Awas! Jangan Sepelekan Hutang!

Awas! Jangan sepelekan hutang!

Awas! Jangan Sepelekan Hutang!

Karena berasal dari keluarga yang kurang mampu, saya termasuk yang jarang berhutang. Kalaupun berhutang, jumlahnya tidak terlalu besar. Soalnya saya takut tidak bisa melunasi, nanti malah akan merepotkan Ayah dan Emak.  Waktu masih sekolah dulu, saya hutang mungkin hanya untuk membeli jajan, sementara uang mingguan yang diberikan Emak sudah habis, soalnya waktu SMA saya tinggal di asrama dan baru pulang seminggu sekali. ketika kuliah sama saja, saya baru berhutang bila uang mingguan saya habis, sementara bensin dan perut sudah keroncongan. Tapi begitu uang mingguan sudah ada, langsung saya bayar, soalnya takut lupa. Meskipun tak lama setelah itu, mungkin saya akan berhutang lagi pada teman satu kosan. Haha. Kalau istilah Bang Rhoma, “ gali lobang tutup lobang”, hehe. Jumlah paling besar paling hanya 30 ribu.

Nah, sejak menikah, saya pun mencoba menerapkan yang sama. Bila memang benar-benar bukan untuk sesuatu yang penting, saya tidak akan berhutang. Coba untuk menabung saja. Alhamdulillah sampai saat ini hutang kami juga tidak terlalu banyak, dan kalaupun ada, kami selalu berusaha untuk melunasinya. Sampai saat ini hutang terbesar yang kami punya adalah hutang cicilan tanah dan rumah. Alhamdulilah hutang tanah sudah lunas, sementara rumah masih lumayan lama. Nah, dalam berhutang, kami tegaskan untuk menjauhi riba. Bahkan kami pernah mengikhlaskan uang tanda jadi rumah yang jumlahnya lumayan, agar terhindar dari riba. Jadi ceritanya kami sudah hampir mau membeli rumah di salah satu perumahan, awalnya pihak developer bilang bisa dicicil tanpa melalui BANK, tapi kemudian ternyata tidak bisa, akhirnya terpaksa kami mengikhlaskannya.

Sejak pindah ke Paiton awal 2013 lalu hingga sekarang, beberapa orang juga pernah berhutang kepada kami. Sebenarnya tak masalah ya, kami juga ikhlas, hitung-hitung membantu sesama. Tapi sayangnya, diantara beberapa orang berhutang itu, ada yang niat membayarnya tidak kelihatan sama sekali, haha. Habis hutang malah kabur, njaluk piye Jal? Memang sih jumlahnya tak seberapa, buat beli mobil belum bisa, tapi kalau buat beli garam mungkin dapat seribu bungkus. Dari beberapa orang yang pernah berhutang ini, saya jadi bisa membaginya menjadi beberapa tipe:

  1. Saat awal berhutang bilang butuh sekali, setelah dihutangi malah kabur

Jadi ceritanya ada warung makan yang lumayan sering kami singgahi. Penjualnya sepasang suami istri. Setelah beberapa kali makan di situ, saya tidak melihat suaminya yang biasa menemaninya jualan. Karena penasaran, maka bertanyalah saya. Lalu disampaikanlah bahwa ternyata suaminya sedang sakit. Sekitar seminggu setelah bertanya, saya lihat suaminya masih tak nampak juga, maka saya pun bertanya lagi, eh kemudian malah saya diminta menghutangi, katanya untuk menebus obat suaminya. Karena kasihan dan kebetulan punya, kami pun memberikan sejumlah yang ingin dia pinjam. Janjinya seminggu kemudian akan dibayar. Waktu pun berlalu, seminggu kemudian kami pun makan lagi di sana. Bukan untuk menagih hutang sih, hanya memang mau makan. Ketika melihat kami, dia bilang uangnya belum bisa dikembalikan, beberapa hari lagi ya. Kami pun mengiyakannya. Lalu mungkin lama setelah itu, sekitar dua minggu kami belum makan lagi di sana, kuatir orangnya juga merasa tertekan, takut merasa ditagih. Eh, tahu-tahunya warungnya sudah tutup. Tanpa bilang ba bi bu, orangnya pergi begitu saja. Padahal kalau sekiranya dia memberitahukan terlebih dahulu, mungkin tidak akan sesakit ini perasaannya.

  1. Saat berhutang nanti mau nyicil, setelah dihutangi malah santai kayak tidak terjadi apa-apa

Nah, kalau yang ini lain lagi. Ketika pertama mau berhutang, dia bilang mau mencicilnya sedikit demi sedikit. Baiklah kalau begitu, hitung-hitung untuk menolong sesama. Eh, tak tahunya setelah dihutangi, tidak ada tanda-tanda bayar sama sekali. Memberitahukan sesuatu pun tidak, ketika bertemu santai saja seperti tidak ada apa-apa. Duh, kalau yang ini bisa buat darah tinggi kalau diingat-ingat.

  1. Saat hutang bilang bayar pas gajian, tapi setelah bertahun-tahun hilal gajian tak nampak juga

Nah, kalau yang ini, bilangnya mudah sekali pas mau berhutang. Bilangnya setiap gajian nanti akan saya cicilkan beberapa Mba’. Saya iyakan saja, saya niatkan membantu. Sekali dua kali dia masih mencicil, lama kelamaan, hingga bertahun-tahun lamanya, tidak ada lagi kabar berita.

  1. Bilangnya butuh pas hutang, lama ditunggu belum bayar, malah merekomendasikan kami untuk tempat berhutang orang lain

Jadi ini ada orang yang datang ke kami, meminta tolong dihutangi. Katanya tahu dari si Anu, padahal si Anu juga hutangnya belum dibayar. Haha.

  1. Bilangnya akan segera dilunasi, eh tapi malah hutangnya diserahkan ke orang lain

Kalau yang ini paling kebangetan. Jadi ada yang hutang barang kepada mas suami. Mas suami memang menjual beberapa barang elektronik di rumah. Pada awal berhutang segala kata manis pun disampaikan. Janjinya dicicil 3 kali, dalam jangka waktu 3 bulan. Setelah sebulan lamanya, tak ada kabar berita. Eh, ketika dihampiri katanya barangnya saya hutangi ke teman saya, tapi saya tidak tahu alamatnya dan nomor telponnya.  Waduh, kok enak sekali ya? Barang orang lain asal dihutangi saja ke temannya.

 

Dari beberapa tipe orang yang berhutang tersebut, saya heran sekali, kenapa mudah sekali orang berjanji untuk melunasi hutang, kemudian setelah diberikan pinjaman malah seperti tak ada niat membayar? Saya katakan tidak ada niat membayar seperti itu, karena ketika bertemu mereka biasa saja. Tidak memberikan penjelasan, mengapa belum dibayar, lalu mohon maaf karena belum bisa membayar dan lainnya. Setiap kali ketemu seperti tidak ada apa-apa. Alamak, pedih hati Adek. T-T

Padahal di dalam islam, ada beberapa bahaya mengancam bagi para penghutang, ketika menyepelekan hutangnya.

1. Bila mati dalam keadaan berhutang, kebaikannya sebagai gantinya

“Bangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya di hari kiamat nanti, karena di sana tidak ada lagi dinar dan dirham” (HR. Ibnu Majah no. 2414 Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadist ini shahih)

Ngeri kan? Ketika kita tidak bisa melunasi hutang, maka kebaikan kita yang akan membayarnya di hari akhir nanti. Makanya tidak boleh menyepelkan hutang. Apalagi untuk orang yang kebaikannya masih sedikit seperti saya. T-T

2. Orang yang berniat tidak mau melunasi hutang, akan dihukum sebagai pencuri

“ Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah pada hari kiamat dalam status sebagai pencuri” (HR. Ibnu Majah no. 2410. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadist ini hasan sahih.)

Al Munawi mengatakan, “ Orang seperti ini akan dikumpulkan bersama golongan pencuri dan akan diberi balasan sebagaimana mereka.” (Faidul Qadir, 3/181)

Innalillahi, hanya karena hutang kita, nanti kita akan dihukum seperti pencuri. Semoga kita dijauhkan dari sifat berhutang kemudian malas membayar.

3. Rasulullah enggan menyolati orang yang masih memiliki hutang ketika ia meninggal

Dari Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
Kami duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu didatangkanlah satu jenazah. Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.” Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?”. Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyolati jenazah tersebut.
Kemudian didatangkanlah jenazah lainnya. Lalu para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah shalatkanlah dia!” Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Iya.” Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Ada, sebanyak 3 dinar.” Lalu beliau mensholati jenazah tersebut.
Kemudian didatangkan lagi jenazah ketiga, lalu para sahabat berkata, “Shalatkanlah dia!” Beliau bertanya, “Apakah dia meningalkan sesuatu?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.” Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka menjawab, “Ada tiga dinar.” Beliau berkata, “Shalatkanlah sahabat kalian ini.” Lantas Abu Qotadah berkata, “Wahai Rasulullah, shalatkanlah dia. Biar aku saja yang menanggung hutangnya.” Kemudian beliau pun menyolatinya.” (HR. Bukhari no. 2289)

4. Dosa hutang tidak akan diampuni meskipun mati syahid

Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang.” (HR. Muslim no. 1886)

5. Bahkan Rasulullah pun sering berdo’a dijauhkan dari hutang

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdo’a di akhir shalat (sebelum salam): ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang).”
Lalu ada yang berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kenapa engkau sering meminta perlindungan adalah dalam masalah hutang?” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika orang yang berhutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.” (HR. Bukhari no. 2397)

Bila Rasulullah yang kedudukannya di syurga saja sudah pasti selalu berdo’a diajuhkan dari hutang, mengapa kita yang belum jelas ini mudah sekali berhutang kemudian tak mau melunasi?

Itu saja sedikit sharing saya tentang hutang. Jadi intinya berhutang itu boleh, apalagi kalau penting dan kepepet. Yang tidak boleh itu NGGAK NIAT MBAYAR (Capslock dan bold jebol, haha).

Jadi buat yang punya hutang, termasuk saya, segera lunasi ya, termasuk hutang puasa karena sebentar lagi kan mau Ramadhan, hehe. Kalau saya punya hutang, mohon ingatkan, barangkali saya lupa. Tagih saja sekarang di dunia, jangan di akhirat nanti :(. Terima kasih. Semoga bermanfaat. 🙂

Sumber hadist : https://rumaysho.com/187-bahaya-orang-yang-enggan-melunasi-hutangnya.html

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *