Kuliah di Daerah Atau Luar Daerah?

 photo PhotoGrid_1479465144548-01_zpshlrkdxtj.jpeg
Kuliah di daerah atau luar daerah?

Dalam hidup, kita sering dihadapkan pada dua pilihan, yang mau tidak mau harus hanya kita pilih salah satu. Sayangnya, kedua pilihan tersebut terkadang sama-sama beresiko. Dan kadang resiko itu bukan hanya berkaitan dengan diri sendiri, melainkan juga melibatkan orang-orang terdekat kita. Apalagi bila ternyata pilihan yang sebenarnya sangat kita inginkan pada akhirnya hanya akan membuat orang-orang terdekat terutama orang tua menderita, duh, tambah sulit untuk menentukan. Pada saat itu kita benar-benar dilema.

Saya sering mengalami dilema dalam hidup. Salah satunya ketika baru saja selesai lulus SMA dulu, saya dilema, mau kuliah di universitas yang ada di daerah saja atau harus terbang ke luar pulau dan melanjutkan pendidikan nun jauh di sana meninggalkan kedua orang tua. Pilihan saya waktu itu adalah Pulau Jawa. Tentu bukan berita baru lagi kalau di Pulau Jawa ada banyak kampus yang bagus dan berkualitas.

Kedua orang tua berat sekali rasanya melepas anak gadis semata wayangnya ini untuk menuntut ilmu ke Pulau Jawa.

Sebenarnya alasan utama kenapa kedua orang tua berat sekali memberikan izin saya untuk kuliah di luar pulau adalah biaya. Belum apa-apa mereka sudah membayangkan biaya pesawat yang mahal untuk pulang pergi, ditambah lagi uang sewa rumah, biaya makan, biaya buku, transportasi, kuliah dan sebagainya. Mereka tak tega membiarkan anaknya ini hidup terlantar di daerah orang, gara-gara kedua orang tuanya tak mampu membiayai.

Awalnya, saya mau memilih jurusan Sastra Jepang di UGM Jogjakarta. Karena ketertarikan saya pada bahasa dan gaung ketenaran kampus tersebut yang sudah membahana, saya merasa yakin untuk kuliah di sana. Kakak kelas pun sudah bolak-balik ditanya mengenai jurusan ini, semakin menambah kemantapan saya untuk kuliah di sana. Lalu ketika menyampaikan maksud hati pada kedua orang tua, langsung ditolak, karena alasan biaya. Ayah yang hanya seorang nelayan, sedangkan Emak yang hanya membuka toko kelontong di depan rumah, takut kalau suatu saat tidak bisa mengirimkan uang bulanan bila saya kuliah di luar.

Baiklah, saya pun menerima. Tapi tak putus asa untuk terus mencari cara agar bisa kuliah di luar. Karena Bangka Belitung merupakan provinsi baru, beberapa kampus masih berusia muda. Selain itu, kampus negeri masih sedikit dan kalaupun ada swasta, kadang kualitasnya masih perlu dipertanyakan. Apalagi waktu itu ego remaja saya selalu bilang kalau kampus di pulau Jawa jauh lebih bagus ketimbang yang ada di Bangka.

Kemudian saya mencoba memilih daerah lain yang biaya hidupnya relatif murah dan kuliah yang tidak terlalu lama. Waktu itu pilihan jatuh pada fisioterapi di UNS Solo. Lobi ke kakak kelas pun mulai dilakukan. Namun ketika memberitahukan kepada kedua orang tua, lagi-lagi ditolak dengan alasan yang sama. Belum lagi karena kami sama sekali tidak memiliki keluarga di luar Bangka.

Lagi-lagi pilihan saya ditolak. Tapi tetap tidak membuat saya menyerah. Saya memilih jurusan yang lain, di kampus yang lain yang tidak perlu mengeluarkan biaya, kuliahnya cepat, selesai kuliah, bisa langsung kerja. Waktu itu pilihannya jatuh pada STAN di Jakarta atau STKS di Bandung. Keduanya sekolah kedinasan. Bila lolos seleksi beasiswa, kuliah di sana akan dibiayai. Tersedia fasilitas asrama dan kemungkinan bekerja di dinas terkait lebih besar.

Maka saya pun langsung melobi kedua orang tua. Alhamdulillah mereka setuju. Saya pun ikut tes STAN di Palembang. Sempat ikut bimbel agar bisa lulus tes. Sayangnya, nasib berkata lain, saya tidak diterima di STAN.

Waktu itu, SPMB atau SBMPTN belum dilaksanakan di Bangka seperti sekarang. Sehingga untuk ikut seleksinya saja, yang belum tentu lolos, harus menghabiskan biaya yang lumayan untuk ikut tes di luar pulau. Untuk STAN akhirnya Emak dan Ayah menyetujui karena tes nya di Palembang, yang bila ditempuh dengan perjalanan laut, jauh lebih murah dan lebih cepat, selain itu bila lolos seleksi nanti akan dibiayai. Tapi sayang, belum lulus.

Pilihan terakhir adalah STKS di Bandung. Kali ini seleksinya di Pangkalpinang, dekat dengan rumah. Dan ternyata, saya dinyatakan lulus. Tapi tidak sepenuhnya beasiswa, hanya sepertiga biaya saja yang dibantu pemerintah. Waktu itu saya lulus kategoru IB, izin belajar.

Waktu itu anak temannya Ayah juga ada yang mengikuti tes. Berita yang terdengar, ada sedikit kecurangan yang terjadi di internal panitia. Karena alasan ini, Ayah pun tidak mengizinkan saya untuk kuliah di STKS Bandung. Ayah bilang, bila dari awalnya saja sudah dimulai dengan kecurangan, takutnya nanti ke depannya kuliah di sana tidak berkah.

Fix sudah. Akhirnya pilihan terakhir untuk kuliah di Pulau Jawa pun pupus. Dengan berat hati, saya pun memilih kuliah di kampus yang ada di Bangka saja.

Awalnya pilihan jatuh pada pendidikan bahasa Inggris di STAIN Bangka, namun karena beberapa pertimbangan, akhirnya memilih kuliah di Polman Bangka Belitung (selanjutnya disingkat Babel) dengan jurusan Teknik Elektronika.

Waktu itu tes yang diikuti sudah gelombang kedua. Sempat ketar-ketir, takutnya nanti tidak diterima. Alhamdulillah untungnya lulus dan resmi sebagai mahasiswa Polman Babel di tahun 2009. Waktu itu kuliahnya hanya 3 tahun saja, dengan jenjang D3.

Alhamdulillah selama kuliah di Polman Babel tiga tahun lamanya banyak sekali pengalaman luar biasa yang saya dapatkan, yang mungkin tidak akan didapat bila saya kuliah di luar. Berikut diantaranya:

1. Kesempatan berprestasi lebih besar

Tentu saja karena jumlah mahasiswa di sini lebih sedikit. Cukup melebihkan sedikit usaha dan perjuangan di atas rata-rata, maka akan dengan mudah sekali menjadi mahasiswa berprestasi di sini. Salah satunya saya bersama beberapa teman yang lain diberi kesempatan mewakili kampus untuk ikut debat Bahasa Inggris di luar Bangka. Mewakili kampus ke Palembang, Samarinda, Maluku, dan Malang. Kalau kuliah di Pulau Jawa mungkin tidak akan bisa mencicipi kesempatan ini.

Kuliah di daerah atau luar daerah?

Mewakili tim debat bahasa Inggris kampus di Palembang.

Kuliah di daerah atau luar daerah?

Mewakili tim debat bahasa Inggris kampus di Politeknik Tual, Maluku.

Kuliah di daerah atau luar daerah?

Alumni Polman Babel yang berkesempatan menjadi perwakilan Bangka untuk belajar di Fairfax, Virginia. Foto credit to Isfarina.

2. Hidup lebih terjamin

Kampus Polman Babel terletak di Air Kantung Sungailiat, Bangka. Hanya berjarak sekitar 1 jam perjalanan dari rumah. Ini membuat saya bisa sering pulang. Setiap minggu pulang ke rumah untuk perbaikan gizi.

3. Nilai yang baik dan konsisten

Karena tingkat stres yang lebih kecil, kehidupan yang lebih terjamin, akhirnya berimbas ke fokus belajar yang lebih baik. Alhamdulillah selama di Polman Babel nilai IP tiap semester tidak pernah kurang dari 3,00. Bahkan saat lulus pun kurang 0,05 lagi bisa mendapatkan predikat cum laude. Bila kuliah di luar, dengan beberapa tekanan yang ada, mungkin akan sulit bagi saya mendapatkan nilai seperti itu.

4. Kesempatan berorganisasi lebih besar

Kembali lagi karena jumlah mahasiswa yang sedikit, dan mereka yang mau mengembangkan diri melalui organisasi juga sedikit, akhirnya selama kuliah di Polman Babel saya bisa aktif di berbagai organisasi. Pernah menjabat sebagai sekretaris BEM kampus, ketua klub bahasa Inggris, dan sempat menjadi bendahara Dewan Kerja Daerah Pramuka di Babel. Lagi-lagi bila kuliah di luar mungkin tidak bisa saya rasakan.

5. Kesempatan kerja di perusahaan bonafit sama besar dengan lulusan kampus lain

Meski pada akhirnya saya memutuskan hanya di rumah saja, tapi tidak sedikit alumni Polman Babel yang sudah diterima di berbagai perusahaan bonafit yang ada di dalam negeri maupun luar negeri. Sebut saja Schlumberger, Pertamina, Panasonic, GS Astra, dan masih banyak lagi lainnya. Bahkan baru-baru ini ada alumni yang terpilih belajar kembali di Jepang sana, dengan full beasiswa.

Kuliah di daerah atau luar daerah?

Salah satu alumni yang bekerja di PT. Pakoakuina, Karawang. Foto credit to Tirta.

Kuliah di daerah atau luar daerah?

Alumni Polman Babel yang bekerja di Pertamina Geothermal Energy. Foto credit to Wegi.

Kuliah di daerah atau luar daerah?

Alumni yang pernah bekerja di Schlumberger, Balikpapan. Foto credit to Wegi.

Kuliah di daerah atau di luar daerah?

Alumni yang berkesempatan belajar di Jepang sewaktu memenangkan perlombaan di sana. Foto credit to Eka Erzalia.

Dan berbagai kesempatan dan kebaikan lain yang sebenarnya masih banyak bila mau dijabarkan. Sehingga pada akhirnya membuka mata dan pikiran saya bahwa kuliah di daerah pun tidak kalah baik dengan di luar daerah, selama kita punya kemauan untuk terus belajar dan semangat untuk maju. Nah, bagi kamu yang juga bingung menentukan mau kuliah di daerah atau luar daerah, berikut sedikit tips dari saya biar tidak dilema dalam memilih tempat kuliah.

1. Pastikan mengantongi izin orang tua

Kuliah dimanapun itu, yang paling penting harus dengan ridho orang tua. Karena ridho orang tua sama dengan ridho Allah. Bila Allah dan orang tua sudah ridho, semua hal akan berjalan mudah dan lancar.

2. Bila memutuskan kuliah di luar daerah, pastikan persiapannya matang

Mulai dari kampus mana yang mau dipilih, pastikan bukan kampus abal-abal yang bim sala bim langsung ada. Jangan malas mencari informasi, karena ini berkaitan dengan masa depan kita. Kalau mau kuliah di luar, sekalian cari yang kualitasnya terbaik, kalau sama saja dengan yang ada di daerah, kenapa harus jauh-jauh?

Gali semua informasi yang berkaitan dengan pendidikan di kampus jauh-jauh hari, mulai dari tempat kos, kakak alumni, biaya hidup, dan lainnya. Bila mungkin, carilah kampus yang tak jauh dari rumah kerabat. Bila dalam keadaan terdesak, kita punya tempat meminta pertolongan.

3. Bila mau kuliah di daerah, pastikan akreditasi kampus baik

Alhamdulillah jurusan Teknik Elektronika di Polman Babel yang saya pilih dulu memiliki nilai akreditasi A. Selain itu saya banyak mencari tahu dari para alumni tentang kualitas kamlus, dan semua mengatakan baik.

4. Jangan lupa bertanya padaNya

Sebagus apapun kampusnya nanti, bila pada akhirnya hanya akan membawa dampak buruk bagi kehidupan kita, mengapa harus memilihnya? Tidak sedikit anak daerah yang kuliah di luar pada akhirnya terjerumus ke lobang hitam kehidupan. Karena itu penting sekali untuk kita selalu meminta pada Allah agar dipertemukan dengan tempat belajar yang baik dan senantiasa membawa kita pada kebaikan.

Itulah sekilas cerita tentang dilema memilih kuliah di daerah, atau ke luar daerah? Alhamdulillah saya bersyukur bisa merasakan semua pengalaman ini. Semoga cerita saya ini bisa bermanfaat juga untuk para pembaca ya. πŸ™‚

β€œLomba Blog β€œDILEMA”

 

7 comments

  • Zia

    Pengalaman yang mba jalani pasti berharga banget ya, mba. Bagus dan insyaAllah ulasannya bermanfaat.

  • Halo mba Zia salam kenal, bulan juli kemarin saya ke Bangka untuk melakukan recruitment di POLMAN Babel alhamdulilah 11 orang masuk ke PT kami. Senang bisa merekrut disana ditambah baca pengalaman mba memang alumni POLMAN Babel perfomanya mantap πŸ™‚
    semoga sukses sll mba..

  • juliaamrih

    Halo Mba’, wah seru ya bisa jadi tim rekruitment, semoga alumni Polman Babel yang di sana bisa menunjukkan citra positif ya, salam kenal.. πŸ™‚
    Makasih sudah mampir.. πŸ™‚

  • Aku jangankan keluar Jakarta, nge kost ajah gak boleh karena kampusku meski dekat dengan kondisi Jakarta yang “gitu deh” bikin tua dijalan. Tapi akhirnya doaku terkabul untuk bisa tinggal di luar Jakarta setelah menikah hehehe

  • juliaamrih

    Haha, sama Mba’, akhirnya aku pun ikut suami jauh ke Jawa Timur.. πŸ˜„
    Kalo emang takdirnya keluar nggak bisa dielak ya.. πŸ˜‰
    Makasih sudah mampir..

  • waw, kakak yang pakai kerudung kah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *