Kenangan yang Tersisa dari Masa Kecil Dulu

Kenangan masa kecil

Kalau bicara mengenai masa kecil, sepertinya saya tidak punya kenangan khusus tentang satu atau dua kejadian dari masa kecil dulu. Semua berlalu biasa saja. Tapi saya bisa ingat sedikit apa saja yang masih tersisa di ingatan kala kecil dulu.

Saya lahir dari keluarga yang biasa saja, ayah nelayan dan ibu penjual sayur. Dan mungkin ini juga yang membuat saya tumbuh menjadi anak yang minder dan pemalu. Namun, Emak selalu meyakinkan saya agar tak pernah malu, kecuali mencuri. Sedikit demi sedikit keberanian dalam diri saya pun muncul. 

Masa kecil saya dihabiskan di sebuah kampung yang berada di pinggiran kota, jadi tidak maju sekali, juga tidak mundur sekali, sedang-sedang saja. Sebelum mulai sekolah, saya merasakan menjadi anak titipan, karena Emak berkeliling jualan sayur sejak pagi, Ayah yang harus melaut. Kadang saya dititipkan di rumah Bibi atau di rumah nenek. Sesekali saya ikut main ke rumah teman anak tetangga. Ini pula yang pada akhirnya memantapkan hati saya mengapa saya tak mau menitipkan anak-anak saya sekarang, lalu bekerja. Saya merasakan sendiri bagaimana suka dukanya jadi anak titipan. Memang kadang ada sukanya, saya habiskan waktu bermain dengan sepupu, teman-teman dan lainnya. Tapi kadang saya menangis, sedih atau disakiti. Pernah pipi saya dicubiti oleh tetangga saking gemasnya, lalu saya menangis lama sekali. Belum lagi bila ada anak-anak nakal yang menjahili. Siang hari sekitar jam 11, Emak mulai datang dan saya akan dibonceng di belakang, duduk di gerobak sayurnya. Saya senang sekali bila Emak pulang, karena ada banyak jajan yang Emak jual, dan saya akan mengambilnya satu atau dua bungkus.

Setelah masuk SD, saya berhenti jadi anak titipan. Emak dan Ayah tak sempat mengantarkan saya ke TK (selain karena kendala dana), sehingga saya langsung masuk SD. Sayangnya, Emak terlambat memasukkan saya, kala itu gurunya bilang usia saya masih 6 tahun kurang ( padahal saya lahir di bulan juli, yang merupakan awal caturwulan kala itu), lalu tahun depannya, ketika usia saya 7 tahun, saya baru mulai menjalani hari menjadi anak SD.

Saat SD, saya tumbuh jadi anak yang mandiri dan pemberani. Hanya hari pertama Emak mengantarkan saya ke sekolah. Sisanya, berangkat bersama dengan teman-teman anak tetangga. Setiap pagi, karena Emak sudah mulai jualan dari jam 5an, saya akan bangun dan beres-beres keperluan untuk sekolah sendiri. Kadang bila Emak tak sempat masak atau tak ada lauk, kami sarapan hanya dengan nasi putih dan kerupuk. Saya ingat betul nasi goreng yang dimasak Emak bumbunya hanya bawang merah dipotong-potong, garam dan micin. Enak sekali rasanya. Ketika usia saya agak besar, sekitar 9 atau 10 tahun, Emak mulai memberikan tanggung jawab bersih-bersih kepada saya. Sebelum sekolah, biasanya saya akan mencuci piring terlebih dulu. Bila tidak, maka terbitlah omelan Emak di siang harinya.

Saya tumbuh jadi anak yang berprestasi ketika SD. Hanya ketika kelas 3 saya tak meraih juara. Sisanya, minimal juara 4 di kelas. Sepertinya bukan karena cerdas, tapi karena saya rajin mengulang kembali pelajaran di rumah. Saya suka sekali belajar kala itu. Ini pula yang mendasari saya mengapa ingin menyekolahkan Abang di usia 7 tahun untuk masuk SD, selain karena berbagai pendapat ahli, juga agar mentalnya siap.

Pulang sekolah, biasanya saya habiskan dengan menonton TV atau menunggu Emak pulang berjualan. Tontonan yang paling sering saya tonton sewaktu sekolah adalah film India. Film yang entah mengapa adegan kejahatannya terjadi begitu lama. Ketika tokoh utamanya telah berhasil menang, barulah polisinya datang, haha. Saya ingat dengan tokoh Mitun, Govinda dan Amita Bachan. Karena itu pula saya jadi penggemar film India, terutama yang diperankan oleh Shahrukh Khan, haha. Itu hari senin hingga jum’at. Bila hari sabtu, sepulang sekolah saya akan menonton film fampir, mayat yang loncat-loncat lalu berhenti bila ditempel kertas kuning, haha.

Bila Emak telah pulang, saya akan membantunya memasak atau membereskan jualannya, karena bila tidak, siap-siap kuping merah karena dimarahi. Emak akan masak apa saja dari sisa jualannya. Kadang ikan lempah kuning, masakan khas Bangka, kadang tumis sawi dicampur tahu, atau lainnya. Hal yang sering saya lakukan ketika Emak pulang dari jualan adalah membuat es tahu. Jadi tahu mentah dicuci, diberi gula, lalu tambahkan es batu. Enak sekali kala itu.

Siangnya, saya akan bermain ke rumah teman atau tidur. Sore harinya, Emak dan Ayah akan pergi ke kebun, menyiram tanaman atau lainnya. Kadang saya ikut, kadang di rumah saja, bermain hingga magrib tiba, haha. Bila Emak dan Ayah berangkat ke kebun, saya bertugas membersihkan rumah, mulai dari masak nasi, menyapu rumah, dan mencuci piring. Jangan sampai rumah masih kotor ketika Emak pulang, omelan panjang pun akan terdengar lama sekali. Karena kami belum punya sumur di rumah, kami pun harus mengambil air dari sumur umum di dekat masjid. Jaraknya sekitar 200an meter dari rumah. Kami melakukannya bergantian, bersama kedua Abang saya, meski seringnya berujung pada saling tunjuk.

Malam harinya, saya akan mengaji di masjid dekat rumah. Belajar do’a sholat, tajwid, kisah nabi, atau lainnya. Inilah yang mendasari pengetahuan agama saya hingga kini. Karena para guru inilah saya kemudian bisa mengaji Al-Qur’an dengan baik dan lancar.

Malam harinya, setelah isya dan pulang mengaji, Emak akan mengajari saya membaca. Awalnya huruf alfabet, lalu membaca. Sebuah tongkat disiapkan disebelahnya, haha. Tapi inilah yang kemudian membuat saya sudah mahir alfabet dan langsung bisa membaca sejak kelas 1 SD.

Bila senin hingga sabtu saya sekolah, minggunya saya bersama kedua saudara laki-laki saya lainnya, akan ikut Emak dan Ayah ke kebun. Kebun ini merupakan tanah pinjaman dari temannya ayah. Jadi kami bebas menanam apa saja di sana. Tapi saya lupa ada pembagian hasil atau tidak. Baru setelah beberapa tahun setelahnya, ayah dan emak bisa membeli sepetak tanah milik sendiri. Di kebun kami punya pondok yang terbuat dari kayu. Suasananya sejuk sekali. Karena setiap ke kebun kami selalu melewati tempat pembuangan sampah, saya dan abang selalu berhenti dan mencari barang yang masih bagus. Sesekali saya menemukan majalah bobo yang masih bagus. Kadang ada kotorannya sedikit, tapi saya tetap bisa membaca ceritanya. Majalah yang saya ambil ini sudah berbulan-bulan sejak diterbitkan. Saya pun membaca semua isinya. Mulai dari surat pembaca, jawaban, dan lainnya. Hal ini pula yang kemudian mendasari saya mengumpulkan banyak buku di rumah, agar anak-anak tak seperti saya, jarang sekali bisa punya buku bagus, karena tak mampu membeli. Waktu itu belum tren meminjam dan membaca di perpustakaan, jadi saya belum terlalu aktif. Baru sejak SMP saya mulai sering ke perpustakaan.

Bila air sumur di dekat masjid kering, kami dan semua warga kampung akan mandi di kolong, semacam danau yang ukurannya sangat lebar. Airnya jernih dan tenang. Dari sini pula saya sedikit belajar berenang, meski tak begitu mahir, karena emak tak pernah mengizinkan saya bermain terlalu jauh karena takut saya akan tenggelam.

Itulah beberapa memori masa kecil yang masih saya ingat. Tidak ada gadget atau mall. Baju baru pun hanya setahun sekali kami beli ketika idul fitri. Saya belajar banyak kemandirian sejak kecil, dan ternyata bermanfaat sekali untuk saya ketika dewasa bahkan hingga kini. Meski ada beberapa kejadian masa kecil yang saya sesali, namun saya bersyukur bisa melalui semuanya dengan penuh tawa. Main bongkar pasang, sembunyi gong, bola kasti, dan lainnya adalah mainan yang sering saya mainkan bersama teman-teman. Saat uang seratus rupiah masih bernilai, saat itulah saya dibesarkan. Sekarang giliran saya menciptakan kenangan masa kecil yang menyenangkan bagi anak-anak.

Ada yang punya cerita masa kecil seperti saya? Sharing di kolom komentar ya. 🙂

4 comments

  • duh itu dicubit pipi sama tetangga hehehe aku pasti besoknya udah ga mau dititip kesitu

  • Waaah masa kecilnya menyenangkan loh Mbak. banyak belajar dari Emak, dikasih tanggung jawab, jadi pas sudah besar sudah bisa mandiri. Nasi goreng emaknya sama dengan nasi gorengku sekarang. Saya bikin nasi goreng buat anak-anak cuma nasi, irisan bawang merah dan bawang putih trus garam, enggak pakai micin tapi.

  • Wah sepertinya kita satu generasi. Nonton film india dan vampir klo hari sabtu usai sekolah. Kdg sampai lari-larian biar ga ketinggalan hehe… Smg kita bisa menciptakan masa kecil yg menyenangkan buat anak ya, Mak. Salam kenal 🙂

  • Orangtuaku jg dua2nya bekerja. Jadi di sekolah suka diledek sama guru2 dibilang ‘anak mba’. Dulu, itu ledekan. Sekarang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *