Kesalahan-kesalahan yang Saya Lakukan saat Menjadi Orangtua

 

Menjadi orang tua berarti menjadi pembelajar selamanya. Menjadi orang tua tidak sama seperti sekolah atau kuliah, yang bila ujian kelulusan selesai, berarti selesailah semua ujian.

Menjadi orang tua itu harus selalu siap dengan semua ujian yang akan menghadang. Salah satu ujian terbesarnya adalah sabar. Kelihatannya memang sepele, tapi tanpa sabar, seseorang belum dikatakan lulus menjadi orang tua, meski hasil kelulusannya hanya bisa diketahui nanti, bila di akhirat anak benar-benar dapat menjadi penyejuk mata, maka barulah orang tua dikatakan sukses.

Menjadi orang tua juga berarti menjadi panutan. Jangan harap anakmu bisa baik, bila kita juga belum baik. Saya rasakan sendiri bedanya, sebagai anak, bila diperintahkan melakukan sesuatu, rasanya lebih mudah bila orang tua juga turut melakukannya.

Nah, ini yang saya sering lupa. Saya sering lupa bahwa menjadi orang tua adalah menjadi contoh. Anak akan selalu mengcopy paste apa yang ayah ibunya lakukan.

Saya rasakan betul terhadap Abang. Setelah membersamainya hingga usianya 3 tahun dan semoga akan terus berlanjut, banyak sekali perilaku negatif Abang yang sepertinya meniru saya. Karenanya, saya merasa ada banyak kesalahan yang telah saya buat ketika menjadi orang tua.

1. Membiarkan si kecil terpapar gadget sejak kecil

Sejak si kecil lahir, hampir semua kegiatannya mulai dari menyusui, membersamai ketika main, saya lakukan berbarengan dengan main gadget. Menyusui sambil scroll timeline, jalan-jalan sambil ngeblog, dan banyak lagi lainnya. Maka akhirnya wajar bila si Abang jadi kecanduan gadget. Suka mengamuk, kalau lihat hape selalu ingatnya video. Untuk mengurangi kecanduannya, kami minta dia membaca buku barulah menonton video. Setidaknya ada kegiatan positif yang masih dia lakukan selain main gadget. Dan ini sepertinya agak berhasil. Hanya saja, kadang suka sedih kalau lihat si Abang mau membaca buku hanya karena ia tahu setelahnya akan ada video yang boleh ditontonnya. Bukan karena benar-benar suka membaca. Maafkan Ummi ya Nak, semoga ke depan kita bisa terus memperbaiki diri, Aamiin.

2. Sering marah

Ini kelemahan yang belum bisa saya hilangkan dari dulu. Mungkin karena trauma masa lalu, saya dibesarkan di keluarga yang semi otoriter, salah sedikit, dimarahi. Dan sedihnya itu pun terbawa ke dalam gaya saya dalam mendidik Abang. Batas kemarahan saya sangat tipis. Padahal berulang kali saya sudah mengikhlaskan, memaafkan, tapi kok masih sulit, saya masih sering marah-marah. Dan sedihnya, ini menurun ke si Abang, dia jadi gampang marah, sama seperti Umminya.

3. Kurang sabar

Sama seperti marah, sabar ini juga stok yang selalu mau saya update dan upgrade. Ketika saya ingat, saya masih sabar. Tapi ketika kelelahan melanda, maka stok sabar akan dengan mudah menguap. Lagi-lagi si Abang juga jadi kurang sabar.

4. Tak mau mencoba hal baru

Saya itu setia. Bila sudah suka dengan satu hal, enggan beralih ke hal lainnya. Mencoba juga tak mau. Dan si Abang pun meniru, bila dihadapkan pada makanan baru, dia sulit sekali untuk mencoba.

5. Penakut

Sejak menikah, saya jadi penakut. Padahal dulu sewaktu belum menikah rasanya saya yang paling berani di antara teman perempuan saya. Sekarang kalau lihat ulat, takut, lihat tomcat, takut, lihat hewan asing, takut. Si Abang pun akhirnya jadi agak penakut. Ketemu suatu hal yang baru, takut. Perlu lama untuk menenangkan dan mengenalkannya baru dia berani.

6. Kurang dalam mengajarkan agama

Kami terus berusaha mengajarkan si kecil dengan akidah yang baik. Sholat, berdo’a, mengaji, dan lainnya. Tapi rasanya kurang optimal. Banyak sekali khilafnya. Abang lebih senang berjoget ketimbang mengaji. Lebih cepat menyanyi ketimbang berdo’a.

 

Sebenarnya masih banyak kesalahan-kesalahan lain yang saya buat. Hanya saja, yang kelihatan jelas baru yang saya tuliskan di atas. Begitulah, hari demi hari kami terus belajar menjadi orang tua yang baik. Dalam do’a selalu saya pinta kemudahan agar bisa mendidik mereka menjadi generasi shalih dan shalihah.

Semoga Allah mudahkan kami untuk senantiasa menjadi orang tua yang baik yang mau terus belajar, Aamiin. Karena menurut saya penting sekali bagi para orang tua untuk mau selalu belajar. Apalagi di zaman sekarang dengan berbagai pengaruh negatifnya.

Karenanya, saran saya untuk yang mau menikah, jangan hanya mencari istri cantik yang jago masak atau laki laki ganteng yang penghasilannya banyak. Carilah calon ibu dan ayah terbaik untuk anak-anakmu kelak. Jangan sampai kita menjadi orang tua hanya karena kita adalah ayah dan ibu biologis dari sang anak. Tanpa mendidik atau mengasihi.

Tetap semangat ya dear parents! Semoga bermanfaat. 🙂

#ODOP

#day9

#BloggerMuslimahIndonesia

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *