Kisah Sahabat Rasulullah, Abu Ayyub Al-Anshari

Kisah Sahabat Rasulullah, Abu Ayyub Al-Anshari

 

Nama lengkapnya Khalid ibn Zaid ibn Kulaib, dari Bani Najjar. Julukannya adalah Abu Ayyub Al-Anshari. Beliau adalah sahabat yang rumahnya jadi tempat menginap pertama Rasulullah, ketika hijrah ke Madinah.

Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, semua orang gembira menyambut kedatangannya. Semua berharap-harap Rasulullah akan menginap di rumahnya.

Ternyata Rasulullah memilih tinggal di Quba, yang juga merupakan tempat berdirinya masjid pertama. Semua petinggi Madinah berharap sekali Rasulullah mau menginap di rumah mereka. Namun Rasulullah berkata,” Biarkanlah unta ini berjalan sekehendaknya karena dia diperintah oleh Allah.”

Lalu Rasulullah pun mengikuti untanya kemana ia berjalan. Setiap orang yang rumahnya terlewati, sedih sekali karena berarti kesempatan menjadi rumah menginap Rasulullah telah sirna. Sebaliknya, yang akan dilewati harap-harap cemas, dengan harapan Rasulullah akan menginap di rumah mereka.

Akhirnya, unta Rasulullah pun berhenti di lapangan depan rumah Abu Ayyub. Namun Rasul tak langsung turun, diikutinya lagi untanya berjalan, namun kemudian kembali lagi ke halaman rumah Abu Ayyub. Akhirnya Rasulullah pun menginap di rumah Abu Ayyub.

Abu Ayyub sangat senang sekali. Diangkatnya semua barang-barang Rasulullah. Rumahnya yang dua lantai, dibersihkan dan dikosongkan bagian atas, agar Rasulullah menginap di atas, tetapi kemudian Rasulullah memilih tinggal di bawah.

Pada malam hari, ketika tidur, Rasulullah tidur di bawah, Abu Ayyub tidur di atas. Cemaslah Abu Ayyub dan istrinya, “Istriku, apa yang kita lakukan ini? Rasulullah berada di bawah, dan kita di atasnya? Patutkah hal seperti ini? Kita berada di antara Nabi dan wahyu yang akan turun kepada Beliau!”.

Jadi semalaman Abu Ayyub dan istrinya tidak tidur, mereka menyingkir dari tengah-tengah ruangan yang diperkirakan Rasulullah tidur dinbawahnya. Bila hendak pindah ke sisi lain ruangan, mereka akan berjalan menempel dinding, tak ingin berjalan di atas Rasulullah.

Pagi harinya Abu Ayyub bercerita tentang hal tersebut kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah berkata,” Tenanglah Abu Ayyub, sesungguhnya merasa lebih enak berada di bawah, karena nantinya tentu akan  banyak tamu yang berdatangan.”

Lalu pada malam lainnya, kendi air di kamar Abu Ayyub tumpah, sementara kain untuk mengelap hanyalah selimut Abu Ayyub. Akhirnya Abu Ayyub menceritakan perkara ini, lalu Rasulullah pun tidur di atas dan Abu Ayyub tidur di bawah.

Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayyub sekitar 7 bulan, setelah itu Rasulullah pindah di bilik-bilik sebelah masjid. Rasulullah dan Abu Ayyub merupakan tetangga.

Pada suatu siang yang panas, Umar keluar karena laparnya, Abu Bakar juga keluar karena laparnya. Lalu mereka berdua pun bertemu Rasulullah, yang keluar juga karena sangat lapar. Lalu Rasulullah pun mengajak Abu Bakar dan Umar pergi ke rumah Abu Ayyub, biasanya Abu Ayyub selalu menghidangkan makanan untuk Rasulullah, bila Rasulullah tidak datang ketika jam makan, barulah Abu Ayyub dan keluarganya yang memakannya.

Ketika sampai di rumah Abu Ayyub dan mengucapkan salam, Abu Ayyub sedang mengurus pohon kurma di samping rumah. Mengetahui Rasulullah datang ke rumahnya, Abu Ayyub langsung memotong setandan besar kurma yang isinya terdiri dari kurma kering(tamar), setengah masak(busr), dan basah(rutab). Ketika Rasulullah bertanya mengapa Abu Ayyub melakukannya, Abu Abu Ayyub menjelaskan bahwa ia ingin Rasulullah makan kurma kering, sedang, dan basah.

Kemudian Abu Ayyub pun memotongkan seekor kambing untuk Rasulullah, namun Rasulullah berpesan untuk tidak memotong kambing yang sudah mengeluarkan susu. Sehingga akhirnya Abu Ayyub memotong seekor anak kambinh. Oleh Abu Ayyub, istrinya diminta membuat adonan roti dan memasak kambing menjadi dua masakan, gule dan kambing bakar. Setelah selesai, makanan pun dihidangkan kepada Rasulullah. Rasulullah pun mengambil roti dan sepotong daging, lalu meminta Abu Ayyub mengantarkannya kepada Fatimah, karena sudah beberapa hari ini ia tak makan apapun.

Ketika selesai makan, Rasulullah berkata,” roti, daging, tamar, busr, dan rutab.” Kedua mata beliau berlinangan ketika melanjutkan,”Demi jiwaku di tanganNya, inilah yang disebut nikmat, yang akan kalian pertanggungjawabkan kelak pada hari kiamat. Bila kalian menghadapi hidangan seperti ini dan akan menyantapnya, bacalah basmalah. Bila sudah kenyang ucapkan: “alhamdulillahilladzi huwa asba’anaa wa an’ama’alaina fa afdhala (segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan sampai kenyang dan memberi karunia sebaik-baiknya)”.

Setelah makan, Rasulullah meminta Abu Ayyub datang ke rumahnya. Awalnya Abu Ayyub tak mendengar, sehingga Umar merasa perlu kembali mengulang kalimat Rasulullah untuk mengundang Abu Ayyub ke runah Rasulullah. Lalu Abu Ayyub mengiyakan dan berkata akan datang keesokan harinya.

Ketika di rumah Rasulullah, Abu Ayyub dihadiahkan seorang budak. Rasulullah berpesan agar menjaganya dengan baik, karena selama dengan Rasulullah, ia merupakan anak yang baik.

Lalu dibawalah pulang budak tersebut. Karena terngiang-ngiang dengan pesan Rasulullah tersebut, akhirnya Abu Ayyub memerdekakan budak itu, setelah sebelumnya berunding dengan istrinya.

Itu adalah kisah Abu Ayyub ketika menjadi tetangga dan tuan rumah Rasulullah. Betapa Beliau sangat menghargai tamu dan tetangga.

Selain itu, Beliau juga sangat semangat dalam membela islam. Jarang sekali beliau izin tidak hadir perang kecuali sedang bertugas. Perang terakhir yang diikutinya yaitu perang menaklukkan konstatinopel, saat usianya 80 tahun. Namun kemudian beliau sakit, lalu berpesan pada yang lain untuk menguburkannya di dekat konstatinopel. Akhirnya wafatlah Abu Ayyub. Jenazahnya dikuburkan tak jauh dari dinding kota konstatinopel.

Begitulah cerita tentang sahabat Rasulullah, Abu ayyub Al-Anshari.

Dalam sebuah diskusi di chat WA saya, seorang teman bilang, anak muda sekarang kehilangan figur. Kita butuh figur yang baik, dari tontonan yang baik, seperti waktu kita kecil dulu. Mainan dan tontonannya tidak seperti sekarang. Saya kurang setuju, bila pemuda muslim sekarang masih kehilangan figur. We already have that! Rasulullah dan sahabat adalah figur terbaik sepanjang masa! Tidak pernah lekang oleh waktu, selalu update, dan semua perilaku mereka adalah contoh. Tinggal kita para keluarga terutama orang tua, mau atau tidak mengajarkannya, menceritakannya, dan mencontohkannya.

Semoga tulisan ini bermanfaat ya. Ditulis dan diceritakan kembali berdasarkan referensi dari buku Sosok Para Sahabat Nabi karya Dr. Abdurrahman Raf’at al-Basya terbitan Qisthi press 2010.

#ODOP

#Bloggermuslimahindonesia

4 comments

  • Subhanallah.. mulianya akhlak Nabi dan para sahabat😍
    Semoga kita bisa meneladani dengan baik. Terimakasih ya mba.. tulisannya menginspirasi👍👍

  • Saya jadi berkaca-kaca membacanya, Mbak. Bener banget, figurnya udah ada cuma masalahnya mereka lebih suka mengenal selebriti, girl band atau boy band daripada mengenal para sahabat, tabi’in dan para ulama besar Islam. Padahal banyak banget keteladanan karakter yang bisa kita tiru dari mereka…

  • Maa Syaa ALlah… betul sekali Mba, sebenarnya kita tak pernah kehilangan figur hanya saja seringkali yang dijadikan idola adalah yang kekinian itu 🙁
    Jadi ingat pas ngisi kajian anak-anak remaja pernah mereka request untuk tidak banyak bercerita kisah-kisah yang telah lalu… padahal dari sana lah kita belajar. Hm.. mungkin waktu itu penyampaian saya yang kurang menarik sehingga mereka merasa bosan 🙁

  • Masya Allah, aisyah juga kagum sekali dengan beliau..
    Pertama kali baca cerita beliau saat masih MI.. ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *