Daster Versus Gamis, Pilih Mana?

Daster atau gamis

Daster Versus Gamis, Pilih Mana?

 

Sekitar pertengahan tahun 2017 yang lalu, sempat viral sebuah meme yang menuliskan, jangan remehkan emak-emak berdaster, karena bila dia berdandan, semua akan kaget dibuatnya. Maka setelah meme itu muncul, media sosial saya pun ramai akan artikel atau status yang pro dengan daster. Ada yang mengatakan daster itu enak, banyak lubang anginnya dimana-mana, jadi tak panas. Ada yang bilang daster adalah pakaian ternyaman saat di rumah, di rumah kan biasanya suka kotor kalau masak, kena asi, dan lainnya. Maka daster adalah pakaian terbaik untuk itu.

Setelah heboh fenomena itu, suatu ketika di beranda facebook saya, muncul juga sebuah artikel yang bertajuk goodbye daster, sebuah artikel karya Mba’ Athiah Listyowati di blog pribadinya, www.thesultonation.blogspot.co.id. Jadi ceritanya Mba’ Athiah waktu itu baru saja selesai membaca buku Marie Kondo berjudul The Life Changing Magic of Tidying Up. Dari buku tersebut, Mba’ Athiah menyimpulkan bahwa untuk membuat seseorang senantiasa rapi, ia harus dikelilingi benda-benda yang memancarkan kebahagiaan. Karenanya, ia merasa bila selama ini ia salah, dengan memakai daster di rumah, sementara keluar dengan begitu rapi. Padahal ketika di rumah seharusnya kita berada pada mood terbaik, sehingga bisa memberikan yang terbaik, bukan sisa-sisa setelah seharian keluar rumah. Mengapa bila di luar rumah kita begitu rapinya dengan baju atau gamis kemudian ditambah dengan makeup, lalu di rumah kita hanya dasteran dan kesannya agak kucel.

Sebagai muslimah, sesuai dengan perintah dalam Alqur’an, seharusnya pakaian terbaik seorang wanita muslim ketika keluar rumah adalah gamis panjang, lebar memanjang hingga mata kaki. Sementara untuk kerudung, haruslah lebar dan menjulur menutup dada. Jangan lupa tambahkan kaos kaki agar  kaki tidak kelihatan. Tak ada toleransi untuk itu (Baca terjemahan surat Al Ahzab: 54 dan An Nur:31 untuk lebih jelasnya).

Kembali lagi ke topik tentang memilih gamis atau daster? Sebenarnya saya bukan orang yang anti daster dan pro gamis. Keduanya saya suka. Dulu saya punya beberapa buah daster. Setiap ada tukang jual daster yang datang sekitar dua bulan sekali ke rumah,  saya selalu membeli minimal satu daster. Selain karena kasihan dengan Bapak penjual yang harus mengangkut banyak barang dagangannya, saya juga merasa nyaman ketika memakai daster di rumah. Dan saking nyamannya, setelah sering cuci kering pakai, lalu bolong dan robek sana sini, saya pun terus memakainya. Barulah ketika keluar rumah, berganti dengan gamis yang lebih rapi.

Tapi setelah membaca artikel Mba’ Athiah di atas, saya juga jadi berpikir, mengapa saya begitu kucelnya ketika di rumah, dan begitu rapinya ketika keluar rumah? Bukankah yang paling berhak atas penampilan terbaik kita adalah suami? Setiap melihat pilihan baju muslim wanita terbaru di beranda facebook atau toko online lainnya kemudian memutuskan untuk membeli, dapat dipastikan baju itu saya pakai bila keluar rumah. Sementara di rumah saya lebih suka memakai daster atau baju dekil lainnya. Selain karena banyaknya sumber angin, juga karena pekerjaan sebagai ibu rumah tangga dengan dua balita membuat saya memilih daster sebagai pakaian terbaik.

Akhirnya, selamat tinggal daster

Sebenarnya suami sih oke-oke saja dengan pakaian apapun yang saya pakai di rumah. Beliau orangnya easy going, yang penting saya merasa nyaman. Namun lama kelamaan, seiring jarangnya tukang daster yang lewat (karena saya pindah rumah, haha), semua daster mulai robek dan bolong tak karuan, akhirnya kini tak ada lagi daster di lemari. Berganti dengan baju gamis biasa. Jadi sekarang saya lebih senang memakai gamis biasa di rumah. Selain agar tak repot gonta ganti ketika ada orang datang atau keluar rumah, juga karena agar tidak ada beda saya di luar atau di dalam rumah.

Dulu saya juga pernah membaca kebiasaan seorang ibu rumah tangga, yang karena awalnya merasa sedikit iri dengan teman-temannya yang selalu cantik dan fresh, karena mereka bekerja, sementara dia yang selalu kucel, maka dia pun mengganti ritme kehidupannya. Meski hanya di rumah, dia tetap berpenampilan seperti ibu bekerja pada umumnya. Hasilnya, dia bisa menciptakan rumus menghitung matematika dengan metode jaritmatika (meski tentu ada banyak hal lain mendorongnya, tapi pakaian ini juga menjadi mood booster bagi Beliau). Dialah Ibu Septi Peni Wulandari, seorang ibu rumah tangga yang penemuan tentang jaritmatikanya kemudian dikenal dan diterapkan banyak orang.

Bila dulu muncul pilhan baju muslim wanita terbaru di timeline facebook atau toko online, saya hanya akan memperhitungkannya apakah pantas atau tidak bila dikenakan saat kondangan, maka sekarang saya tambahkan kriterianya, enak atau tidak bila dipakai di rumah.

Daster atau gamis

Daster lama yang sudah bolak-balik dipakai lalu robek, kini jadi lap lantai.

Begitulah, saya selalu percaya hal yang besar selalu bermula dari sesuatu yang kecil. Mungkin sekarang terlihat sepele hanya mengganti pakaian rumah dari daster, dengan gamis. Tapi semoga dengan perubahan kecil ini, bisa menjadi awal dari suatu yang besar bagi saya di depan sana. Siapa tahu dengan mulai membiasakan diri mengenakan gamis di rumah, mood saya semakin baik, lalu saya pun bisa menghasilkan sebuah buku yang bisa best seller, Aamiin. Atau mungkin saya bisa lebih baik dalam mengasuh anak-anak.

Pilih yang bahannya enak

Kalau daster kan biasanya sudah pasti bahannya tipis, enak dan dingin. Sementara bila gamis kadang ada yang panas, atau kaku. Setelah memutuskan meninggalkan daster, saya pun mulai cerewet memilah gamis yang mau dibeli. Biasanya saya pilih yang bahannya dingin, warnanya tak gampang kusam, dan tipe baju yang bisa selalu rapi meski tak disetrika. Sehingga saya bisa selalu rapi meski hanya di rumah saja.

Daster atau gamis

Beberapa model gamis rumahan yang saya punya. Mirip daster nggak ya? Haha.

Kini pilihan baju muslim wanita terbaru sangat beragam. Biasanya saya memilih bahan kaos, misbi, atau sejenisnya. Membeli baju muslim wanita terbaru juga tak perlu mahal. Bahkan kadang dengan budget di bawah 100 ribu, sudah bisa mendapatkan kualitas yang lumayan.

Pada akhirnya, gamis atau daster, semua tergantung selera. Yang terpenting adalah, kita harus selalu menutup aurat bila keluar rumah bertemu dengan mereka yang bukan mahromnya, dan bisa memberikan penampilan terbaik bila di rumah, bertemu dengan suami. Jadi, Bu Ibu, pilih mana, daster atau gamis? Sharing di kolom komentar ya. Semoga bermanfaat. 🙂

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *