Cerita Mudik dan Idul Fitri 1439 H

Cerita mudik dan lebaran 1439 H.

Perjalanan mudik ke Bangka lebaran kemarin.


Alhamdulillah tak terasa ya, sebulan berlalu begitu cepat. Rasanya baru saja awal puasa, tak tahunya sudah idul fitri saja. Rasanya baru kemarin beramai-ramai sholat di masjid, tak terasa sebentar lagi sudah di penghujung syawal.

Lebaran kali ini, Alhamdulillah kami bisa mudik ke Bangka selama 19 hari. Saat mudik, kami menggunakan berbagai mode transportasi darat. Mulai dari bus, kereta, mobil, hingga pesawat. Mudik kali ini ada dua balita heboh yang membersamai kami. Si kakak yang  berusia hampir 4 tahun dan si adik yang berusia 1 tahun 4 bulan. Jadi tiket pesawat adik tahun ini masih belum bayar sepenuhnya, hanya 10% dari harga tiket orang dewasa atau sekitar 100 ribuan.

Seminggu sebelum lebaran, kami pulang ke Bangka. Menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan. Tanggal 26 sore, sekitar jam 4 sore kami berangkat menuju Probolinggo dengan naik bus. Alhamdulillah tak terlalu lama busnya datang.

Mendekati stasiun, kami berhenti dan naik angkot tujuan stasiun Probolinggo. Kami sampai di depan stasiun ketika magrib. Untungnya di alun-alun Probolinggo di depan stasiun banyak yang menjual aneka takjil, sehingga kami tak perlu bingung mau berbuka dimana.

Setelah sholat dan makan, kami langsung menuju stasiun kembali. Pukul 7 malam, kereta Probowangi pun berangkat. Sekitar jam 9 malam kami tiba di Stasiun Waru, lokasi terdekat dengan Stasiun Juanda. Karena kami baru akan berangkat esok harinya, malamnya kami menginap terlebih dahulu di Hotel Walan Syariah.

Alhamdulillah, kami hanya perlu membayar sekitar Rp 60.000an saja untuk menginap di hotel ini, dari harga normal di airy rooms sekitar 200 ribuan. Karena dapat voucher menginap di airy rooms sebesar Rp 150.000 dari local guide. Sejak itu saya semakin semangat update info di local guide, mungkin kalau levelnya makin tinggi, potontannya juga makin besar, haha (dasar emak-emak).

Ini adalah kali ketiga kami menginap di Hotel Walan Syariah. Mengapa kami kembali?

  1. Ada fasilitas antar atau jemput bandara gratis,
  2. Jam makan mulai dari jam 3 pagi, jadi cocok yang bepergian ketika puasa,
  3. Ada layanan morning call, untuk membangunkan tamu,
  4. Konsep hotelnya nggak neko-neko, tidak ada patung atau hiasan aneh.

Selain itu, ketika menginap di sana kemarin, ada dispenser plus galon plus airnya di depan kamar kami, sehingga tak perlu bingung mencari minum. Ditambah lagi ada bonus camilan dari airy rooms. Terima kasih Mba’ blogger Surabaya yang sudah memberi tahu kami tentang hotel ini.

Pagi harinya, kami sahur di hotel. Menunya lumayan beragam, hanya nasi yang sudah dipastikan menunya per setiap tamu, mungkin agat tahu harus masak berapa banyak. Saya memilih nasi sop, suami nasi goreng. Di ruang makan disediakan buah, puding, kolak, kerupuk, roti, teh, kopi, sirup, dan air putih.

Sekitar jam 8 pagi, kami diantar menuju Bandara Juanda. Kala itu hanya kami tamu yang diantar. Sebelumnya saya sempat memesan lapis kukus Surabaya melalui go food untuk oleh-oleh, tapi ternyata bukan yang biasanya kami beli, tapi rasanya masih lumayan. Pesawat kami dijadwalkan berangkat jam 9.55, kami terbang bersama Sriwijaya air. Awalnya jadwal kami jam 06.00 pagi, dimajukan menjadi jam 05.00 pagi, karena takut terburu-buru, akhirnya kami minta diundur hingga pukul 9.55 pagi.

Kami sampai di Bangka sekitar jam 4 sore. Karena sebelumnya sudah sholat dijamak dzuhur dan ashar, kami tinggal menunggu berbuka saja. Ternyata antara Bangka dan Jawa Timur perbedaan waktu buka hingga 40 menit, hehe.

Selama di Bangka kami tidak bisa pergi kemana-mana. Kakak dan istrinya kecelakaan, sehingga harus masuk rumah sakit, Emak dan Ayah juga harus bolak-balik ke rumah sakit, akhirnya kami harus di rumah menjaga keponakan yang orang tuanya sakit. Selain itu bepergian saat puasa kurang menyenangkan, jadi kami putuskan untuk bepergian setelah lebaran.

Lebaran pertama dan kedua kami sempatkan silaturahim ke keluarga dan tetangga. Namun apa daya, mulai lebaran kedua hingga hari ke sepuluh lebaran, kami dan anak-anak gantian sakit. Awalnya adik panas, batuk pilek. Lalu adik sembuh, abang lanjut panas, lalu kemudian saya sendiri. Akhirnya mau tidak mau kami baru jalan-jalan hari minggu sekalian kondangan adik kelas di Sungailiat.

Ternyata mudik kali ini kami memang tidak diizinkan untuk terlalu lama jalan-jalan, ketika di Sungailiat, seharian hujan deras, sehingga kami tidak bisa kemana-mana. Awalnya mau silaturrahim ke teman SMA saya, akhirnya urung. Untung sore harinya kami masih sempat bertamu ke rumah Mugi dan Adek Rahayu, lalu dengan mobil Adek kami diantar main ke rumah Trian dan pulang ke penginapan (karena hujan deras, sementara kami tidak membawa jas hujan). Oh ya, kami jalan-jalan dari Pangkalpinang ke Sungailiat dengan sepeda motor. Untuk penginapan saya ceritakan di postingan lain ya, hehe.

Selain hujan, ternyata ada tragedi lain. Malam hari ketika main di rumah Adek, abang dan Dzar anaknya adek main loncat di kasur. Apa yang terjadi? Bibir abang tabrakan dengan kepala Dzar, haha. Akhirnya bibirnya pun dower. Alhamdulillah tidak terlalu parah, hanya lecet sedikit.

Pagi harinya, masih dengan suasana mendung, kami putuskan main ke Pantai Matras Sungailiat. Adik dan abang senang sekali. Kami mandi air pantai sepuasnya. Setelah itu, kami mampir di De Locomotive, pantai yang sedang viral di sosial media orang Bangka, hehe. Banyak spot foto dan ada penyu. Bayarnya pun murah, hanya Rp 5.000 per orang. Andai pengelola mau sedikit berupaya lagi, seharusnya De Locomotive bisa lebih cantik dari sekarang.

Sepulang dari pantai, kami mampir ke rumah Yuk Elia, salah satu ibu kos sewaktu kuliah. Sayang ternyata pagi harinya ia sudah berangkat ke Yogyakarta. Setelah itu kami menuju rumah Ayim, teman sekelas waktu SMA. Setelah dari rumah Ayim, kami langsung menuju Pangkalpinang. Pulang dari rumah Ayim, ternyata ada tragedi lagi. Setelah sebelumnya mampir beli oleh-oleh untuk rabu esoknya, kami mampir dulu di pinggir jalan membeli buah. Si abang di belakang sementara Mas suami duduk di motor sambil memegang kardus oleh-oleh. Abang yang ragu antara turun atau tidak, akhirnya jatuh dari motor, huhu. Bibirnya yang awalnya hampir sembiuh, kini bertambah dower. Alhamdulillah hanya lecet saja dan sekarang semakin membaik.

Kami pulang hari rabu tanggal 27 Juni. Jadi total 19 hari kami di Bangka, Alhamdulillah. Itulah sedikit cerita mudik dan lebaran kami sekeluarga tahun ini. Apakah masih tetap mau mudik? Kalau saya sih iya dan semoga suami juga begitu, haha.

Mumpung kedua orang tua masih ada, kita sehat, uang beli tiket dan waktu ada,  mengapa kita tidak menyambung silaturrahim antar keluarga? InsyaAllah dapat mempererat kekeluargaan, bahkan sangat dianjurkan dalam agama.

Jangan takut kantong menipis hanya karena mudik, karena Allah maha kaya.

Jadi, kamu punya cerita mudik dan lebaran juga? Sharing di kolom komentar ya. Semoga bermanfaat. 🙂

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *