Bedakah Pengasuhan Adik dan Kakak?

Bedakah Pengasuhan kakak dan adik?

Alhamdulillah di usia pernikahan yang hampir mencapai enam tahun, telah hadir dua balita di tengah keluarga kecil kami. Anak pertama saya laki-laki berusia 3 tahun 9 bulan, sedangkan anak kedua saya perempuan berusia 14 bulan.

Seorang blogger pernah menuliskan bahwa anak pertama dibesarkan dengan teori, anak kedua dibesarkan dengan pengalaman, anak ketiga dan seterusnya dengan begitu saja (tapi maaf saya lupa sumbernya). Dan menurut saya ungkapan ini ada benarnya juga.

Ketika hamil anak pertama, saya rajin sekali membaca buku tentang kehamilan, menyusui, dan semua hal yang berkaitan dengan perkembangan anak. Saya juga menjaga betul, makanan apa saja yang masuk ke dalam perut ketika hamil. Ketika abang telah lahir, abang juga kami jaga betul makanannya. Ia baru boleh makan snack yang dijual di toko ketika usianya menginjak sekitar dua tahun.

Bedakah Pengasuhan kakak dan adik

Abang dan adik ketika baru dilahirkan

Lain lagi dengan anak kedua. Ketika kehamilan anak kedua, saya lebih cuek.  Saya tidak terlalu menjaga makanan ketika hamil, Alhamdulillah tidak sampai mengakibatkan sesuatu yang buruk kepada adik. Saya masih membaca buku tentang menyusui dan parenting, tapi tidak serajin anak pertama dulu. Apalagi ketika hamil saya sibuk mengasuh si abang yang memang sedang aktif-aktifnya.

 

Baca juga: Beda kehamilan pertama dan kedua.

 

Perbedaan anak pertama dan kedua

 

Saya yakin tidak ada manusia yang sama persis di muka bumi ini, sekalipun mereka adalah kembar. Walau hanya sedikit, pasti ada bedanya. Begitu pula yang terjadi dengan kedua anak saya. Abang dan adik sepertinya memiliki kepribadian yang berbeda, meski mereka masih usia balita.

Abang yang lahir ketika saya belum punya pengalaman sama sekali tentang mengasuh anak, dengan kondisi emosi yang labil ketika hamil, serta agak stres dan lemah setelah melahirkan, tumbuh menjadi anak yang agak sensitif. Perasaannya lembut sekali. Salah sedikit, dia bisa langsung menangis.

Sedangkan adik, dia lahir ketika saya sudah punya sedikit pengalaman bagaimana mengasuh bayi, lebih stabil emosi ketika hamil, dan setelah melahirkan, saya lebih enjoy dan tenang. Hasilnya adik sepertinya jadi pribadi yang lebih tangguh dan tak gampang menangis, meski di usianya yang masih balita. (Ini bila dibandingkan dengan abang ketika seusia adik, ya).

Dengan menyadari perbedaan ini, saya mencoba lebih bersabar ketika ternyata abang menangis saat jatuh, sementara adik biasa saja, padahal jatuh dengan kondisi yang sama, karena bagaimanapun, mereka lahir dalam keadaan yang berbeda.

 

Persamaan abang dan adik: Sama-sama tumbuh di zaman gadget sedang naik daun

 

Bila mak Nia Haryanto cerita tentang beda usia, beda pola pengasuhan, dimana keempat anaknya tumbuh di zaman yang agak berbeda, anak keduanya lahir di tahun 2005 ketika internet dan gane belum seperti sekarang,  sedangkan anak ketiganya lahir  ketika game dan internet sudah sangat umum. Mungkin ini pula yang menyebabkan anak ketiga lebih pemalu dibandingkan anak kedua, sehingga beliau pun membuat pola asuh yang berbeda antar keempat anaknya.

Berbeda dengan mak Nia, kedua anak saya lahir ketika gadget dan internet sudah sangat marak. Abang lahir di tahun 2014 dan adik di tahun 2017. Akhirnya bahkan ketika abang belum genap berusia 2 tahun, kami sudah mengenalkannya dengan film Boboiboy dan film kartun lainnya, dengan durasi yang semau abang. Memang saya jadi sedikit lebih leluasa untuk mengurus rumah, tapi yang terjadi kemudian adalah abang jadi sering mengamuk dan gampang marah, terutama ketika tidak diperbolehkan menonton film kesukaaannya.

Karena ini pula, mungkin kami akan tidak terlalu mudah membiarkan si adik menonton film atau bermain gadget, mengingat abang yang juga sudah mulai dibatasi dalam bermain gadget. Abang dan adik kami kenalkan dengan berbagai kegiatan, asal jangan hanya duduk diam bermain gadget.

Bedakah Pengasuhan kakak dan adik?

Abang dan adik bermain peran di salah satu playground di Surabaya.

Mereka bisa bermain banyak hal, seperti keliling di perumahan, main tanah, ke sawah, ke pantai atau sekedar membaca buku dan bermain di rumah. Meski karena ini rumah hampir tidak pernah rapi, tapi semoga bisa membawa pengaruh baik untuk perkembangan mereka.

Begitulah kami mengasuh kedua anak kami. Tidak ada rumus khusus, yang penting selalu belajar.  Bila ternyata ada yang salah atau kurang ketika mengasuh anak pertama, kami akan berusaha memperbaiki di pengasuhan anak kedua dan seterusnya. Tidak ada niat membedakan atau pilih kasih, semua anak kami coba untuk selalu mendapatkan terbaik dari yang kami punya. Semoga kami bisa senantiasa menjadi orang tua yang terbaik untuk anak-anak kami, Aamiin. Kamu juga punya pengalaman mengasuh dua anak atau lebih? Sharing di kolom komentar yuk! Semoga bermanfaat. 🙂

3 comments

  • Anakku 4 tahun kenal gadget dari bayi, tapi Alahamdulillah banget ga ketagihan dan ga ngamuk kalau ga dikasih pegang hp sama saya 😅 Apalagi sekarang sudah ada adeknya, jadi mainnya bareng aja tanpa gadget 🙂

  • Jaraknya lumayan ya Mak. Aku sendiri anak anak juga rapeeet. Kalau kakak kakaknya cuma beda 21 bulan jadi kaya ngurus anak kembar hahah. Semua maunya sama, gak mau dibedain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *