Jika Kakak dan Adik Bertengkar

Ketika kakak dan adik bertengkar

Jika kakak dan adik bertengkar.

Sejak dianugerahi dua balita di rumah, si Abang usia 3 tahun 6 bulan, sementara si adik usia 11 bulan, rumah kami pun seperti tak pernah sepi. Bukan hanya karena canda tawa mereka, tapi juga karena kehebohan yang mereka buat bila sedang cek cok. Pokoknya setiap hari selalu saja ada yang mereka rebutkan, meskipun usia mereka masih piyik sekali. Mulai dari mainan, makanan, baju, hingga rebutan Abi atau Umminya. Sepertinya apapun yang dipegang oleh saudaranya selalu lebih bagus kelihatannya. Barang yang awalnya tak mau dipegang atau dimainkan olek adik atau abang, tiba-tiba jadi begitu menarik bila dipegang saudaranya. Selain itu, kadang adik yang memang belum mengerti bahwa dipukul atau dijambak itu sakit, kadang memukul si abang. Begitu juga sebaliknya, kadang bila main bersama,si abang keterusan gemes pada si adik lalu berujung dengan menyakiti.

Awalnya, orang yang hampir selalu saya marahi pertama kali adalah si abang. Karena dalam pikiran saya, usia Abang sudah lebih besar dari adik. Apalagi abang sudah mulai bisa diberitahu. Lalu lama kelamaan, akhirnya saya mulai sadar, bahwa abang hanyalah anak-anak berusia 3 tahun, yang belum memahami banyak hal. Menyalahkan abang malah semakin membuatnya menyimpan marah pada si adik. Selain itu, abang tidak selalu memulai pertama kali. Kadang, saat abang sedang tidur, tiba-tiba adik menjambak si abang, lalu abang pun menangis. Atau ketika abang sedang asyik menyusun lego, adik datang dan merusaknya. Kalau sudah begini, saya pun jadi bingung, adik memang salah, tapi dia belum mengerti sama sekali instruksi. Sementara Abang seakan tak terima bila adik tak mendapat hukuman atau teguran.

Lalu saya pun curhat kepada teman saya yang seorang psikolog. Darinya, kemudian saya membaca sebuah postingan bagus mengenai sibling rivalry atau perseteruan antar saudara. Di postingan tersebut dijelaskan bahwa sibling rivalry adalah sesuatu yang fitrah, artinya hampir semua kakak beradik pernah melaluinya, tugas kita sebagai orang tua, bukan malah menghilangkan hal tersebut, tapi meminimalisir agar hal tersebut tidak berlanjut kepada hal-hal buruk berikutnya, seperti dua kakak beradik yang salih bunuh atau melukai gara-gara pertengkaran sepele. Na’udzubillah.

Mengetahui hal ini, saya pun mulai survei kecil-kecilan kepada mereka yang memiliki saudara, atau memiliki dua anak atau lebih. Apakah pernah rebutan atau bertengkar. Dan jawaban semuanya adalah iya. Kadang dengan bertengkar begini, mereka sebenarnya malah belajar, terutama mengatur emosi dan berbagi, hanya saja, seperti yang saya tuliskan di atas, jangan membiarkan begitu saja, hingga taraf yang lebih lanjut.

Sebenarnya mereka cukup kompak di beberapa waktu tertentu. Sesekali bila saya sedang sholat, abang dan adik bermain bersama, tertawa, dan tanpa tangisan. Kadang bila sedang bersepeda, abang menawarkan boncengan pada si adik. Atau kadang bila ada bertemu orang lain lalu mereka bercanda hendak mengajak si adik, dengan tegas abang pun menolaknya. Begitupula si adik, bila tak ada abang di rumah, dia seakan mencari keberadaan si abang. Hanya saja ketika mereka bertengkar, selalu berujung pada tangisan atau pukulan. Maka saya pun mau tak mau harus melerainya. Selain itu, untuk meminimalisir, saya juga melakukan beberapa hal ini ketika mereka bertengkar.

1. Memisahkan kakak dan adik

Bila salah satu sudah mulai menangis, maka dengan cepat saya harus memisahkan mereka. Jangan sampai dibiarkan, akan gawat, haha.

2. Cari tahu permasalahannya

Setelah dipisahkan, barulah kemudian dicaritahu permasalahannya. Saat ini, orang tua diharapkan adil dan tidak memihak kepada salah satu pihak.

3. Yang salah, yang meminta maaf, yang jadi korban, sebaiknya memaafkan

Ini yang kami tanamkan pada anak-anak. Yang duluan memulai atau yang salah, harus mau minta maaf. Siapapun itu. Bila adik yang salah, maka adik harus meminta maaf pada si abang, meskipun sebenarnya dia belum mengerti. Hal ini agar tidak terjadi standar ganda, bila adik yang salah dimaafkan, sementara bila abang yang salah dimarahi. Sebaliknya, kepada yang menjadi korban, kami sarankan untuk memaafkan. Agar masalahnya bisa selesai di situ saja, tidak berlanjut.  Bila keduanya tak mau meminta maaf atau memaafkan, akan terus kami dukung atau sugesti untuk memaafkan saudaranya.

4. Berdo’a

Selain dalam sholat, kadang ketika mereka bertengkar saya juga langsung berdo’a, “Ya Allah, lembutkan lah hati si abang agar mau meminjamkan mainan pada adiknya.” Biasanya dengan begini lama-lama abang akan memberikan dengan sukarela.

5. Membacakan buku

Jadi gara-gara rivalry sibling ini saya pun langsung membelikan buku dengan tema menyayangi adik, agar abang tak gampang memukul adiknya.

Itulah beberapa hal yang kami lakukan untuk meminimalisir pertengkaran antara adik dan kakak agar tidak membahayakan dan berlarut-larut. Karena memang pertengkaran  itu akan selalu ada. Dan begitulah keluarga, tak ada yang sempurna. Kadang kita sepakat akan suatu hal, tapi kadang kita berbeda. Kita bahkan kadang tidak bicara satu sama lain. Tapi, pada akhirnya, keluarga tetap keluarga. Selalu ada cinta di dalam keluarga.

“No family is perfect, we argue, we fight. We even stop talking to each other at times. But in the end, family is family…The love will always be there.” Unknown.

Semoga kita bisa senantiasa menjaga keluarga kita agar saling menyayangi, hingga nanti kekal di jannahNya, Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *