Anakmu Cerminan Dirimu

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Tentu kita tak asing dengan peribahasa tersebut. Yang artinya kurang lebih sifat anak tidak akan jauh berbeda dengan orang tuanya.

Itulah yang saya rasakan sekarang. Terutama dalam diri si Abang, yang sudah berusia 3 tahun 6  bulan saat ini. Saya rasakan betul banyak sifat buruknya yang tertular dari saya.

Pemarah

Sejak menikah dan mengurus anak, sifat asli saya mulai muncul. Saya jadi suka sekali marah. Lebih tepatnya gampang tersulut emosi. Sedikit saja ada yang membuat hati tak enak, langsung rasanya meledak-ledak mau marah. Karena yang sering bersama saya adalah si Abang, jadilah dia yang sering kena semprot emaknya. 🙁

Pernah suatu ketika kami sedang ngobrol random.

Abang: Mi, mengapa sih kita punya mata?

Ummi: Ya itulah baiknya Allah Nak, kita diberi mata agar bisa melihat semuanya. Coba kalau kita nggak punya mata, mana bisa kita melihat? Makanya kita harus banyak bersyukur atas semua nikmat Allah, dengan cara rajin sholat, jangan marah-marah, suka sedekah, dan banyak lagi.

Abang: Tapi Ummi kok suka marah-marah?

Ummi: ##*????

(Bingung mau jawab apa, haha) lalu mencoba menjawab, “Makanya Abang jangan suka buat Ummi marah, biar Ummi nggak dimarahin Allah”.

Tetap aja bela diri ya, huhu. Dan sifat pemarah ini pun menular ke Abang. Bila sedikit saja hatinya tak enak, misalnya diganggu, mainannya diambil, makanannya jatuh, maka ia pun langsung marah-marah lalu menangis. Duh, persis sekali seperi emaknya. (Kemudian tutup muka).

Sensitif

Ini juga emaknya banget nih. Pernah waktu hamil si Abang, saya menangis sesenggukan di mushola terminal di Surabaya. Gara-gara dimarahi Ibu-ibu yang mukenahnya saya pinjam tanpa izin. Waktu itu saya kira mukenah itu kepunyaan masjid. Tapi Ibunya sedang tertidur, jadi saya sungkan untuk bertanya. Sementara mukenahnya tergantung di tembok. Lalu si Ibu marah-marah kepada saya. Maka saya pun langsung menangis sesenggukan. Haha.

Dan ini pun menular kepada si Abang. Jangan coba larang dia atau berkata yang menyakiti hatinya. Maka ia akan langsung menangis. Kalau mau memakai barang-barangnya, atau mau membatalkan janji tiba-tiba, maka harus ada kalimat pengantar terlebih dahulu. Jadi, dia tidak akan terkejut.

Main gadget

Karena Emaknya suka pegang hp, untuk nulis, lihat info job terbaru, atau lainnya, maka Abang pun sepertinya menuruti emaknya. Dia pun jadi suka sekali bila memegang hp. Bila diprotes lalu hpnya disita, kemudian emaknya juga memegang hp, maka dia juga akan menyita hp yang dipegang emaknya, haha.

Melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang

Setiap kali habis marah dengan si Abang, bila emosi sudah reda, saya akan meminta maaf padanya. Ini terjadi berkali-kali. Lalu ketika Abang baru mengusili adiknya, dia juga kami ajarkan untuk meminta maaf. Dan ini juga terjadi berulang-ulang. Sehabis meminta maaf, kembali dia mengusili adiknya lagi. Kadang saya tegur, “kalau sudah meminta maaf, jangan diulangi lagi kesalahannya!”.

Padahal saya lupa, mungkin kebiasaan mengulangi kesalahan yang sama itu karena dia belajar dari ibunya.

Begitulah sedikit suka duka mengasuh buah hati kami yang pertama. Benar mungkin kata para pakar kebanyakan ya, jangan berharap terlalu banyak kepada anakmu, bila kau sendiri enggan berubah. Bila berharap anak seperti Fatimah, sudahkah kau berperilaku seperti Muhammad? Bila berharap anak seperi orang besar ternama, sudahkah kau didik anakmu seperti ibu orang ternama itu mendidiknya?

Semoga Allah senantiasa melindungi kita, anak-anak kita, dan keluarga kita dalam keadaan beriman dan islam. Semoga kita bisa mendidik anak-anak sesuai fitrah, agar kelak mereka bisa selalu melangkah di jalan yang benar, Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *