Alhamdulillah Akhirnya Abang Sunat ( Cerita Sunat Anak 4 Tahun 7 Bulan dengan Metode Laser)

Ceritanya sunat balita

Ini dia yang sudah sunat. 🙂

 

Assalamu’alaikum pembaca sepradik.com, apa kabar? Semoga selalu dalam lindungan Allah ya, Aamiin. Setelah sekian lama dilanda hiatus menulis blog (bener gini nggak ya penggunaan katanya?) akhirnya saya tergerak lagi untuk menulis di blog ini. Semoga setelah ini akan ada banyak konten tulisan bermanfaat di blog ini, Aamiin.

Setelah sekitar sebulan lebih blog ini kosong dari tulisan baru, dan mungkin karena itu pula DA blog ini pun terjun merosot, haha. Nah, kali ini saya mau berbagi tentang salah satu alasan mengapa saya bisa vakum ngeblog sebulan kemarin. Salah satunya adalah karena anak pertama saya yang laki-laki sunat. Anak pertama saya sekarang berusia 4 tahun 7 bulan. Sejak beberapa bulan yang lalu, saya memang berencana mengajaknya untuk sunat sebelum ia mulai sekolah TK. Dalam bayangan saya, mungkin akan lebih ribet bila ia sunat di waktu sekolah. Selain sudah semakin besar, juga mungkin dia akan izin sementara dan sedikit meninggalkan kegiatan belajarnya.

Akhirnya mulai dari beberapa bulan yang lalu, saya dan suami sudah mensugestikan si abang untuk mau sunat sebelum ia masuk TK bulan Juli nanti. Ketika adik perempuannya sunat ( emang anak perempuan juga sunat? Kok bisa? Baca: Sunat Anak Perempuan dalam Islam), ternyata tidak sakit sama sekali. si adik hanya menangis ketika ia dipegang untuk dilakukan tindakan sunat. Setelah itu, si adik langsung bisa berkegiatan. Nah, kami pun mulai kembali mensugestikan si abang agar juga mau sunat. Selain itu, teman bermainnya dekat rumah, juga sudah sunat beberapa waktu yang lalu.

Setelah proses negoisasi dan sugesti itu, akhirnya ketika ditanyakan si abang mantap menjawab, “ Ya, Abang mau sunat,” begitu katanya. Maka tanpa pikir panjang, setelah mencari waktu yang tepat, kami pun  menghubungi mantri sunat untuk datang ke rumah lalu si abang pun disunat.

Dari awal kami memang tak pernah mengatakan padanya bahwa sunat tak akan sakit. Kami katakan pada abang, bahwa ketika sunat, nanti mungkin akan sedikit sakit, tapi semua lelaki muslim di dunia ini juga mengalami itu dan mereka tetap hidup. Selain itu kami juga beri ia motivasi bahwa dengan sunat ini berarti abang telah mengikuti sunah Rasulullah, dan di akhirat semoga abang bisa menjadi pengikutnya. Entah dia mengerti atau tidak, tapi kami tak mau membohonginya tentang rasa sakit yang nanti akan ia rasakan.

Tanggal 20 februari, sekita jam 6 pagi, pak mantri datang ke rumah. Sebelumnya kami sudah meminta untuk metode gunting saja. Tempat tidur pun telah disiapkan, abang sudah berbaring dan membuka celana. Ketika disuntik obat bius di kemaluannya, barulah ia menangis kencang. Rasanya tak tega melihat ia terus menangis ketika disuntik. Saya yang bertugas memegang kedua tangannya, hanya bisa memotivasi abang, bahwa ini dilakukan agar nanti sunatnya tak sakit, dan sebagainya.

Mungkin karena trauma dengan sakitnya suntikan obat bius di awal, ketika akan dilakukan proses pemotongan, ia tetap menangis dan berteriak. Duh, saya jadi merasa bersalah pada saat itu. Saya sama sekali tak berani melihat proses pemotongannya.

Oh ya, ketika proses suntik obat bius telah selesai, ada satu keteledoran yang dilakukan bapak mantri sunatnya. Ternyata oh ternyata dia lupa membawa gunting. Padahal metode yang kami minta adalah gunting. Tapi karena bius sudah dimasukkan, mau tak mau proses sunat harus dikerjakan. Akhirnya abang disunat dengan metode laser.  

Meski tak melihat langsung, metode laser ini dengan sebuat alat seperti besi tembak, lalu dipanaskan. Setelah panas, barulah digunakan untuk memotong alat vitalnya. Ketika proses potong, entah karena panas atau apanya, ada bagian lain pada alat vital si abang( yang seharusnya tidak perlu) lecet. Setelah saya googling, katanya ini adalah salat satu kelemahan metode laser ( dulu awalnya saya kira metode laser dengan menggunakan sinar laser, ternyata hanya dengan besi yang dipanaskan). Sekitar 30 menit, proses sunat selesai. Dan abang bergerak takut-takut sekali. waktu itu abang diberikan 2 macam obat, pereda nyeri dan anti peradangan. Juga salep. Obat itu langsung kami minumkan pada abang.

Untuk mempercepat proses penyembuhan, mulai dari pemakaian salep, minum obat, makan, dan lainnya, kami membolehkan abang menonton video dari hp selama beberapa proses tersebut. Begitu pula ketika ia kesakitan sekitar beberapa jam setelah sunat, karena pengaruh bius yang sudah selesai. Awalnya, kami mengira memang begitu normalnya. Namun ternyata, Pak mantri kembali melakukan kelalaian. Mungkin karena terburu-buru, ia lupa memberikan obat pereda nyeri yang paling ampuh. Sorenya barulah ia menelpon untuk memberikan obat itu. Setelah minum obat kecil kunign pereda nyeri itu, barulah abang bisa tidur siang itu.
 photo PhotoGrid_1554511757717_zps20j5zwll.jpg

Sejak dulu orang-orang selalu mengatakan, bahwa bila disunat, tanpa gerak aktif, hanya tiduran saja, kemungkinan dalam 3 atau 4 hari, lukanya akan cepat mengering. Tapi ternyata si abang yang hanya tiduran saja selama seminggu, belum juga kering lukanya. Dia masih ketakutan sekali dalam bergerak. Ditambah lagi terjadi satu insiden ketika masa penyembuhan: kemaluannya tak sengaja tersepak oleh dengkul abinya, huhu. Akhirnya mau tak mau proses penyembuhan mulai lagi dari awal. Sekitar hari kelima saya pun penasaran, mengapa tak kunjung kering dan seperti ada nanah? Apakah ini infeksi? Akhirnya kami minta pak mantrinya untuk datang. Begitu sampai, dia mengatakan bahwa itu terjadi karena kurang bersih, tapi bukan infeksi. Cukup direndam dalam air yang agak lama, setelah itu digoyang-goyangkan dengan segelas air, maka hilanglah warna putih seperti nanah tersebut, mengelupas.
 photo PhotoGrid_1554511811360_zpsptlqyi6f.jpg

Alhamdulillah, sekitar hari kelima, si abang sudah mulai berani duduk dan bermain, meski belum mau memakai celana. Sekitar hari ketujuh atau kedelapan barulah ia beranikan sedikit demi sedikit menggunakan celana. Jadi kalau ditotal kira-kira seminggu lebih baru ia sembuh total. Di hari ke delapan, kami mengadakan tasyakuran sederhana di rumah.

Setelah itu, kami pun mengajaknya jalan-jalan ke Transmart Sidoarjo. Alhamdulillah, semua prosesnya sudah selesai dilalui. Semoga kau terus tumbuh jadi anak yang berbakti kepada orang tua dan senantiasa dekat dengan Allah ya Nak, Aamiin.
 photo IMG-20190406-WA0032_zpskikjay3d.jpg

Untuk yang ingin tahu berapa biaya yang dikeluarkan, untuk metode sunat dengan mantri dipanggil ke rumah, kami dikenai charge sebesar Rp 500.000. Tapi saran saya, sebaiknya datang ke rumah sunat atau tempat praktiknya sekalian, karena kalau diajak ke rumah, khawatir ada yang lupa atau kurang seperti kasus anak saya ini. Itu saja cerita sunat si abang anak pertama kami. Semoga ada hikmah yang bisa diambil dan semoga bermanfaat. ☺

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *