Agar Balita Bebas Diaper Sebelum Usia 3 Tahun

Sebagai orang tua, ada banyak hal yang harus kita tanamkan kepada anak sejak dini, mengingat mereka ketika lahir seperti kertas kosong, lalu orang tuanya lah yang akan mengisinya dengan berbagai hal, entah itu positif atau negatif. Salah satu yang perlu ditanamkan kepada anak sejak dini adalah bisa mandiri untuk urusan buang air kecil dan besar.

Sebenarnya sih ini pilihan ya, apakah orang tua mau selalu diandalkan anak-anak untuk urusan ke kamar kecil? Bila anak bisa mandiri lebih cepat, tentu ini akan menguntungkan kedua belah pihak, bukan? Anak akan diuntungkan karena bisa langsung segera ke kamar mandi tanpa perlu menunggu sang ibu atau ayah, lalu orang tua dapat mengerjakan yang lain sementara anak sibuk di kamar mandi. Selain itu, dari sisi pengeluaran, uang yang biasanya dibelikan untuk kebutuhan diaper setiap bulannya, kini bisa dialokasikan untuk yang lain. Lumayan juga loh ya, dalam sebulan anggaran untuk beli diaper bisa mencapai hingga 240 ribu (ini hitungan cepat untuk pemakaian 4 kali dalam sehari dengan asumsi beli diaper eceran yang 2000an). Nah, bila kita bisa memangkas waktu pemakaian diaper si kecil lebih cepat, dalam setahun kita sudah bisa menyimpan uang sejumlah 2 jutaan. Waw, mayan kan Bu Ibu, hehe. Selain itu, bila tidak dibiasakan sedari kecil, biasanya anak-anak sendiri yang akan repot atau kadang malu. Ketika di usia 4 tahun atau lebih  usia paud atau TK bahkan dia belum bisa mandiri untuk urusan ke kamar kecil, ini juga bisa jadi bahan ejekan teman-temannya.

Alhamdulillah kini anak kami yang berusia 3 tahun 6 bulan, kini sudah bebas diaper. Sejak usianya 2 tahunan, kami hanya memakaikannya diaper karena khawatir dia akan mengompol di tempat-tempat umum seperti masjid, bus, kereta, atau lainnya. Bila hanya di rumah atau sekedar keluar main ke taman, kala itu kami tidak memakaikannya diaper. Sebenarnya meskipun dipakaikan diaper, dia juga tidak pernah lagi pub atau pipis di popoknya, selalu akan memberitahu kami orang tuanya. Ketika adiknya lahir di usianya 2 tahun 7 bulan, dia menemani saya di klinik bersalin juga tanpa menggunakan diaper.

Bebas diaper

Alhamdulillah sekarang jalan kemanapun tak perlu lagi bawa diaper.

Bila melihat hasilnya sekarang ini, lega sekali rasanya bisa melihat si Abang bebas bergerak tanpa diaper. Padahal sebenarnya ada proses panjang sekali di belakangnya demi mengupayakan agar ia bisa mandiri lebih awal untuk urusan ke kamar mandi dan diaper. Agar bisa kembali mengulanginya untuk si adik, saya coba ingat lagi apa saja yang kami lakukan agar si Abang bisa bebas diaper sebelum usianya 3 tahun.

Berdo’a

Yang pernah atau sering baca tips-tips ala saya dan suami, mungkin heran atau bosan ya, kok hampir selalu ada berdo’a dalam setiap tipsnya? Tapi memang begitu yang kami rasakan. Berdo’a membuat kami merasa lebih mudah melakukan semuanya, termasuk perkara bebas diaper ini. Jadi kami minta kesabaran dan kemudahan agar bisa mendidik anak-anak dengan baik, termasuk hal ini.

Tatur sejak usia 8 bulan

Tatur itu bahasa Jawa untuk toilet training, lebih spesifiknya sih orang tua mengajak anak ke kamar kecil, lalu mengajak atau mensugesti anak agar buang air kecil, kemudian si anak pun akan buang air kecil. Semoga saya nggak salah menjelaskan ya, hehe.

Jadi sejak usia Abang 8 bulan, kami sudah mulai mengajarkannya BAK di kamar mandi. Waktu itu saya dan suami secara bergantian, beberapa jam sekali mengajak Abang untuk BAK di kamar mandi. Sekali dua kali berhasil, namun kebanyakan gagalnya. Kadang berujung dengan basahnya baju karena dia main air, kadang keluar masuk masih kering, lalu keluar juga kering, tak lama kemudian, barulah mancur, haha. Meski kadang disiplin kadang tidak, tapi saya kira tatur ini juga bermanfaat sebagai pembiasaan anak-anak, bila mau BAK atau BAB, tempatnya di kamar mandi.

Tidak memakaikan si kecil diaper di rumah

Jadi waktu masa si Abang, saya harus bolak-balik ngepel karena dia tidak memakai diaper di rumah. Kami baru memakaikannya diaper bila keluar rumah. Selain karena agar ia tak ruam popok (waktu kecil pernah terjadi karena kelamaan saya mengganti popok si Abang), juga agar ia belajar merasa tak nyaman karena celananya basah bila BAK.

Sugesti positif

Seperti yang saya tulis di atas, si Abang tak memakai diaper di rumah sejak bayi. Jadi setiap dia BAK atau BAB, kami akan selalu mengajaknya ke kamar mandi untuk siram dan sekaligus memberi sugesti positif agar ia mau BAK di kamar mandi, tidak sembarangan. Juga ketika dia jatus terpleset karena air kencingnya sendiri, karena kadang saya tak tahu dimana tempat BAKnya, kami sampaikan juga sugesti positif tersebut.

Berikan pujian, pelukan atau ciuman ketika si kecil berhasil 

Bila sesekali dia mau untuk BAK atau BAB di kamar mandi, selalu kami puji, atau kami peluk atau cium dan kami katakan bahwa kami senang dia sudah mau BAK atau BAB di kamar mandi.

Kenali tanda mau BAK dan BAB 

Jadi setiap kali dia memegang kemaluan, atau diam berdiri sambil seperti ngeden, maka secepatnya kami akan membawanya ke kamar mandi. Kadang bila tak repot, saat memakai diaper di luar rumah pun kami ajak Abang untuk  BAB atau BAK di kamar mandin. Dan ini sepertinya berhasil, setiap keluar, dia hanya mau BAK dan BAB di kamar mandi. Makanya kadang suka risih bila ada orang tua yang begitu saja menyuruh anaknya BAK atau BAB dimana saja, tanpa alasan darurat. Karena saya tak mau, bila anak-anak tumbuh besar dan dewasa, meniru perilaku Bapak-bapak yang berhenti BAK di pinggir jalan, sementara pom bensin yang menyediakan toilet gratis sudah dekat di depan mata.

Bacakan buku atau menonton video tentang toilet training

Jadi setiap membaca buku, menonton video, lalu ada adegan anak-anak yang BAK atau BAB di kamar mandi, saya sampaikan sugesti betapa baiknya bila bisa BAK atau BAB di kamar mandi.

Itu saja beberapa hal yang kami lakukan agar si Abang bisa bebas diaper. Sebenarnya bila orang tua mau bersabar dan konsisten, InsyaAllah semua bisa lebih mudah. Jangan lupa semua harus dilakukan secara bahagia ya, agar anak tak tertekan atau stres hanya gara-gara orang tua mau anaknya bebas diaper secepat mungkin. Mungkin ada beberapa yang bisa diterapkan kepada anak yang lain, mungkin beberapa tidak. Karena situasi dan kondisinya juga berbeda. Seperti anak kedua kami, sejak usia 6 bulan, kami selalu memakaikan diaper dimanapun dia berada. Selain karena capek harus mengepel lantai, bermain dengan dua balita,  bolak-balik ke kamar mandi, semua tanpa ART, juga karena agar Abang tak merasa dinomorduakan setelah hadir si adik, apalagi di usia ini masih sering BAK. Mungkin nanti setelah usia adik satu tahun, baru kami akan mulai perlahan untuk toilet training si Adik.

Kini di usianya yang ke 3,6 tahun, Abang sudah bisa BAK sendiri. Buka celana sendiri, lalu ke kamar mandi, dan menyiramnya. Dia hanya meminta kami menyalakan lampu kamar mandi bila malam hari. Sementara untuk BAB, dia juga sudah selalu memberi tahu dan langsung ke kamar mandi, hanya saja dia sering membasahi baju ketika BAB, jadi dia perlu meminta tolong dibukakan baju terlebih dahulu. Lalu untuk bersih-bersih setelah BAB, masih sepenuhnya ditangani orang tua. Dia hanya diminta menyiram kotoran hingga bersih.

Begitu sedikit sharing tentang toilet training si Abang. Bu Ibu juga punya pengalaman tentang toilet training si kecil? Sharing di kolom komentar ya, terima kasih. Semoga bermanfaat. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *