Ada Pelangi di Mata Ummi (Seri Alharits Si Anak Baik)

Ada pelangi di mata Ummi

Sudah seminggu ini umminya Alharits bolak-balik dari Paiton ke Probolinggo. Ummi sedang mengikuti pameran produk UMKM di Kabupaten Probolinggo. Produk yang ia pamerkan adalah macam-macam pempek, mulai dari pempek lenjer, pempek adaan, hingga pempek telor.

Setiap hari selama seminggu ini ummi pulang kehujanan, karena ummi selalu naik motor berangkat ke Probolinggo. Akhirnya di hari terakhir, ummi tepar dan jatuh sakit.

Tapi Alharits jadi sedih karena itu. Ia pikir Ummi jatuh sakit karena hujan, sehingga tidak ada yang menemaninya bermain kala itu.

“Ummi, cepat sembuh ya. Biar Alharits ada teman mainnya.” Rengek Alharits pada umminya.

“Iya Nak, kan ada Abi juga yang menemani Alharits bermain.” Jawab Ummi masih sambil berbaring.

“Tapi Abi kan kerja Ummi, kalau Abi sudah kerja, aku jadinya main sendiri.” Tambah Alharits lagi.

“Ini semua gara-gara hujan! Kalau saja tidak hujan, pasti Ummi tak akan sakit dan aku bisa bermain bersama ummi!” Ucap Alharits kesal sambil berlari menuju kamarnya.

Sebenarnya ummi mau menyusul Uwais dan menjelaskan bahwa demam yang ia derita bukan semata karena hujan, semua karena ummi kelelahan lalu ditambah kedinginan karena hujan. Tapi karena badannya lemas sekali dan butuh istirahat, akhirnya ia terpaksa melanjutkan tidur malam itu.

Keesokan harinya, ummi sudah merasa baikan. Setidaknya badannya tak terlalu pegal-pegal lagi. Pagi ini ia mau mengajak Alharits jalan-jalan keliling perumahan, menikmati suasana pagi. Ia merasa menyesal, karena telah meninggalkan Alharits selama seminggu ini.

“Alharits, ayo bangun Nak. Ummi mau mengajakmu jalan-jalan keliling perumahan. Kamu bosan kan di rumah terus?” Tanya ummi sambil mengelus-elus rambut hitam Alharits agar ia terbangun.

“Memang Ummi sudah sembuh? Bukannya Ummi masih sakit?”Tanya Alharits dengan mata yang masih terpejam.

“Alhamdulillah Ummi sudah baikan. Ini tinggal pilek sedikit saja.” Jelas ummi.

Sekitar setengah jam kemudian, mereka pun jalan-jalan keliling perumahan. Perumahan mereka berdekatan dengan sawah penduduk. Pagi itu mereka menikmati udara sejuk dari sawah-sawah hijau yang ditanami padi. Usia padi-padi itu mungkin baru setengah jalan menuju siap panen. Sambil jalan-jalan ummi pun mulai meminta maaf.

“Alharits, tahu nggak mengapa Ummi sakit?” Tanya ummi.

“Karena hujan yang membasahi badan Ummi!” Jawabnya masih sedikit kesal.

“Bukan sayang, Ummi sakit karena badan Ummi diminta untuk beristirahat. Selama seminggu ini kan Ummi bolak-balik Paiton-Probolinggo. Pergi pagi pulang malam. Paginya Alharits masih tidur, malamnya eh sudah tidur lagi. Jadi selain lelah, Ummi juga sedih karena tidak bisa bermain dengan anak kesayangan Ummi yang satu ini.” Jelas Ummi sambil mengacak-acak rambut Alharits.

Tiba-tiba bunyi guntur terdengar kencang. Langit mendung dan gelap. Tiba-tiba air deras turun dari langit. Hujan mengguyur kembali perumahan mereka pagi itu.

“Mi, hujan. Ayo kita berteduh. Ummi kan masih belum sembuh betul.” Ajak Alharits sambil menarik tangan umminya untuk berteduh.

“Tak apa Nak, hujan itu rahmat. Ayo kita main hujan-hujanan saja.” Ajak Ummi.

“Hah, yang benar Mi? Kan Ummi masih sakit?”Tanya Alharits tak percaya.

“Tak apa, bukan hujan yang menyebabkan sakit, tapi Allah. Hujan adalah rahmat. Bahkan dalam Alqur’an Allah berfirman di surat Annaba’ ayat 14-16 yang artinya:

 

“Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat. [An-Naba’: 14-16]”

Ayo kita hujan-hujanan.” Ajak ummi sambil mengajak Alharits mandi air hujan.

Mereka pun lalu mandi hujan pagi itu. Setelah puas mandi, mereka lalu pulang ke rumah untuk bilas. Setelah mandi ummi mengajak Alharits duduk di depan rumah.

“Lihatlah Nak, bunga-bunga di taman ini akan layu bila tak disirami. Apalagi bila Ummi harus pergi selama seminggu. Kamu tentu ingat bunga-bunga kita yang mati bulan lalu kan? Karena kita pergi lama sekali ke rumah nenek, sementara di sini musim kemarau. Alhamdulillah Allah menciptakan hujan, sehingga semua tumbuhan bisa minum meski tidak kita sirami.” Jelas Ummi.

“Ummi, lihat di mata Ummi ada warna-warni.” Kata Alharits antusias.

“Benarkah? Oh itu. Lihat di sebelah sana. Ada pelangi di sana. Tadi mata Ummi tak sengaja memandang pelangi yang di sana” Jawab Ummi.

“Pelangi? Apa itu Mi?” Tanya Alharits penasaran.

“ Pelangi adalah peristiwa ajaib yang terjadi saat ada hujan dan matahari. Ketika sinar matahari mengenai air hujan lalu membelokkannya, maka terjadilah pelangi. Warnanya ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu.” Jawab Ummi.

“Wah, bagus sekali ya Mi pelanginya. Alharits suka sekali melihatnya. Warnanya apa saja Mi? Merah ungu, hijau.” Jawab Alharits dengan semangat.

“Alhamdulillah, itulah baiknya Allah kepada kita. Ia ciptakan semua yang di muka bumi untuk kita. Makanya kita harus banyak bersyukur dengan selalu mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Sekarang tolong ambilkan buku gambar dan pensil warnamu nak.” Pinta Ummi.

“Iya Mi, sekarang Alharits mau mengaji dengan lebih semangat lagi.” Jawab Alharits.Tak lama ia datang dengan  buku dan pensil warna.

Kita membuat apa Mi?” Tanyanya penasaran.

“ Sini Ummi buatkan gambar pelangi. Warna pelangi itu merah, jingga, kuning, hijau dan ungu.” Terang Ummi sambil menyanyikan lagu pelangi-pelangi.

“Wah, bagus sekali Mi. Aku juga mau membuat sesuatu untuk Ummi.” Lanjut Alharits sambil mencorat-coret buku gambarnya.

“ Tadaa, ini untuk Ummi. Gambar Ummi dengan pelangi di mata. Haha. Alharits sayang Ummi.” Ungkap Alharits langsung memeluk ummi.

Pagi itu berlalu sangat hangat bagi Alharits, meski hujan masih terus mengguyur pelan. Terima kasih ya Allah Kau ciptakan Ummi, Abi, hujan dan pelangi. Alharits janji akan jadi anak yang lebih baik lagi, begitu tulisnya di buku gambarnya pagi itu.

—Selesai—

Baca juga seri Alharits anak baik lainnya: Alharits dan Pasukan Bakteri Baik.

#KelasMenulisCeritaAnak

#KMCA

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *