Bidang Usaha Ini Pernah Saya Tekuni Sambil Menjadi Ibu Rumah Tangga

Wirausaha sambil jadi IRT

Bidang usaha yang saya tekuni saat jadi IRT.

Sejak kecil, saya sudah terbiasa berdagang. Sebelum masuk SD, Emak sering meminta saya menjajakan panenan hasil kebun atau hasil tangkapan ayah dari laut keliling kampung. “Cabik, cabik, cabik..”. Begitu gaya saya berjualan keliling kampung, menjual cabik yang berarti cabe.

Ketika SD, mungkin sekitar kelas 4 atau 5, saya juga berjualan kembali. Saya jualan es lilin milik tetangga. Kala itu harganya masih Rp 500, setiap jam istirahat saya keliling menjual es, meski tak begitu laku karena saya masih malu-malu. Untung yang saya dapat pun tak seberapa, cuma satu atau dua es lilin tersebut, haha.

Saat SMP, saya tidak berjualan. Kala itu saya sibuk ikut macam-macam kegiatan ekstra kurikuler. Barulah saat SMA, saya mulai berdagang lagi. Awalnya ketika pulang ke rumah, Emak selalu membawakan saya telur asin. Lalu ada teman-teman yang tertarik, dan saya pun menjualnya. Uangnya saya gunakan untuk beli jajan. Selain itu, saya juga buka usaha pijat. Jadi teman-teman yang mau dipijat, akan saya pijat tapi bayar, murah, hanya berapa ribu. Selain itu saya juga buka usaha laundry, teman-teman yang malas mencuci atau sakit, bisa meminta saya mencucikan bajunya tapi bayar.

Tapi karena semua hanya sebatas iseng dan menambah sedikit uang jajan, saya berhenti melakukan semuanya setelah lulus SMA. Mungkin bila saya serius menekuninya, saya bisa buka usaha laundry atau jualan telur asin, haha. Ini juga asal mula saya berkeinginan menjadi peternak bebek dan berjualan telur asin ketika menikah.

Ketika kuliah, saya pun mulai berdagang lagi. Kali ini tidak mengambil untung, niatnya menolong ibu kos. Jadi Beliau membuat keripik pisang lalu membungkusnya, kemudian saya yang akan menjualnya kepada teman sekelas. Lumayan, setiap dibawa ke kelas, dari 20 bungkus, sisa 4 atau 5. Saya juga pernah jualan pulsa, tapi langsung bangkrut, karena banyak yang hutang, haha.

Lalu saya pernah menang lomba wirausaha bersama teman saya, jualan kaos oleh-oleh Bangka. Sebenarnya lumayan laku, tapi kami Kkewalahan mengurusnya sejak kami mulai praktik kerja lapangan ke luar daerah. Ketika menulis ini saya jadi ingat masih punya hutang laporan kepada pihak kampus.

Ketika kuliah saya juga pernah jualan baju. Jadi di Sungailiat ada seorang penjual baju muslim yang dagangannya lumayan banyak dan lengkap. Hanya bermodalkan kepercayaan, kita bisa membawa baju-baju milik pedaganh tersebut, nanti kita akan dapat fee dari hasil penjualan baju-baju tersebut. Jadi setiap minggu saya pulang dari kosan dari Sungailiat ke Pangkalpinang, sekitar 30 km, saya membawa buntelan berisi baju di bagian depan motor, persis seperti ibu-ibu, haha. Lalu saya akan jualan keliling kampung. Ada yang membeli tunai, ada yang kredit, setiap minggu saya tagih keliling. Alhamdulillah tidak ada yang sulit diminta membayar. Selain mengambil barang di pedagang di Sungailiat, sesekali saya juga mengambil barang langsung di pasar. Untungnya lumayan, untuk barang yang kecil seperti daleman jilbab, bisa untung 3 sampai 4 ribu. Untuk kerudung polos, bisa untung 10 hingga 15 ribu.

Kemudian saya pun menikah dan meninggalkan semua usaha yang pernah saya tekuni. Meski saya belum pernah merasakan omset puluhan bahkan ratusan juta seperti pengusaha sukses lainnya, ternyata ketika menikah dan menjadi ibu rumah tangga yang full di rumah, lalu dikaruniai anak, saya juga masih terus berwirausaha. Apa saja? Saya coba listkan ya:

1. Jualan aneka baju muslim

Jadi di awal menikah, saya sempat jadi penjual baju muslim. Mulai dari jilbab, gamis, baju anak, dan lainnya. Waktu itu belum musin instagram. Jualannya masih melalui fanpage di facebook. Hasilnya lumayan, tapi saya sering kesulitan menemukan foto yang pas dan kemudian ada anak-anak. Saya semakin repot, lalu jualan ini pun saya tinggalkan. Tantangannya adalah ketika harus mengambil foto real barang lalu menjawab chat yang masuk, kemudian mengantarkan paket ke ekspedisi. Tapi sekarang kan sudah ada ekspedisi yang bisa ambil ke rumah. Kalau dulu rasanya repot sekali. Apalagi bila sedang kompak sakit bertiga seperti kami kemarin. Untungnya bukan gejala tipes yang mengharuskan dirawat di rumah sakit. Hanya flu biasa yang bisa sambil dirawat di rumah.

  1. Jualan pie susu

Sebenarnya jualan ini lumayan menghasilkan. Prosesnya lumayan cepat dan praktis. Saya buka pre order, ada yang pesan, lalu saya beli via online. Tapi sayangnya supliernya kurang amanah. Mungkin karena kebanyakan pesanan, mereka sering seperti meremehkan pesanan saya. Ada beberapa orderan yang salah, dan selalu terjadi bila saya memesan pie susu. Karena ini sistemnya pre order, saya juga dibuat kebingungan dan tak enak kepada pemesan. Akhirnya saya putuskan saja berhenti.

  1. Jualan jamu

Yang ini agak repot, harus antar mengantar. Selain itu minimum pembelian banyak, harus minimal 30 pcs. Lagi-lagi karena repot, saya pun memutuskan berhenti.

  1. Jualan gendongan bonceng

Ini karena waktu itu ada promo gendongan murah, lalu saya iklankan di toko online. Mungkin karena harganya kemahalan, jadi tidak terlalu laku.

  1. Menulis di blog

Saya anggap ini juga sebagai usaha. Karena saya juga mendapatkan sedikit penghasilan dari menulis. Meski kadang saya juga masih berubah-ubah semangat menulisnya, tapi hanya dengan menulis ini saya bisa enjoy dan tak terlalu repot. Saya bisa menulis di kala anak-anak tidur. Bahkan bisa disambi masak atau lainnya. Akhirnya tinggal menulis lah yang saya geluti dari awal menikah hingga kini.

 

Saat ini memang belum ada omset puluhan atau ratusan juta yang saya dapatkan. Tapi saya mencoba berpikir positif, bila anak-anak sudah besar dan bisa ditinggal nanti, saya bisa fokus berwirausaha atau mengolah blog. Biarlah saat ini semuanya masih disambi momong anak, karena memang mereka lah yang utama saat ini. Semoga curhat saya sore ini ada manfaatnya ya. Atau Ibu-ibu juga punya cerita tentang wirausaha? Sharing di kolom komentar ya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *