga kami bungkus sisa makanan untuk supir dan keluarga yang sakit. Setelah makan, kami langsung pulang ke hotel dan tidur. Sekali lagi malam itu kami bisa tidur dengan perut kenyang.

 

Hari keenam, Rabu 9 Mei 2018

Hari ini rencananya kami akan diajak jalan-jalan ke Borobudur dan Jejamuran, warung makan khas Jamur. Paginya setelah sarapan suami berangkat training seperti biasa. Saya dan anak-anak memutuskan untuk menyusul ke hotel Melia Purosani. Dari beberala review yanh saya baca, di hotel ini tersedia taman bermain dan kolam renang. Akhirnya daripada bosan menunggu, saya mengajak anak-anak menyusul ke hotel Melia Purosani. Sayangnya sesampainya di sana playground sedang diperbaiki. Jadi kami hanya jalan-jalan melihat ikan di taman. Karena bosan menunggu, kami putuskan untuk pulang dan menunggu di Hotel Cavinton. Sorenya kami jalan-jalan ke Borobudur lalu makan di Rumah makan Jejamuran. Sekitar jam 9 malam, kami pulang dan langsung tidur. Sementara abang dan suami masih jalan-jalan ke Malioboro bersama teman suami. Saya yang memang sudah mengantuk memilih tidur bersama adik di kamar.

7 hari di Yogyakarta bersama dua balita, kemana saja?

Semua menu berbahan dasar jamur.

 

Hari terakhir, Kamis 10 Mei 2018

Hari ini suami sudah selesai training. Rabu kemarin kegiatan pelatihan sudah resmi ditutup. Sementara jadwal kereta kami masih jam 5 sore. Akhirnya setelah sarapan, kami pun jalan-jalan ke Malioboro untuk foto-foto. Sayang jalanan macet sekali, karena waktu itu libur panjang. Kami memilih late check in di jam 1 siang, Alhamdulillah tidak ada tambahan biaya. Setelah sholat dan beres-beres, kami mengunjungi pusat pembuatan bakpia patok 25. Saya suka bakpia basah kacang ijonya, sayang hanya bertahan 4 hari, sehingga tak bisa membeli terlalu banyak. Padahal bila tahan lebih lama, mau dijadikan menu berbuka puasa, haha.

7 hari di Yogyakarta bersama dua balita, kemana saja?

Pabrik bakpia pathok 25. Di belakang kita bisa lihat para pekerja sibuk memanggang pia.

Setelah itu kami diantar supir tempat suami training ke Yudhistira, pusat grosir batik Yogyakarta. Tak disangka, bawaan kami tambah banyak setelah dari sini. Setelah puas membeli oleh-oleh, kami langsung ke Stasiun Tugu. Rencananya kami akan naik kereta Sancaka. Alhamdulillah kami tidak terlalu lama menunggu. Sekitar jam 4 sore, kereta datang dan kami langsung naik serta menunggu di dalam kereta.

7 hari di Yogyakarta bersama dua balita, kemana saja?

Bermacam batik di Yudhistira.

Begitulah cerita kami liburan dadakan selama 7 hari di Yogyakarta. Tak terasa bisa sampai  2400 kata, haha. Bila ada waktu dan rizki, semoga suatu saat bisa kembali lagi ke kota ini. Terima kasih sudah membaca sampai akhir, semoga bermanfaat. 🙂

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *