Liburan Seru Selama 48 Jam di Malang dan Batu (Bagian 1: Malang)

 photo 2016-15-5--23-26-51_zpseudffbct.png

 

Minggu tanggal 28 Februari 2016 lalu kami sekeluarga mengunjungi Kota Malang dan Batu. Selama dua hari kami gunakan waktu sepuas-puasnya untuk menikmati Malang dan Batu. Kenapa Cuma dua hari? Karena Mas Suami Cuma dapat jatah libur selama dua hari, haha. Meski kunjungan kali ini lebih banyak di Batu, tapi kami juga sempat mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di Malang. Mau tahu selengkapnya? Silahkan lanjut baca ya. ๐Ÿ™‚

Minggu pagi tepat jam 07.00 WIB kami berangkat naik bus perusahaan suami dari Paiton Probolinggo menuju Malang. Bersama dengan rombongan lainnya, setelah sekali berhenti di pom bensin Grati, Pasuruan, dengan arus lalu lintas yang ramai lancar, akhirnya kami tiba di kota Malang sekitar jam 11 siang. Kami diturunkan tidak jauh dari alun-alun kota Malang.

Alun-alun Kota Malang

 Alun-alun kota Malang

Si kecil berlari mengejar burung merpati di alun-alun.

Setelah turun dari bus, kami bertiga, saya, mas suami dan si kecil berjalan kira-kira 5 menitan menuju Alun-alun kota Malang. Sesampainya di alun-alun, si kecil senang sekali karena bisa main kejar-kejaran dengan burung. Setelah hanya duduk-duduk saja selama kurang lebih 4 jam di bus, bersantai di alun-alun bisa menjadi pilihan yang tepat untuk melepas penat, haha.

Beneran lho, soalnya alun-alunnya luas, trus banyak tanaman hijau dan pohon yang rindang untuk berteduh. Saat kami tiba di sana, banyak pengunjung yang menggelar tikar untuk piknik. Eit, jangan khawatir, buat yang nggak sempat bawa tikar seperti kami, disediakan kursi di sepanjang taman untuk sekedar duduk-duduk menikmati alun-alun. Di beberapa titik alun-alun ada beberapa sarang burung merpati yang ditempati oleh banyak burung merpati. Sebenarnya kalau ada yang jual jagung atau pakan burung seru kali ya sambil jalan-jalan ngasih makan burung. Tapi waktu di sana, kami tidak melihat penjual pakan burung sama sekali di sekitar alun-alun, entah karena sudah pulang atau memang tidak ada yang jualan.

Oh ya, buat yang muslim, jangan takut lupa sholat karena terlena main di sini ya, soalnya persis di seberang alun-alun ada sebuah Masjid Agung. Jadi, begitu waktu sholat tiba, langsung terdengar azan deh. Sayangnya, karena kunjungan ke alun-alun ini di luar rencana, kami tidak terlalu banyak mengambil foto, hanya seberapa. Tapi tak apa-apa, lain kali kalau ke Malang lagi, bisa foto-foto yang banyak lagi. Hihi.

Alun-alun Kota Malang.

Masjid Agung di seberang Alun-alun Kota Malang.

 

Toko Es Krim โ€œOENโ€

 

Toko Es Krim โ€œOENโ€.

Tampak depan Toko Es Krim โ€œOENโ€.

Ketika mencari referensi tempat wisata apa yang harus dikunjungi di Malang, Toko Es Krim โ€œOENโ€ menjadi salah satu tempat yang direkomendasikan para traveler yang pernah ke Malang. Sampai ada yang bilang, belum sah kalau pergi ke Malang tapi tak singgah di toko es krim ini.

Untuk menuju toko es krim ini, kita cukup berjalan kaki sejauh kira-kira 350 meter dari alun-alun Kota Malang. Lokasinya bisa dengan mudah ditemukan melalui google maps atau bila mau lebih akurat, tanyakan saja pada warga sekitar.

Ketika sampai di depan toko, kita akan disajikan tampilan gedung tua ala tempo dulu. Tapi jangan salah, meskipun kelihatannya hanya gedung tua, ketika masuk ke dalam , ada banyak pengunjung yang sedang menikmati hidangan di toko es krim yang telah ada sejak 1930 ini (wih, sejak dulu kala banget ya). Waktu itu banyak bule yang sedang duduk-duduk di toko es krim ini, sehingga abelum apa-apa saya sudah dag-dig-dur ser, mihil apa nggak ya makan di sini? Hihi.

Toko Es Krim Oen.

Banyak bule di Toko Es Krim Oen.

Ternyata apa yang saya takutkan memang benar pemirsa! Minuman paling murah di sini adalah teh panas, seharga 9 ribu rupiah. Padahal biasanya di Paiton sini 2500 perak sudah bisa minum es teh dingin dan segar,(perbandingan Emak-emak yang sering makan di pinggir jalan, haha). Karena nama tokonya juga toko es krim, mau tidak mau walaupun mahal akhirnya kami pun hanya memesan seporsi es krim (ketahuan pengiritannya ya, hihi). Masa sudah jauh-jauh ke Toko Es Krim Oen trus pesan es teh manis? Kan nggak keren? Hihi.

 Toko Es Krim Oen.

Menu di Toko Es Krim Oen.

Sebenarnya, ada banyak menu selain es krim di sini. Ada appetiser, sandwich, masakan khas Indonesia seperti sate, gado-gado, dan nasi goreng, ada juga aneka minuman kaleng dan jus, salad, sup asparagus, dan juga oriental cuisine serta aneka kue kering yang dipajang di toko. Sayangnya, ketika tahu ada menu sate babi di deretan menunya, saya langsung batal memesan makanan. Apalagi ketika memesan salah satu es krim (karena sudah lama saya sudah lupa nama es krimnya), Mbaโ€™ pelayannnya bilang kalau di dalamnya terdapat campuran wine, jadi saya hanya memesan menu es krim yang aman-aman saja, yaitu โ€œOen Specialโ€ seharga 50 ribu. Jadi bagi yang muslim yang ingin makan di sini, jangan lupa pastikan kehalalannya melalui Mbaโ€™ pramusaji.

Toko Es Krim Oen

Es Krim Oen Spesial

Melihat perbandingan harga dan rasa, menurut saya es krim di Toko Oen ini tidak terlalu wah, saya lebih suka es krim kemasan yang 9 ribuan (maaf ya, mungkin selera Emak-emak seperti ini terlalu rendah, jadi suka yang murah-murah). Tapi walaupun begitu, saya jadi tahu bahwa rasanya makan di warung mahal yang dipenuhi para bule dan warung murah pinggir jalan itu adalah sama, hihi.

Rumah Makan Inggil

 

Rumah Makan Inggil

Tampak depan Rumah Makan Inggil

Karena belum makan, kami pun kembali hunting warung makan yang tidak jauh dari toko es krim Oen. Setelah sebelumnya sempat browsing beberapa warung enak terdekat, akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada Rumah Makan Inggil.

Rumah makan Inggil

Di bagian depan, pengunjung akan diceritakan sebuah foto tentang sejarah berdirinya Museum Malang tempo dulu, yang merupakan cikal berdiri Rumah Makan Inggil.

 

Rumah makan Inggil

Selain museum, di bagian depan rumah makan juga ada kolam berisi ikan.

 

Rumah makan ini memiliki kekhasan tersendiri. Selain bisa makan enak sambil merasakan suasana musik tradisional Jawa, di sini kita juga bisa sambil berkeliling menikmati museum Malang tempo dulu. Ada aneka topeng, aneka telepon rumah, sejarah kemerdekaan Indonesia, dan macam-macam korek api kotak, serta barang unik lainnya. Di sini, kita bisa makan sambil lesehan atau duduk di kursi-kursi yang sudah disediakan.

 

Rumah makan Inggil

Berbagai koleksi di Rumah Makan Inggil, dari kiri ke kanan, aneka topeng, berbagai jenis korek api kotak, macam-macam telepon, dan foto sejarah kemerdekaan RI.

 

Rumah makan Inggil

Kasir Rumah Makan Inggil yang unik.

Makanan di sini juga lumayan enak dan terjangkau. Waktu itu kami memesan 1 ekor ayam bakar kampung dan dua gelas es cendol dan segelas es degan. Sayang, es degannya ditambahi sirup merah, jadi rasanya sedikit aneh. Untuk ayam bakarnya, empuk dan manis, tidak menyesal sudah memesan menu ini.

Rumah makan Inggil.

Beberapa menu di Rumah makan Inggil

 

 Rumah Makan Inggil.

Menu yang kami pesan di Rumah Makan Inggil.

Sebagai nilai tambah, di dalam rumah makan ini disediakan sebuah mushola bagi pengunjung yang ingin sholat. Jadi, meskipun sedang bepergian jauh, tak perlu khawatir ketinggalan sholat ya. Selain itu, bagi pengunjung yang juga ingin mencari oleh-oleh khas Malang, tak perlu jauh-jauh, karena persis di depan rumah makan sudah ada toko oleh-oleh yang menjual pernak-pernik unik seperti mainan tempo dulu, miniatur sepeda, dan lainnya.

Rumah Makan Inggil.

Toko oleh-oleh di depan Rumah Makan Inggil.

Rumah makan Inggil

Pernak-pernik yang dijual di toko oleh-oleh di depan Rumah Makan Inggil.

Segitu dulu cerita jalan-jalan kami di Kota Malang. Perjalanan selanjutnya adalah berlibur di Batu. Berhubung di Batu kami menghabiskan waktu lumayan lama, jadi akan dibuatkan postingan tersendiri mengenai perjalan di Batu. Untuk yang ingin baca review penginapan kami selama di Batu, Review hotel Pondok Jatim Park Batu, Malang.

Bagaimana, masih bingung mau jalan kemana selama di Malang? Semoga Liburan Seru Selama 48 Jam di Malang dan Batu (Bagian 1: Malang) ini bisa jadi salah satu referensi untuk pembaca yang mau berlibur ke Malang.

 

 

15 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *