Beli Tanah Tanpa Riba? Bisa!

Alhamdulillah, beberapa bulan yang lalu, akhirnya kami bisa memiliki sepetak tanah secara resmi di daerah Paiton. Sebelumnya kami telah melunasi semua pembayarannya sekitar Februari 2017 lalu. Namun karena berbagai kendala, akhirnya kami baru bisa mendapatkan sertifikat kepemilikan bulan Desember 2017 lalu. Lega sekali rasanya, urusan tanah ini akhirnya selesai. Mulai dari cicilan, hingga sertifikat.

Tanah ini awalnya kami beli dengan niat untuk dibangun rumah di atasnya, namun ternyata sejak 2014 lokasi tanah ini dijual hingga kini, belum ada yang membangun rumah di sana. Karenanya, kami pun urung membangun rumah di atas tanah tersebut. Ke depan, kemungkinan kami berencana untuk menjualnya saja (barangkali ada yang berminat membeli sepetak tanah di Paiton, silahkan hubungi saya ya, #malahjualan haha).

Baca juga: Perhatikan 7 Hal Berikut Bila Ingin Membeli Tanah.

Alhamdulillahnya lagi, akhirnya kami bisa membeli tanah ini Insyaallah tanpa transaksi riba. Hal yang biasanya digembar-gemborkan para penjual tanah atau developer, bahwa zaman sekarang tak kan bisa membeli tanah atau rumah tanpa riba, akhirnya kami buktikan sendiri bahwa memang bisa, selama kita mau berupaya dan terus yakin bahwa Allah bersama hambaNya yang mau berusaha.

Jadi waktu hendak membeli tanah dulu, kami tak memegang uang sebanyak harga tanah tersebut. Karena langkah awal bila ingin membeli tanah tanpa riba adalah membeli tunai.

Selanjutnya, kami pun menghubungi si penjual tanah, melakukan negosiasi boleh atau tidaknya kami mencicil saja tanah tersebut, tapi tanpa melalui bank. Alhamdulillah, si pemilik tanah bersedia agar tanahnya bisa dibeli melalui cicilan tanpa perantara bank. Waktu itu kami memiliki sejumlah uang untuk dp saja. Dan dalam jangka waktu tiga tahun, kami pun sudah melunasi cicilan tanah tersebut.

Sebenarnya, bila pemilik tanah tidak berkenan seperti yang saya jelaskan di atas, kita bisa melobi saudara atau teman dekat yang paham bahaya riba dan mereka memiliki uang dalam jumlah yang lumayan banyak. Jadi kita bisa minta tolong saudara atau teman tadi membeli tunai tanah tersebut, lalu kita mencicil langsung ke kerabat kita, tanpa perlu ke pemilik tanah tadi, karena sekarang tanahnya sudah jadi milik kerabat kita.

Kelihatannya agar ribet ya, tapi bila kita tahu betapa dosa riba itu amat berat, maka kita seharusnya lebih bergidik ngeri dibuatnya.

Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya)

Sumber : https://rumaysho.com/358-memakan-satu-dirham-dari-hasil-riba.html

Agar tak mudah terjerat riba, kita harus pandai bersyukur dan bersabar. Bila  belum mampu, bersabar sambil menabung sedikit demi sedikit. Bila terpaksa harus berhutang, jangan dengan jalan riba!

Sudah banyak buktinya banyak orang yang tersiksa dan melarat karena riba. Ada yang tak bisa menikmati gajinya sepeser pun karena riba, ada yang sampai tua terus berjuang untuk melunasi hutang ribanya, ada yang bahkan bunganya saja tak bisa dilunasi, karena telah beranak pinaknya hutang tersebut. Bahkan di dalam Al-Qur’an, Allah dan Rasul mengajak perang mereka yang melakukan riba. Dalam hal ini bukan hanya yang berhutang, namun si pemberi hutang riba, pencatat, saksi semuanya sama. Jangan-jangan carut marut negara kita saat ini terjadi salah satunya karena riba ada dimana-mana. 🙁

Semoga Allah senantiasa menjaga diri dan keluarga kita dari harta atau transaksi riba. Aamiin.

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *