Kenali Passionmu dan Temukan Bahagiamu

Kenali passion atau minatmu

Kenali passionmu dan temukan bahagiamu. Sumber gambar pixabay.




Jadi sewaktu saya dalam perjalanan dari Paiton menuju ke Mojokerto di perjalanan naik bus, saya dan suami itu sempat berdiskusi tentang temannya (kita sebut saja si A) yang sepertinya kelihatan tersiksa ketika menjalani perkuliahan dulu. Mengapa suami bisa bilang begitu, karena setiap kali ada tugas, si A seperti tertekan, lalu ketika nilainya kecil atau harus  mengulang mata kuliah, si A sering mengungkapkan ketakutan akan dimarahi oleh orang tuanya.

Apa yang terjadi? Ia lulus dengan nilai yang sangat standar lalu kemudian kerja di tempat kerja yang keilmuannya tidak sesuai dengan ilmu kuliah yang dipelajarai dulu. Selama kuliah si A juga jadi anak pendiam, tidak banyak omong, dan kurang suka bergaul. Lalu setelah beberapa tahun selesai kuliah dan menikah, barulah si A mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari yang dulu. Kini si A pun lebih terbuka dalam bergaul.

Lalu ada lagi si B. Dia mengambil jurusan kuliah yang jauh sekali dari  jurusan SMAnya. Ketika menjalani perkuliahan, dia seperti sama sekali tidak menikmati pilihan yang diambil. Selain karena memang tidak menguasai, juga karena ia tak tertarik. Tapi si B lebih enjoy, lebih menerima. Meski nilainya seadanya dan kadang sering mengulang, tapi dia tak pernah ambil pusing seperti si A. Kini si B bekerja di bidang yang juga tak sama dengan kuliahnya dulu, tapi si B menikmati pekerjaannya.

Lain lagi dengan si C. Meski datang dari SMA yang jurusannya juga berbeda, tapi si C menyukai apa yang ia pelajari selama kuliah. Ia tertarik hampir dengan semua materi pelajaran ketika kuliah. Maka ia pun semangat ketika mengerjakan tugas atau saat di kelas. Apa yang terjadi? Si C lulus dengan nilai yang sangat baik. Selain itu ia bekerja di tempat yang masih sejalan dengan ilmu yang ia dapat di perkuliahan dulu.

Apa perbedaan ketiga orang tersebut?

Menurut saya ada di passionnya. Si A dan B butuh waktu lama sekali untuk menyadari bahwa apa yang ia jalani ketika kuliah bukanlah passionnya atau minimal bukan sesuatu yang ia suka. Akhirnya yang terjadi adalah mereka tidak bisa optimal menjalankannya. Mau dipaksa seperti apapun, mereka tidak akan bisa seperti C, yang memang dari awal punya ketertarikan tinggi dengan apa yang ia pelajari. Akhirnya setelah selesai kuliah, baru mereka menemukan di bagian apa yang menjadi ketertarikan mereka.

Sama seperti saya dulu. Pada awalnya  saya pikir passion saya adalah menulis. Saya pernah menjuarai juara 3 lomba menulis berita. Dan saya senang menjalaninya. Meskipun waktu itu saya harus lembur tengah malam untuk mencari data kemudian mengerjakannya, tapi saya merasa bahagia melakukannya. Jadi saya pikir menulis adalah passion saya, karenanya saya mau kuliah di bidang yang ada hubungannya dengan tulis menulis yaitu jurnalistik. Kemudian saya mengutarakan  kepada kedua orang tua bahwa saya ingin kuliah di bidang jurnalistik, sayangnya orang tua tidak menyetujui karena ada tetangga yang juga wartawan tapi sepertinya tidak terlalu sukses di mata masyarakat. Akhirnya saya pun urung melanjutkan kuliah di bidang tulis-menulis.
Berikutnya Saya sangat suka pelajaran bahasa Inggris. Sejak SD saya menikmati sekali ketika belajar bahasa Inggris. Saya pikir ini juga fashion saya kemudian saya merencanakan untuk mengambil jurusan pendidikan bahasa Inggris di salah satu kampus  yang ada di Bangka dan saya mengutarakannya kepada guru bahasa Inggris saya. Sayangnya guru saya bilang kampus itu tidak terlalu bagus untuk belajar pendidikan bahasa Inggris maka lagi-lagi saya urung untuk melanjutkan mempelajari apa yang saya suka ketika kuliah.
Pada akhirnya pilihan saya jatuh pada teknik elektronika. Karena waktu itu kampus yang ini lumayan bunafit menurut saya selain itu mereka juga banyak mencetak lulusan-lulusan yang baik dan juga banyak yang langsung bekerja setelah lulus dari kampus tersebut. Jadi waktu itu Alasan saya kuliah di tempat tersebut bukan karena saya menyukai saya pilih tapi lebih ke Saya mau bekerja setelah lulus kuliah ,maka saya mengambil jurusan yang bisa membuat saya langsung bekerja.
Apa yang terjadi? Saya memang Lumayan bisa mengikuti pelajaran yang diberikan, ketika kuliah metode yang saya gunakan adalah menghapal bukan memahami. Ketika ada tugas atau ujian, yang saya lakukan adalah kemudian menghapalnya, sehingga saya tidak bisa meresapi memahami apa yang diajarkan oleh dosen saya. Hasilnya bila sekarang saya ditanya mengenai apa yang saya pelajari ketika kuliah dulu tidak bisa menjawab dan benar atau hanya sedikit sekali yang saya ingat. Beda sekali bilang ditanyakan adalah tentang pelajaran bahasa Inggris atau sedikit mengenai tulis menulis.

 

Baca juga: Kuliah di Daerah Atau Luar Daerah?


Menurut saya itulah pentingnya kita mempelajari atau terjun terhadap apa yang menjadi passion kita. Karena ketika kita mempelajari apa yang menjadi passion kita, kita akan semangat untuk mempelajarinya kemudian kita akan memberikan kemampuan yang maksimal terhadap passion kita tersebut. Dan yang paling penting kita bahagia ketika menjalaninya. Seperti yang kita lihat sekarang banyak sekali orang yang terjun atau tidak mempelajari apa yang menjadi passionnya yang terjadi adalah banyaknya pembelajar yang tidak mengerti apa yang dia pelajari sehingga kita dapatkan seseorang yang tidak ahli dalam ilmu nya.
Seperti yang ada di dalam film 3 Idiots, bagaimana Rancu dan teman-temannya berusaha menemukan passionnya.  Rancu yang memang tertarik sekali dengan dunia teknik, senang sekali belajar di kampusnya. Dia tak memikirkan apa yang orang lain bilang, meski orang bilang dia aneh, karena kegilaannya pada teknik, sehingga semua alat ia perbaiki, tapi pada akhirnya ia berhasil  menemukan penemuan-penemuan baru yg fenomenal dan berguna bagi sesama.
Lalu untuk teman Rancu, si Farhan yang memang minatnya adalah di dunia fotografi, kemudian memutuskan keluar dari kampusnya. Padahal dari kecil dia telah didoktrin kedua orang tuanya untuk menjadi seorang insinyur, tapi dia tidak punya passion terhadap ilmu teknik atau yang dipelajarinya di kampus, sehingga dia sama sekali tidak bisa mengikuti pelajarannya.  Apa yang terjadi? Memang gaji dan kehidupan Farhan tidak terlalu mewah atau biasa saja bila dibandingkan dengan kedua temannya. Tapi dengan begitu dia menikmati profesi dan kehidupannya dalam dunia fotografi.
Bagaimana dengan si Raju yang memang minatnya di bidang teknik? Tapi ternyata nilainya biasa saja, bahkan buruk. Hal itu karena Raju terlalu takut, sehingga tidak percaya diri. Pada akhirnya ketika ia bisa mengatasi rasa takutnya, ia mulai menikmati minatnya lalu menemukan jati dirinya. Bahkan ia bisa melakukan beberapa riset  baru di bidang sains.


Itulah mengapa kita harus mengenali  apa yang menjadi passion kita, dengan begitu,  kita  bisa berbahagia  ketika menjalaninya. Akhirnya kita bisa memberikan terbaik dari kita. Menurut sebuah artikel di hipwee.com, ada 7 pertanyaan yang bisa membantu kita menemukan passion dan rencana hidup.

 

Baca: 7 Pertanyaan yang Akan Membantumu Merenung dan Menemukan Renjana Hidup.

 

Pertanyaan itu antara lain, apa yang melengkapi hidup kita selama ini, apa yang kita yakini, apa yang kita bisa,  apa yang mau kita coba,  apa yang kita sukai, apa yang ingin kita capai, dan ingin menjadi seperti apa kita nanti?

 

Hingga saat ini, meski belum tahu betul apa bakat saya, sejauh ini saya menikmati menjadi penulis. Mungkin memang belum bisa sehebat penulis besar lainnya, karena selama ini hanya sebatas tulisan curhat di blog, haha. Ke depan, mungkin saya akan terus menulis, meski ada atau tidak yang membaca atau yang membayar, karena saya niatkat tulisan-tulisan yang pernah saya buatkan sebagai warisan cerita kepada anak-anak atau cucu kelak.

Dan yang terakhir, meski kita telah tahu dan asyik menjalani passion atau minat kita, jangan sampai minat tersebut malah menjauhkan kita atau orang lain dari semua aturanNya. Misalnya saja kita punya passion di bidang fashion design, tapi kemudian kita malah membuat desain baju-baju seksi yang membuat orang lain tertarik untuk memakainya. Padahal kita bisa mengalihkan untuk membuat desain baju muslim, jilbab anak, atau lainnya. Atau ketika menjadi penulis, tulisan-tulisan kita malah membuat orang lain semakin menjauh dari ajaranNya. Padahal banyak di luar sana designer baju muslim atau penulis yang sukses, tanpa harus mempengaruhi orang lain agar menjauhi aturanNya. Jadi setelah mengenali passion, lalu menjalaninya, jangan lupa juga, cari keberkahannya.

Demikian curhatan emak rempong hari ini. Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari tulisan ini. Terima kasih. 🙂

2 comments

  • Kalau kita nggak punya passion rasanya mengerjakan sesuatu hal yg nggak kita sukai berasa nggak ikhlas yah T_T

  • Betul tuh bun.. Dulu waktu sekolah juga saya masuk ke jurusan IPA karena pilihan orang tua, padahal sebetulnya saya lebih tertarik dengan ilmu sosial. Saya jadi kesulitan mengikuti pelajaran. Untungnya waktu kuliah saya berhasil lolos SPMB dengan jurusan pilihan saya, akhirnya mau tidak mau orang tua mengizinkan. Benar saja, menjalani kuliah sesuai passion ternyata lebih enteng!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *