Catatan Perjalanan Probolinggo-Mojokerto dengan Kereta Probowangi

Kereta probowangi

Catatan perjanalanan dengan kereta Probowangi.

Kamis tanggal 22 Februari yang lalu, kami sekeluarga, saya, anak-anak dan suami akhirnya berkesempatan pulang mengunjungi Mbah Kung dan Mbah Uti anak-anak di Mojokerto. Kali ini kami mau mencoba naik kereta Probowangi, Probolinggo Banyuwangi. Jadi rute kereta ini mulai dari Surabaya sampai Banyuwangi. Kami memesan tiket melalui situs belanja tokopedi*. Untuk jadwal, kereta ini berangkat jam 4.30 pagi dari Surabaya, jadi sekitar jam 6 pagi tiba di stasiun Probolinggo. Tapi kali ini kami memilih perjalanan malam.

Sebenarnya kereta baru berangkat jam 7 malam, tapi berhubung jarak rumah dengan stasiun lumayan jauh, lalu belum tentu ada angkutan ke arah sana setiap waktu, maka jam setengah 4 sore kami sudah siap menunggu bus di pinggir jalan. Karena di Paiton tidak ada stasiun, jadi kami harus naik bus baru bisa berangkat ke stasiun. Untunglah keretanya dijadwalkan sore hari, jadi tak perlu takut terkena sinar uv terlalu lama bila di siang hari.

Setelah menunggu beberapa saat, kira-kira jam setengah 5 sore akhirnya kami bisa naik bus. Busnya padat sekali, membawa orang-orang yang baru pulang kerja. Awalnya kami semua berdiri, saya harus berdiri sambil menggendong si adik, suami dan Abang juga berdiri. Tapi karena si Abang terus merengek minta tempat duduk, seseorang rekan kerja suami akhirnya mengalah, memberi tempat duduk, sementara ia pindah duduk di depan dekat kernet.

Akhirnya Abang duduk dengan ibu2 tua, lalu aku dan si adik duduk di sebelahnya, Alhamdulillah. Sekitar jam 5 sore kami pun tiba di stasiun Probolinggo. Suasananya berubah sedikit. Di luar ada kolam ikan yang banyak ikannya.

Stasiun Probolinggo

Kolam ikan di halaman stasiun Probolinggo.

Sementara kini semua sudah sistem digital. Tiket tinggal di ketik di komputer lalu dicetak. Mau masuk tinggal di scan tiketnya sambil menunjukkan e-ktp.

Stasiun Probolinggo

Petugas mendata penumpang yang sudah masuk dengan sistem komputerisasi. Tinggal tempelkan tiket pada alat, selesai.

Sekitar jam 7 malam, kereta probowangi tiba. Sesuai waktu perkiraan. Alhamdulillah tadi kami sudah sholat maghrib dijamak dengan isya di mushola stasiun. Oh ya, di stasiun juga terdapat ruang khusus untuk ibu menyusui. Selain itu musholanya juga bagus, rapi, dan bersih.

Stasiun Probolinggo

Ruang menyusui di stasiun Probolinggo

Sesampainya di dalam kereta, kami langsung mencari nomor tempat duduk kereta sesuai tiket. Ternyata ada yang menempati kursi kami, tapi begitu kami menunjukkan nomor kursi tertera di tdi tiket, mereka mahfum lalu pindah. Suasana kereta sudah enak, tidak ada rokok dan menggunakan AC. Malam itu kereta agak penuh, mungkin karena hampir akhir minggu. Lalu kami pun bebas menyelonjorkan kaki sementara si Abang sibuk dengan celotehannya. Salah satu yang saya senangi ketika naik kereta adalah bebas menyelonjorkan kaki dan bisa lebih santai dibandingkan di bus. Sayang kadang stasiun jauh dari tempat tujuan atau jadwalnya yang tidak fleksibel.

Jam 9 malam kami turun di stasiun waru. Dari stasiun waru kami naik grab car ke terminal Bungur. Hanya bayar Rp 10.000 kami sudah bisa merasakan enaknya disupiri mobil ber-AC.

Sesampainya di terminal Bungur, kami langsung memilih bus. Beruntung suami sudah terbiasa naik bus, jadi tak perlu meladeni para calo yang bertanya tujuan. Karena mertua pernah menjawab dan meladeni, malah dapat bus yang tak sesuai harapan. Kami naik bus arah Jogja yang tiap berapa menit sekali berangkat.

Alhamdulillah sekitar jam 11 kami sampai di Mojokerto. Sebelum sampai di rumah mertua, kami makan mie ayam langganan terlebih dahulu untuk mengganjal perut. Demikianlah catatan perjalanan kami kali ini. Semoga ketemu di catatan perjalan kami lainnya. Sampau jumpa. 🙂

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *