Dampak Positif dan Negatif yang Saya Rasakan ketika Si Kecil Bermain Gadget

 

Saat ini, saya memiliki seorang anak laki-laki berusia 3 tahun. Pertama kali kami mengenalkannya pada gadget adalah ketika usianya sekitar 1 tahun lebih, kalau tak salah. Kala itu, awalnya karena kami kedua orang tuanya juga sering main hp, liat video di hp, maka otomatis ia pun ikut serta melihat video di hp.

Awalnya, banyak video edukasi yang kami berikan pada si Abang, begitu panggilannya karena dia sudah jadi kakak sekarang. Ya, Alhamdulillah sekarang kami diamanahi lagi balita usia 6 bulan.

Kembali ke cerita pengenalan gadget pada si Abang, lama kelamaan ada beberapa film animasi anak yang kami tonton bersama si Abang. Karena di rumah tidak ada televisi, kami kira akan baik baginya bila sedikit mengenal animasi dari hp, agar tidak ketinggalan. Ternyata si kecil senang sekali, akhirnya video-video ini pun pindah ke laptop, lalu aktivitas menonton video di hp berpindah ke laptop. Kami taruh banyak sekali video edukasi seperti mengaji, belajar huruf, dan lainnya. Tapi kami juga mendownload banyak film kartun animasi, hingga lengkap koleksinya. Dan sayangnya, dia lebih memilih film animasi ketimbang video edukasi, namun sesekali masih menonton sih. Lama kelamaan dia mulai terbiasa, kami pun terutama saya, mulai terlena. Sambil menonton di laptop, saya bisa leluasa beraktifitas di dapur, si kecil juga bisa sambil belajar. Waktu itu usianya sekitar 2 tahun kurang, kami mulai memberikannya izin nonton dari laptop dan ketika itu dia bebas memilih yang dia mau, namun tetap kami yang membantu menyalakannya untuk dia. Sepertinya semua baik-baik saja, hingga kami rasakan ada perbedaan pada si Abang sejak ia mulai rutin menonton video di gadget.

 

Dampak positif

 

Kami akui, gadget tidak hanya melulu berdampak negatif bagi si Abang. Ada juga hal positif yang ia dapat.

1. Kosakata lebih banyak

Saya lupa persisnya kapan si Abang mulai bicara. Tapi sejak 2 tahun lebih beberapa bulan, si Abang sudah nyerocos, bercerita banyak hal, dengan bahasa yang orang lain mengerti. Jadi bukan bahasanya sendiri, yang hanya dimengerti oleh saya ibunya, tapi juga orang lain. Meski kadang masih ada beberapa kosakata yang orang lain kurang mengerti, tapi untuk anak seusianya, saya katakan ini pertanda yang baik. Banyak faktor memang yang membuatnya lumayan cepat bicara dengan banyak kosakata, mulai dari kegiatan membaca buku, Emaknya yang cerewet, tidak menggunakan bahasa balita, dan lainnya. Tapi saya rasa, video yang ditontonnya pun banyak berperan. Dia akan mengatakan hal yang sama bila bertemu dengan sesuatu yang sama dengan videonya. “Kayak yang di video Abang kan gitu ya.” Begitu katanya.

2. Mencontoh perilaku baik dari video

Kami kenalkan ia pada video anak mandiri, mandi dan makan sendiri. Dan ini sangat berpengaruh untuk si Abang. Bila mau mandi atau makan, diingatkan tentang video ini, maka ia langsung mau melakukannya sendiri. Meski kadang juga tak berhasil, tapi seringnya bisa. “Ayo mandi sendiri ya Bang, kan kayak yang di video Abang, si Ali mandi sendiri.” Lalu ia pun menurut, “Aku Ali Mi, mau mandi sendiri”. Begitu katanya.

3.Tahu lebih banyak

Kami berusaha untuk mengajarkan banyak hal pada Abang. Mengaji, membaca, tata krama, dan lainnya. Tapi rasanya apa yang kami ajarkan dan apa yang ia tonton melalui video, rasanya lebih cepat nyangkut ketimbang diajarkan langsung. Contohnya belajar huruf hijaiyah. Dia bisa hapal saat mendengar lagu hijaiyah dari laptop. Begitu pula ABC, sejak sering menonton video belajar ABC, dia jadi lebih kenal huruf. Begitu ia melihat huruf dimanapun, langsung ia kenali. Ya memang tak semuanya sih, hanya beberapa huruf. Tapi itu sudah sangat baik menurut kami. “Ini huruf Z Mi. Kayak yang di video aku.”

Begitu katanya.

4. Lebih leluasa ditinggal beraktifitas

Ini Emaknya yang merasakan manfaatnya. Dulu sebelum kenal gadget, say tinggal sebentar ke toilet, nangis. Ditinggal sholat, nangis. Ketika sudah kenal gadget, saya bisa sedikit bernafas lega. Ia bisa ditinggal agak lama, sekitar 5-10 menit ketika asyik dengan videonyam

5. Melek teknologi

Sejak usia 2 tahun lebih hampir 3 tahun, si Abang sudah bisa buka aplikasi di hp sendiri. Mencari letak video yang ditonton, membuka youtube, playstore, menelpon orang, video call, mengetik, serta mengambil gambar dengan kamera hp. Kami kadang bahkan terperangah dibuatnya. Aplikasi permainan yang kami sembunyikan di dalam folder-folder lain, bisa langsung ia ketemukan tanpa dipandu. Anak zaman sekarang memang lebih update sepertinya.

6. Punya figur yang baik

Dulu ia sering menonton Upin Ipin, Bobkiboy, Belajar Mengaji Bersama Diva, dan lainnya. Untungnya mereka semua adalah anak baik di perannya masing-masing, sehingga kini ia memiliki figur idola yang baru. Dia akan langsung excited begitu melihat foto tokoh idola kesayangannya ini.

 

Dampak negatif

 

Selain dampak positif, ternyata pada akhirnya kami merasakan ada pengaruh negatif setelah si Abang sering menonton video di hp atau laptop.

 

1. Suka mengamuk

Awalnya, setelah sering nonton film kesayangan di laptop, ia seakan jadi kecanduan. Bangun tidur, mau lihat film di laptop. Sehabis mandi mau lihat film di laptop. Bahkan ketika mengigau di tengah malam pun, ia mau lihat film di laptop. Bila kami tak menurutinya, ia akan mengamuk, menangisn sejadi-jadinya. Selain itu, ia jadi lebih gampang marah. Mainannya lepas sedikit, marah. Jatuh dan lecet sedikit, marah. Makanannya tumpah sedikit, marah. Gampang sekali marah dan mengamuk terutama sejak sering lihat video di hp atau laptop.

2. Gampang bosan

Baru main sebentar, ia langsung meminta video di hp atau laptop. Baru baca buku sedikit, langsung minta video di hp atau laptop. Padahal dulu frekuensi membaca buku si Abang lebih lama dan sering. Sejak kenal gadget, mulai berkurang. Ia seperti kurang tertarik dengan selain video.

3. Tidur kurang berkualitas

Kadang tengah malam ia bangun untuk lihat video di laptop. Malam hari sebelum tidur, ia tak mau tidur bila belum lihat video, sehingga kadang ia sering tertidur sambil tangan memegang hp atau ketika duduk menonton laptop.

4. Kurang konsentrasi

Ia jadi agak gampang jatuh. Lari sebentar, jatuh. Jalan sedikit, nabrak. Meski belum sampai level parah, tapi sedikit banyak gadget mempengaruhi konsentrasinya.

5. Matanya sedikit terganggu

Baru-baru ini, saat usianya hampir 3 tahun, Abang jadi sering mengedip-ngedipkan mata. Ketika dijelaskan mengapa, dia tak terlalu bisa menjelaskannya. Tapi ketika beberapa hari jarang nonton dari gadget, si Abang tak pernah lagi begitu.

6. Gampang meniru yang jelek dari video

Pernah suatu ketika ada adegan lempar sendal di videonya. Waktu itu di film tersebut sedang main permainan tradisional, lempar sandal. Tapi kemudian dia langsung mempraktikkannya, melempar sandal pada kami. Selain itu, di salah satu film superhero yang dia tonton, sering ada adegan memukul. Jadi, ketika bermain dengan teman sebayanya, ia kadang juga memukul. Saya kira ia mencontoh paling banyak dari videonya.

7. Radiasi

Saya tak paham betul dampak ini bagaimana melihatnya. Tapi yang jelas, teori para ahli sering mengemukakan tentang betapa bahayanya radiasi bagi otak anak-anak terutama balita yang memang masih belum optimal tumbuh kembang otaknya.

 

Lalu, apa yang kami lakukan sebagai orang tuanya?

 

Meski setuju gadget juga membawa pengaruh baik, tapi kami memilih untuk membatasi si Abang dalam bermain gadget. Pengaruh negatifnya lebih terasa dibandingkan positifnya.

Awalnya, kami batasi tidak sama sekali nonton laptop. Laptop kami sembunyikan, lalu kami katakan telah dibawa pemiliknya (ayahnya maksudnya,haha jadi kami tidak terlalu berbohong, haha). Meski di awal ia merengek, tapi akhirnya ini berhasil. Sudah lebih dari 6 bulan ia tak nonton apapun dari laptop.

Namun sebagai gantinya, ia jadi sering menonton video di hp. Dan lemahnya kami, kami malah memfasilitasinya, mendownloadkan film kesayangannya. Hingga akhirnya hal yang sama berulang ketika ia hampir kecanduan menonton di laptop. Lalu kini kami pun mulai membatasi si Abang melihat video di hp. Awalnya dia menangis, menolak tak setuju. Lama sekali. Hampir satu jam. Tapi Alhamdulillah, itu hanya terjadi di hari pertama. Selanjutnya jadi lebih mudah. Sudah 3 hari ini dia hanya menonton film kesayangannya selama sekitar 30 menit dari hp.

 

Apa konsekuensinya?

Berbagai kegiatan yang Abang lakukan sebagai ganti main gadget.

Jadi prinsipnya, selama dia tidak main hp, dia boleh melakukan apapun selama bukan hal yang membahayakan. Mulai dari bermain menuang air, mencorat coret, membaca buku, main tanah, hingga membuat rumah berantakan. Untuk itu kami harus dengan lapang dada bila rumah lebih sering berantakan, ia jadi lebih sering minta ditemani main, membaca dan lainnya. Meski memang dulu juga ia masih melakukannya, namun sekarang frekuensinya jadi bertambah.

Selain itu, kami sebagai orang tua juga harus mencontohkannya, tidak bermain gadget di depannya. Akibatnya, saya jadi sering sembunyi-sembunyi nyetatus, scroll timeline, atau membalas komen di blog. Kadang bahkan saya harus menunggu bocah tidur untuk menulis di blog.

Tapi tak mengapa, semoga semua jerih payah kami ini kelak di kemudian hari membuahkan hasil, Aamiin.

Masih jauh memang perjalanannya, tapi semoga kami bisa kuat dan terus belajar untuk menjadi orang tua yang baik bagi si Abang.

Segitu dulu cerita saya tentang si Abang dan gadgetnya. Kamu juga punya cerita yang sama? Sharing di kolom komentar ya, semoga bermanfaat. 🙂

#ODOP

#Day11

#Bloggermuslimahindonesia

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *