Ketika Harus Puasa Sambil Menyusui

Puasa sambil menyusui.

#NgobrolinRamadan edisi ketiga.

 

Assalamu’alaikum, bagaimana kabarnya pembaca sepradik.com semua? Semoga masih terus semangat ya. Sudah di penghujung 10 hari yang kedua nih, semoga kita bisa terus memaksimalkan ibadah di bulan ini dan menjadi insan yang bersih dari dosa, Aamiin.

 

Ngomong-ngomong soal puasa, ramadan ini adalah ramadan keenam saya puasa sambil menjalani peran khusus sebagai ibu. Apa itu? Hamil dan menyusui. Kalau dulu saya pernah cerita tentang bagaimana puasa saat hamil dan menyusui, kali ini saya mau sedikit cerita bila harus puasa sambil menyusui.

 

Baca juga: Ibu Hamil dan Menyusui Mau Puasa? Kenapa Enggak?

 

Alhamdulillah ramadan kali ini si adik sudah berusia 15 bulan, sudah bisa lari dan sedikit mengoceh. Karena adik masih ASI, mau tidak mau ramadan kali ini saya kembali berpuasa sambil menyusui. Meskipun memang ada keringanan ya, bagi yang khawatir mengganggu kesehatan anak dan ibu, diperbolehkan tidak puasa lalu mengganti di hari lain ( semoga saya nggak salah, untuk lebih jelasnya silahkan tanya Ustadz atau Ustadzah yang lebih mumpuni ya). Namun karena si adik sudah mulai makan (meski cuma sedikit), saya rasa tak masalah bila harus mengajaknya puasa. Apalagi mengingat pengalaman sebelumnya saya aman-aman saja harus berpuasa ketika hamil atau menyusui. Alhamdulillah.

Lalu, apa saja yang saya lakukan agar tetap fresh dan kuat berpuasa sambil menyusui?

1.Berdo’a pada Allah agar dikuatkan

Selama puasa ramadan tahun ini, ada satu hari saya dan suami telat sahur. Masih di sepuluh hari pertama, tapi saya lupa tepatnya. Kami terbangun karena hape suami tiba-tiba adzan subuh. Terkejut lah kami. Padahal malam kemarinnya, saya tidak makan nasi ( hanya makan beberapa ote-ote lalu kenyang). Tapi rasanya kok sayang, kalau sampai tidak puasa, maka bismillah, saya niatkan puasa sambil berdo’a agar dikuatkan. Setiap sholat saya minta diberi kekuatan agar bisa terus puasa sampai akhir. Alhamdulillah, hari itu bisa sampai magrib, meski di penghujung hari badan agak lemas, haha.

Jadi penting sekali menurut saya do’a ini. Biar kita lebih kuat dan semangat.

  1. Cukup sayur, minum, dan asupan bergizi lainnya

Selama ramadan saya selalu usahakan menu berbuka dan sahur selalu ada sayur dan buah. Bila pada puasa-puasa tahun sebelumnya saya banyak sekali makan (maksudnya makan harus banyak agar tidak lapar, hehe), tahun ini saya lebih santai. Makan secukupnya. Untuk minum, saya usahakan tidak sekaligus, bergilir dari waktu buka sampai sahur. Ketika berbuka minum, sebelum tarawih minum, sepulang tarawih minum, sebelum dan sesudah bangun tidur minum lagi. Namun ketika sahurnya mepet, saya jadi minum agak banyak di ujung, haha.

 

Baca juga #NgobrolinRamadan edisi kedua:

Tiga Menu Takjil Praktis dan Sehat Ala Emak Rempong di Rumah

 

  1. Bila perlu minum suplemen

Selama puasa, setiap sahur, saya rutinkan minum kurma yang direndam bersama susu UHT. Saya tak tahu pasti apa manfaatnya bagi tubuh, namun kemudian jadi semacam sugesti bahwa dengan ini InsyaAllah puasa akan lebih kuat. Tidak harus dengan susu dan rendaman kurma, bila lebih suka suplemen yang lain, mungkin bisa diganti.

  1. Jangan paksakan diri dan istirahat yang cukup

Selama puasa saya tak mau memaksakan diri melakukan semuanya ketika berpuasa. Takutnya nanti energi habis, lalu puasa jadi terganggu. Aktivitas seperti mencuci baju, piring atau lainnya yang agak berat pindah di pagi, sore, atau malam. Sekarang sih lebih seringnya malam, hehe. Bila merasa lelah, saya langsung istirahat, duduk atau tidur-tiduran. Bila energi sudah sedikit pulih, baru dilanjutkan kembali.

  1. Kenali mengapa balita rewel

Kadang si adik itu maunya menyusu terus tanpa henti. Bila dilepas dari ASInya, marah-marah. Ternyata setelah dicek barulah ketahuan bahwa dia pup atau kepanasan atau lapar. Jadi meskipun anak langsung tenang ketika disusui, agar tidak semakin lemas karena si adik minta disusui terus, sebaiknya kenali tanda balita rewel. Dengan begitu tanpa perlu disusui, cukup diselesaikan masalahnya, misal dengan ganti popok, diajak main di luar, atau diberi makan, si adik kembali senang.

 

Baca juga #NgobrolinRamadan edisi pertama:

Mengenalkan Bulan Ramadan pada Anak, yang Penting Mereka Merasakan Semangat Ramadan.

 

  1. Pilih aktivitas bersama anak yang tidak terlalu menguras energi

Selain menyusui saya juga harus menemani si abang yang baru berusia 3 tahun 10 bulan, sedang aktif-aktifnya minta perhatian. Tapi agar saya tak lemas di akhir, saya memilih kegiatan yang tidak terlalu menguras energi, seperti baca buku, menulis, dan lainnya.

  1. Gantian dengan suami ketika mengasuh anak

Bila mulai lelah, saya minta suami untuk menggantikan menemani anak-anak. Sehingga saya bisa sedikit istirahat lalu kembali main. Meski pada praktiknya seringnya keterusan dan suami yang menemani anak, hehe (plis jangan ditiru).

 

Kayaknya itu saja yang saya lakukan agar bisa terus semangat puasa sambil menyusui. Tema tentang puasa sambil menyusui ini jadi tema ketika #NgobrolinRamadan saya bersama Mba’ Diah Deka dari dekamuslim.com, pas sekali karena Mba’ Diah juga puasa sambil menyusui si bungsu yang baru berusia beberapa bulan.

 

Baca juga punya Mba’ Diah: Pengalaman Puada Ramadan Sebagai Ibu Menyusui Dua Anak.

Kamu juga punya tips lain agar terus semangat puasa sambil menyusui? Atau mau request tema untuk #NgobrolinRamadan ? Sharing di kolom komentar ya, terima kasih. 🙂

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *