Day 11: Barang yang Dikoleksi di Rumah

Koleksi barang di rumah

Day 11: Barang yang Dikoleksi di Rumah. (Picture credit to pixabay).

 

Karena sejak kecil terbiasa hidup sederhana (baca: kere), maka saya besar sebagai anak yang tak neko-neko atau banyak minta. Kalau ada dimakan, nggak ada ya diam. Meski sebagai anak sesekali tetap ada rengekan-rengekan meminta sesuatu kepada orang tua. Tapi meskipun begitu orang tua saya tetap berusaha membelikannya. Seperti ketika saya kelas dua SMP, tiba-tiba ayah mengajak saya ke konter hp dan membelikan sebuah hp nokia 3200. Waktu itu harganya masih 2 jutaan kalau tak salah. Padahal saya tak pernah meminta kala itu. Tapi memang teman-teman sudah banyak yang punya hp.

Lain kesempatan, waktu itu saya hampir semester 5 ketika kuliah. Persiapan mau kerja praktik lapangan. Memang nantinya akan banyak membutuhkan laptop atau komputer untuk mengetik laporan magang dan tugas akhir. Maka saya pun meminta sebuah laptop kepada emak. Dan beberapa hari kemudian emak mengajak saya membeli laptop di pasar dengan uang pinjaman. Duh kalau ingat cerita-cerita yang begini jadi sedih betapa perjuangan kedua orang tua begitu besar, sementara perjuangan anak kepada orang tua kecil sekali.

Karena memang tak mau menyusahkan orang tua, maka saya menjadi anak yang tak pilih-pilih. Pokoknya barangnya bagus, harganya murah, oke saja. Jadi prinsip ini terbawa sampai kini. Meskipun kadang punya uang lebih sedikit, saya tak pernah kepikiran membelikan barang yang sifatnya konsumtif, tak jelas kegunaannya. Jadi kalau mau membeli sesuatu karena memang mau dipakai dan di rumah memang belum ada. Tidak pernah terbersit mau mengkoleksi sesuatu. Jangankan barang lain, piring dan gelas pun masih terbatas, haha. Begitu juga dengan pakaian seperti gamis atau kerudung. Jumlah gamis yang saya punya kurang dari 10. Karena saya yakin, semua barang yang ada ini nanti akan dipertanyakan di akhirat sana. Jadi sebisa mungkin kalau ada yang masuk, yang lama keluar.

Tapi ada beberapa benda yang saya tak terlalu kuasa menahan untuk membeli bila saya punya uang untuk itu. Apa itu? Buku. Baik itu buku anak atau pun buku dewasa. Tapi tetap kalau dirasa tak akan dibaca tidak akan dibeli. Buku termahal yang pernah saya beli seharga Rp 300.000, buku Fitrah Based Education karya Ustadz Harry Santosa. Sejak menonton video beliau tentang Fitrah Based Education, saya langsung tertarik untuk membeli bukunya untuk dipelajari lebih lanjut. Meski belum selesai dibaca sampai sekarang, hihi. Selain buku itu, buku apa saja yang saya koleksi?

1. Buku tema parenting

Lebih dari 10 buku yang saya punya bertema parenting. Ada buku positif parenting Ustadz Muhammad Faudzil Adhim, Mendidik Anak Tangguh dan Menjadi Ibu Tangguh karya Yanti Tanjung, Raising your child, Fitrah Based Education, Propethic Parenting, Buku Kiki Barkiah Bab 1 dan 2, Happy Little Soul, Rumah Bermain Anak Julia Sarah Rangkuti, Anti Panik Mengasuh Bayi, Mendidik Anak Laki-laki, Mendidik Anak Perempuan, dan lainnya. Beberapa sudah selesai dibaca, beberapa lagi belum. Terutama yang tebal.

2. Buku anak

Banyak sekali koleksi buku anak di rumah. Meski tak lengkap semua versi. Yang paling banyak adalah board book. Karena adik masih suka merobek. Kalau abang kesukaannya kini buku kertas tipis bergambar seperti Ensiklopedia Junior Laut, Hutan, Kereta Api, dan Hutan. Adik sukanya buku yang ada gambar sapi, kambing, dan lainnya.

 

3. Buku tema Islam

Saya punya beberapa buku karya Felix Siauw, Wanita Berkarir Surga, Sudah Putuskan Saja, dan Dakwah (ini lupa judulnya ). Juga beberapa buku Salim A Fillah, Bangga Jadi Seorang Muslim, buku tentang pemuda (lupa judulnya karena sudah hilang, haha), Gue Never Die (ini dipinjami teman lalu jadi haj milik karena lupa mengembalikan, tapi yang punya sudah ridho), Fikih Wanita, dan lainnya.

4. Novel

Novel karya Tere Liye seperti Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Pulang, dan Rembulan (ini juga lupa judulnya, haha). Karya Asma Nadia, Assalamualaikum Beijing, Catatan Hati di Setiap Do’a, Laskar Pelangi, dan lainnya. Biasanya untuk novel lebih cepat selesai dibandingkan buku non fiksi.

5. Buku pernikahan

Buku karya Asma Nadia, Catatan Hati seorang Istri, Jangan Bercerai Bunda, Kado Pernikahan, dan lainnya.

 

6. Buku DIY mainan anak

Rumah main anak, Membuat mainan dari kardus, dan Montessori adalah buki DIY mainan anak yang saya punya. Sebagian berhasil dipraktikkan, sebagian hanya dibaca, huhu.

 

Itulah beberapa koleksi buku di rumah. Sebenarnya ada beberapa yang belum disebut, tapi saya lupa judulnya. Ada beberapa yang belum selesai dibaca, terutama buku-buku tebal atau non fiksi. Kalau buku cerita atau novel, sebagian besar sudah selesai dibaca. Rencananya nanti akan bertambah lagi, sehingga bisa membuat sebuah perpustakaan untuk rumah baca yang semoga saja bisa berdiri, Aamiin. Sebagian besar buku yang dibeli adalah harga diskon. Sebagian beli di online, karena biasanya lebih murah. Sebentar lagu akan ada buku-buku karya sendiri yang memenuhi rumah, Aamiin. Kamu juga punya koleksi buku? Sharing di kolom komentar ya. Semoga bermanfaat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *