Bentuk Kerjasama Ayah dan Ibu dalam Pengasuhan Anak

Seorang anak adalah benih cinta dari ayah dan ibunya. Hadirnya seorang anak ke muka bumi bukan hanya karena sang ibu melahirkannya, namun juga ada peran ayah lewat cairan spermanya. Karenanya, seharusnya semua urusan terkait pengasuhan dan pendidikan sang buah hati, bukan hanya menjadi tugas sang ibu. Meski ayah harus sibuk bekerja di luar dan ibu hanya di rumah, tidak serta merta membuat semua kewajiban pengasuhan anak dapat diserahkan hanya kepada ibu, tanpa ayah ikut campur di dalamnya.

Dalam islam sendiri, memang tugas seorang wanita setelah menikah dan memiliki anak adalah al-ummu madrosatul ula, ibu adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya. Lalu kemana ayah? Apakah semua hanya tugas ibu? Nah, si ayah bertugas sebagai kepala sekolahnya. Sebagai kepala sekolah, seorang ayah bertugas memastikan bahwa semua infrastruktur, fasilitas, kenyamanan pendidik dan murid, semuanya telah terpenuhi dengan baik, sehingga akan terselenggaranya sebuah pendidikan yang baik. Selain itu, seorang kepala sekolah seharusnya tidak hanya bekerja dari meja kerjanya, melainkan juga turut langsung memantau dan meninjau langsung ke lapangan. Maksudnya, seorang ayah sesekali juga harus ikut mengasuh dan mendidik anak secara langsung, agar bukan hanya bonding antara ibu dan anak yang tercipta, tapi juga antara ayah dan anak. Para pakar parenting telah sering memaparkan, bahwa anak yang dekat dengan ayahnya, akan memberikan banyak dampak positif bagi sang anak. Diantaranya lebih percaya diri, semangat, dan cerdas. Karena kebutuhan nuraninya telah tercukupi dengan dekatnya si anak dengan ayah dan ibu, sehingga ia lebih siap menerima ilmu atau pengaruh dari luar. Makanya, penting sekali bagi para wanita yang ingin menikah, pastikan bahwa kalian tak salah memilih calon ayah untuk anak-anakmu kelak. Perhatikan bagaimana pandangannya tentang pengasuhan anak, apakah ia peduli, atau akan memasrahkan semuanya pada sang istri.

Baca juga: Miliki 10 hal ini sebelum memutuskan menikah muda.

Ketika menikah, saya memang tak membahasnya secara spesifik kepada mas suami mengenai perkara ini, namun dalam praktiknya, saya tak segan meminta bantuan suami untuk turut serta dalam pengasuhan anak-anaknya. Meskipun kadang hanya sedikit dan sederhana, bagi saya semua perhatiannya kepada anak-anak adalah bantuan yang sangat saya syukuri. Apa saja bentuk perhatian suami kepada anak-anak?

1. Mengajak ngobrol calon bayi dalam kandungan

Jadi semuanya bermula ketika testpack saya akhirnya bergaris dua. Setelah satu tahun lamanya kami menunggu, akhirnya saya dinyatakan hamil. Dan pendidikan pun sudah dimulai dari sini. Sewaktu saya hamil dulu, suami sering membacakan al-qur’an di dekat perut saya. Selain itu, mas suami juga sesekali mengajak anaknya mengobrol, mengabari apa yang terjadi di dunia luar.

2. Memberikan nama yang baik untuk anak-anaknya

Saya percaya, nama adalah do’a, karenanya sebelum anak-anak lahir, kami telah membahas nama apa yang akan diberikan kepada anak. Mulai dari arti nama, dan harapan apa yang didapatkan dari nama tersebut.

3. Menyuapi dan memandikan anak-anak ketika saya mengerjakan yang lain

“Bi, tolong suapin dulu ya, Ummi sakit perut.” Pinta saya ketika panggilan alam memaksa mengentikan proses suap menyuap para bocah. Di lain waktu, ” Bi, tolong mandiin dulu ya, Ummi mau masak.”

Jadi sesekali saya pun meminta bantuan suami untuk menyuapi anak-anak, memandikan, bahkan membersihkan ketika anak-anak pup. Agar suatu saat bila saya sedang tak di rumah, anak-anak mau dibantu Abinya.

4. Ikut main bersama anak-anak

Kadang mas suami juga ikut bermain bersama anak-anak, meski permainannya kadang beda sekali dengan permainan yang biasa saya mainkan dengan anak-anak. Bila bersama saya, biasanya anak-anak main mewarnai, tuang-menuang air, atau membuat sesuatu, nah bila dengan ayahnya, biasanya mereka main pukul guling, lari-lari, atau lainnya yang sifatnya fisik.

5. Membacakan buku untuk anak-anak

Kegiatan lain yang sering dilakukan mas suami bersama anak-anak adalah membacakan mereka buku. Karena kadang saya juga tak bisa selalu membacakan buku pada anak-anak. Selain itu, ayahnya punya gaya sendiri bila membacakan buku.

6. Mengajak anak-anak jalan-jalan

Bila saya harus mengikuti pengajian, sementara Abinya libur, kadang mas suami akan mengajak si Abang keliling mengitari sawah atau kampung. Pulangnya, si Abang akan bercerita banyak sekali apa saja yang telah dilihatnya hari itu.

7. Mengajak si Abang ke masjid setiap sholat di masjid

Kini rutinitas baru si Abang bila mas suami sholat di masjid adalah ikut Abinya lalu turut sholat berjamaah. Sudah hampir setahun ini kebiasaan ini kami coba bangun. Selain agar ia terbiasa sholat di masjid, juga agar dia tahu bagaimana biasanya kebiasaan seorang laki,-laki.

Itu saja sedikit bantuan atau bentuk kerja sama yang kami lakukan di rumah. Suami yang membantu istrinya di rumah tak kan membuat wibawanya hilang, malah bertambah. Kini, bila mas suami bekerja, orang yang selalu ditanyai sedari pagi hingga sore adalah Abinya. “Mana Abi Mi? Kok nggak pulang-pulang?’. Begitu tanya si kecil.

Jadi, sudahkah kita bekerja sama dengan suami dalam pengasuhan anak-anak? Semoga bermanfaat ya. 🙂

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *