Cara Memakai Hijab Ala Buku Yuk Berhijab

 

Jilbab, jilbab putih,

Lambang kesucian.

 

Tahu lagu qasidah itu nggak ya? Dulu ketika awal-awal SMP, lagu ini sering terdengar, meski saat itu jilbab belum seramai sekarang. Berita baiknya, alhamdulillah semakin ke sini, makin ramai perempuan menutup auratnya. Bukan hanya rakyat biasa, bahkan para artis wanita semakin banyak yang berduyun-duyun ingin menutup aurat. Sebenarnya bukan fenomena yang buruk, tapi sayangnya, banyaknya yang menutup aurat tidak dengan mengikuti ketentuan syariat. Bahkan kadang ada yang sekedar ikutan tren atau mode. Semoga kita tidak seperti ya, Aamiin.

Seperti sebuah robot yang dijalankan sesuai instruksi si pembuatnya, sudah seharusnya kita para muslimah menutup aurat sesuai dengan aturanNya. Bagaimana? Biar lebih praktis, saya coba rangkumkan cara menutup aurat bagi wanita muslimah ala buku Yuk Berhijab karya Ustadz Felix Siauw dan Emeralda.

Apa itu aurat?

Secara makna syariat, aurat adalah bagian tubuh yang haram dilihat, dan karena itu harus ditutup. Khusus bagi muslimah, auratnya adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangannya.

‘Aisyah ra meriwayatkan, suatu waktu Asma’ binti Abu Bakar datang menemui Rasulullah Saw. dengan pakaian tipis. Tatkala melihatnya, Rasulullah memalingkan wajahnya dari Asma’, lalu bersabda:

” Wahai Asma’! Sesungguhnya wanita apabila sudah balig, tidak boleh dilihat darinya kecuali ini dan ini.” Beliau menunjuk ke muka dan telapak tangannya. (HR. Abu Dawud)

 

Berdasarkan pengertian dan penjelasan di atas, maka kaki dan lengan merupakan aurat yang juga harus ditutup.

Kapan kita harus menutup aurat?

Islam sebagai agama yang memuliakan wanita, membagi dua kehidupan wanita, yaitu kehidupan umum (hayatul ‘am) dan kehidupan khusus (hayatul khash).

Kehidupan khusus yaitu bila seseorang harus meminta izin untuk masuk ke dalamnya. Sementara kehidupan umum bila seseorang tidak memerlukan izin untuk berada di dalamnya. Kehidupan khusus ini adalah tempat wanita beraktivitas di dalamnya bersama mahramnya atau bersama muslimah lainnya, seperti di rumah atau kos. Seperti yang tertulis di Qs. An. Nur 27:

” Hai orang-orang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu, sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (Qs. An-Nur: 27)

Nah, ketika kita berada di hayatul ‘am bersama dengan mahram kita, tentu kita tidak perlu menutup aurat dengan pakaian lengkapnya sebagaimana keluar rumah. Kecuali bila di dalam rumah ada orang lain selain mahram.

Siapa saja mahram?

 

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (Qs. An Nur: 31)

 

Jadi kurang lebih yang tertulis di surah An Nur ayat 31 inilah yang merupakan mahram seorang wanita muslim.

Bagaimana wanita harus menutup aurat?

Ketika di luar dari kehidupan khusus atau ketika ada lelaki bukan mahram, wanita diwajibkan menutup auratnya. Di dalam buku Yuk Berhijab, Ustadz Felix Siauw merangkum beberapa penjelasan mengenai alasan bahwa pakaian syar’i penutup aurat atau hijab terdiri dari tiga, yaitu: pakaian rumah (al-tsaub), dirangkapkan jilbab (gamis) di luarnya, dan khimar (kerudung) yang menutupi kepala, leher, hingga batas dadanya. Panjangnya jilbab, harus menjulur sampai mata kaki, agar aurat bisa tertutup dengan sempurna. Sedangkan kaus kaki adalah salah satu cara yang bisa dipakai agar kaki tidak terlihat.

Larangan ketika menutup aurat

1.Menyerupai punuk unta

” Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR Muslim).

2.Berpakaian tapi telanjang

Yaitu memakai pakaian tipis sehingga membentuk lekuk tubuh atau bagian dalam tubuhnya dan juga wanita yang berpakaian tapi kosong dari amalan kebaikan serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah.

3.Tabarruj

Tabarruj adalah perbuatan wanita yang menarik perhatian lelaki baik yang diniatkan atau tidak. Bisa dengan riasan yang berlebihan, parfum atau tingkah yang menggoda.

 

Itulah sedikit ringkasan bagaimana memakai hijab yang syar’i seperti yang ditulis di buku Yuk Berhijab karya Ustadz Felix Siauw dan Emeralda. Sejatinya, menutup aurat dan mengenakan hijab adalah cara Islam menjaga wanita agar tetap terlindungi. Maka jangan ditambah-tambahi atau dikurangi dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan syariat. Bukankah para sahabat di zaman Rasul langsung begitu saja membuang semua khamr yang dimiliki begitu turun ayat tentang larangan minum khamr? Atau para shahabiyah yang langsung menarik begitu saja gorden ketika ayat tentang hijab turun? Karena mereka samiknah wa’ato’nah. Kami dengar dan kami taat. Semoga kita juga bisa meneladani teladan para sahabat. Yuk hijab tanpa nanti dan taat tanpa tapi. Semoga bermanfaat. 🙂

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *