Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Anak Sepanjang Galah 

Sebenarnya nama aslinya adalah Setia, namun entah mengapa orang-orang kebanyakan memanggilnya Sutia. Kemudian pada suatu ketika Emak akhirnya menuliskan Sutia untuk nama di KTP nya, karena Beliau beranggapan bahwa kebanyakan orang yang memiliki huruf ‘u’ di dalam namanya adalah orang-orang sukses, seperti nabi Muhammad SAW, Susilo Bambang Yudhoyono, Muhammad Ali, dan banyak lagi lainnya menurut Beliau. 

Sesederhana itulah saya melihat Emak, yang siapa sangka dari sosok sederhana inilah kelak lahir cinta yang begitu luar biasa bagi kami anak-anaknya.

Emak lahir di desa Pejem, kecamatan Belinyu, kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kira-kira setengah abad silam. Beliau lahir di desa yang jauh sekali dari peradaban dan teknologi. Bahkan dulu waktu hendak berangkat ke sekolah, Emak harus menempuh perjalanan terjal dan panjang berjam-jam lamanya dengan berjalan kaki. Sayangnya, karena terkendala biaya, Emak pun harus berhenti sekolah dan membantu nenek berkebun di ladang, begitu Ia selalu bercerita tentang masa kecilnya pada kami agar senantiasa semangat dalam menuntut ilmu.

Waktu berlalu, Emak pun menikah dengan Ayah. Tak lama setelah menikah, Emak hijrah ke beberapa kampung lain sampai akhirnya menetap di ibukota provinsi, Pangkalpinang. Disinilah kemudian semua perjuangan bermula. Meski Emak dan Ayah tidak lulus SD, kedua orang tua kami selalu mewanti-wanti kami untuk belajar dengan tekun agar kelak bisa menjadi orang sukses. Karenanya, dengan penuh semangat mereka terus berusaha menyekolahkan kami setinggi mungkin untuk bekal kami kelak di masa depan.

Sebagai seorang dari kampung terpencil dan tidak sekolah,  Ayah hanya bisa bekerja serabutan, mulai dari bekerja sebagai penyapu jalan, kuli pasir, hingga akhirnya ayah menetapkan pekerjaan sebagai nelayan. Menyadari bahwa pendapatan Ayah sebagai buruh harian sepertinya tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan kami, Emak pun akhirnya memutuskan untuk berjualan sayur keliling menggunakan sepeda. Saya yang waktu itu masih berusia sekitar lima tahunan, dititipkan di rumah Bibi, adiknya Ayah atau kadang-kadang di rumah nenek. Pulang berjualan barulah Emak menjemput saya.

Seperti ibu ini, dulu Emak juga mengayuh sepeda untuk menjajakan dagangannya kepada para pembeli. (Sumber gambar:

Seperti ibu ini, dulu Emak juga mengayuh sepeda setiap hari untuk menjajakan dagangannya kepada para pembeli. (Sumber gambar: Jhon-404)

Pada mula  berjualan, Emak belum lagi mendapat pelanggan, karenanya Emak harus mengayuh sepedanya hingga ke kampung-kampung yang jauh dari kota, yang bila ditempuh dengan motor harus berjam-jam lamanya. Belum lagi pada masa itu, jalan-jalan kampung belum lah semulus sekarang, melainkan penuh terjal dan bebatuan. Namun, Emak tetap menjalani semuanya dengan ikhlas dan semangat, tak pernah Beliau menyuruh kami untuk berhenti sekolah kemudian membantunya bekerja.

Pagi-pagi sebelum subuh Emak sudah bangun untuk menyiapkan sarapan untuk kami sebelum berangkat sekolah. Kemudian setelah subuh, Beliau pun berangkat ke pasar mengambil barang dagangan dijual keliling kampung. Emak baru pulang kembali ke rumah sekitar pukul 1 siang. Sampai di rumah, setelah memebereskan semua barang dagangannya, Emak masih menyempatkan memasak makan siang untuk kami sekeluarga. Aktivitas ini berlangsung lama sekali hingga akhirnya saya pun masuk SMP dan Alhamdulillah Emak bisa berjualan keliling dengan sepeda motor. Meski hanya sepeda motor bekas, namun saya bisa mengingat sepertinya Emak dibuat lebih mudah dalam berjualan.

Setelah berjualan beberapa lama, Emak akhirnya bisa membeli sepeda motor bekas untuk memudahkannya berjualan. (Sumber:)

Setelah berjualan beberapa lama, Emak akhirnya bisa membeli sepeda motor bekas untuk memudahkannya berjualan. (Sumber gambar: Tribunnews)

“Sa.. yur, sa.. yur, sayur dak say?”¹Begitu biasanya Emak menawarkan dagangan ke para tetangga bila sudah mencapai seputaran kampung tempat kami tinggal. Aktivitas berjualan sayur keliling ini terus berlangsung hingga saya masuk SMA dan akhirnya di pertengahan saya sekolah  SMA, Emak memutuskan untuk membuka toko kelontong di depan rumah. Hal ini karena Emak melihat satu-satunya toko kelontong yang ada di kampung sepertinya tidak terlalu semangat dalam berjualan. Beliau pun meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik toko ketika hendak membuka toko kelontong.

Akhirnya Emak bisa membuka toko kelontong dan berhenti menjadi penjual sayur keliling. (Sumber:)

Akhirnya Emak bisa membuka toko kelontong dan berhenti menjadi penjual sayur keliling. (Sumber gambar:bisnis ukm)

Hingga saya lulus SMA Emak masih berjualan di toko kelontong. Kali ini toko kelontongnya sudah lebih maju dan besar dari yang dulu, barang-barang jualannya lebih lengkap, mulai dari bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, cabe merah, cabe putih, aneka cemilan, minuman, kebutuhan rumah tangga, buku tulis, hingga lampu pun ada. Bahkan bangunan toko dibangun khusus di pinggir jalan untuk memudahkan pembeli yang ingin membeli sesuatu di toko Emak.

Begitulah sekelumit perjuangan Emak dalam membesarkan kami anak-anaknya. Saya ingat betul segala sesuatu yang Emak lakukan adalah untuk kami anak-anaknya. Bahkan meski mungkin memiliki uang untuk membeli baju baru, Emak tidakalah membelinya kecuali untuk kami anak-anaknya. Bukan hanya satu baju atau celana Emak yang ditempel-tempel dengan kain perca agar bisa digunakan kembali. Bahkan hingga kini ketika anaknya sudah menikah dan memiliki kehidupan masing-masing, Emak masih tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Berapa kali saya selalu mengajaknya untuk tinggal bersama saya dan keluarga Beliau tetap memilih sibuk di toko kelontongnya. Bahkan untuk meminta nomor rekening Emak sehingga saya bisa memberikan sedikit rezeki kepadanya, harus saya lakukan dengan mengambilnya diam-diam di selipan baju di lemari kamarnya. Pernah suatu ketika saya memberikan sejumlah uang kepada Emak, langsung ditolak oleh Emak, jika saja bukan karena saya memaksa Emak untuk menerimanya.

Emak

Emak dan kedua cucunya. 

Benarlah jika ada peribahasa yang mengatakan bahwa kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah, karena seberapa banyak pun kebaikan yang kami lakukan untuk membalas semua kebaikan kedua orang tua kami terutama Emak, tidak akan cukup sampai kapanpun. Hanyalah do’a yang senantiasa kami panjatkan semoga Allah senantiasa menjaga mereka di manapun mereka berada. Terima kasih Emak, semoga Allah membalas semua kebaikanmu dengan jannahNya, Aamiin.

“Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando’s Giveaway : Spread The Good Story”

Gather+aroundthe+table+%281%29

¹ “Sa.. yur, sa.. yur, sayur nggak say?”
Say adalah panggilan Emak kepada pelanggannya seperti jeng, sis, dst.

14 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *