Melahirkan (Lagi) Itu Rasanya Nikmat!

Judulnya gitu amat ya, hehe. Sengaja biar pada semangat nambah lagi, haha. Biar saya nggak sendirian, sehingga semakin banyak emak-emak beranak kecil seperti saya, haha. (Nggak jelas amat ya, hihi)

Jadi Alhamdulillah selasa 21 Februari 2017, sebulan yang lalu, tepat pukul 05.50 WIB, anak kedua kami lahir dengan selamat. Alhamdulillah saya bisa melahirkan normal seperti yang kami harapkan dan anaknya pun berjenis kelamin perempuan. Setelah sebulan berlalu, melalui postingan ini saya ingin kembali mengingat detik-detik melahirkan si adek.

Sabtu 18 Februari 2017

Karena menurut mas suami saya kurang jalan-jalan (tidak sesering ketika hamil anak pertama dulu), akhirnya suami mengajak saya dan si abang jalan-jalan sore mengitari perumahan karyawan dekat rumah. Lumayan kerasa pegalnya, kurang lebih sejam lamanya kami jalan sore.

Minggu 19 Februari 2017

Tidak ada tanda apapun di hari ini. Sebenarnya saya pun mulai dag dig dug, kenapa kok belum ada tanda-tanda, padahal menurut perhitungan HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir), HPL (Hari Perkiraan lahir)nya tepat pada tanggal 23 Februari, sedangkan berdasarkan pengukuran usg dokter terakhir, pada tanggal 27 Februari. Karena belum ada tanda apa-apa, minggu pagi itu saya masih melalui hari seperti biasanya. Masih motoran bertiga bersama suami dan abang untuk mengikuti pengajian rutin di masjid. Di sana masih sempat ikutan main sama si abang.

Senin 20 Februari 2017

Jam 5 sore setelah sholat ashar, suami mengajak keluar, jalan-jalan. Sebelumnya saya kebelet pipis, pas diliat ternyata ada semacam lendir putih, tapi ada dua titik merah di cairan tersebut. Saya pu laporan ke suami. suami tak terlalu merespons, karena tak tahu juga harus apa, haha. Tapi feeling saya bilang, kalau itu adalah tanda bahwa sebentar lagi saya akan melahirkan. Cuma kalau si abang dulu fleknya kecoklatan. Karena belum merasakan apa-apa, kami pun lanjut jalan-jalan sore.

Sekitar jam 6 sore setelah magrib, sakit kontraksi mulai terasa, namun masih bisa ditahan. Saya mulai telpon bu bidan, kemudian Beliau mempersilahkan kalau mau diperiksa. Karena belum terlalu sakit, saya pikir menunggu sampai besok pagi saja, agar tidak berlama-lama di klinik bersalin. Kemudian saya sempatkan menelpon Emak dan ibu mertua, mengabari bahwa sepertinya saya akan melahirkan, meminta do’anya. Saya masih sempat makan malam dan makan beberapa kurma agar nanti punya persediaan tenaga. Sembari menunggu, saya sempatkan jalan-jalan ditemani si abang, haha.

Setelah sholat isya, kemudian saya menelpon Ayah, meminta maaf dan do’a restu, kemudian tidur. Rasa sakitnya semakin bertambah, tapi saya masih kuat menahannya. Meskipun begitu ternyata saya tak bisa tidur nyenyak, hanya memejamkan mata namun masih merasakan sakit. Sebelum tidur saya meminta maaf dan do’a restu kepada abang dan suami, semoga bisa melahirkan dengan normal dan mudah.

Jam 12 malam, akhirnya saya bangun karena tidak enak lagi dibawa tidur. Lalu saya pun menyalakan semua lampu, kemudian jalan-jalan keliling rumah. Sembari makan beberapa kurma dan minum air. Selama menahan sakit dan jalan, saya terus membaca surat Alfatihah sembari berdo’a diberi kemudahan.

Sekitar jam 12.30, saya tak kuat lagi menahan sakitnya sendiri, lalu membangunkan suami. Saya katakan sakitnya semakin terasa, frekuensinya pun semakin sering. Lalu suami pun bangun dan menemani. Saya terus jalan-jalan sekeliling rumah, sembari sesekali pipis dan duduk. Bila sakitnya terasa, saya akan berhenti dan mencari posisi yang enak untuk mengurangi rasa sakit, mengatur pernapasan, dudukberalaskan bantal, dan minta dipijit suami. Alhamdulillah saya masih sempat sholat tahajud dan berdo’a sembari menahan sakit.

Sekitar jam 3, saya bilang ke suami saya sudah tak kuat lagi, mau ke bidan saat itu juga. Suami minta bersabar sampai setelah subuh, menunggu tetangga bangun agar bisa ke klinik dengan mobil tetangga, sembari menunggu si abang bangun.

Alhamdulillah, tak lama kemudian abang bangun, maka saya pun langsung mengajak suami berangkat ke klinik bidan. Akhirnya setelah mandi, agar tubuh segar, berbekal tas yang sudah disiapkan sebelumnya, kami pun berangkat bertiga dengan sepeda motor. Sebelumnya saya sudah menghubungi bu bidan bahwa sakitnya sudah sangat terasa dan saya mau ke klinik saat itu juga.

Baca:Travel Bag Untuk Persiapan Menjelang Persalinan

Akhirnya jam 3.30 kami sampai di klinik bidan. Saya sempatkan menelpon Emak dan Ibu mertua, memohon maaf dan do’a restu agar dimudahkan. Sesampainya di klinik, perut saya seperti di gelitiki oleh bu bidan, enak sekali rasanya. Seperti lupa rasa sakit konstraksinya sesaat. Sekitar 15 menit kemudian saya di periksa dalam (VT). Alhamdulillah sudah bukaan 8, dan sama sekali tidak terasa sakit saat di VT, mungkin karena saya sudah fokus pada sakit kontraksi. Sembari saya diperiksa di ruang tindakan, suami berusaha menidurkan si abang di ruang sebelah. Tapi abang menolak ngantuk dan tidur, meski dari wajahnya kelihatan sekali dia mengantuk. Akhirnya dia pun ikut ke ruang tindakan. Si abang menonton video, saya menahan sakit kontraksi. Sembari menahan sakit, saya mendengarkan murottal surat maryam, karena sudah tak kuat lagi membaca alfatihah. Setiap sakit datang saya akan meminta dipijitkan pinggang kepada bu bidan atau mas suami.

Mungkin karena persiapan mental saya yang kurang, kekuatan mental menahan sakit kontraksi persalinan yang kedua ini rasanya berkurang dibanding yang pertama dulu. Setiap kali sakit datang, setiap itu pula terlintas keinginan untuk operasi saja, agar segera selesai dan tidak sakit lagi. Berkali-kali saya bertanya kepada bu bidan dan asistennya, bagaimana cara mengurangi sakit, jawabannya tak ada, yang ada hanya mengalihkannya.

Akhirnya saya pun mulai bertanya-tanya pada bu bidan, sedikit mengobrol mengurangi sakit, meski tak begitu banyak membantu, sesekali saya genggam erat tiang ranjang tempat tidur. Berkali-kali pula saya minta untuk di VT lagi, dicek pembukaan, karena mungkin sudah lengkap, lalu segera dipecahkan ketubannya, seperti abangnya dulu.

Tapi bidannya masih sabar, “2 jam lagi baru diperiksa lagi Bu, tidak bagus kalau sering-sering diperiksa, malah memperlama prosesnya.”

Untungnya si Abang yang ikut menunggu ketiduran.

Jam 4.30, azan subuh, dan Alhamdulillah saya masih sempat sholat. Rasanya semakin sakit saja. Alhamdulillahnya lagi tak lama kemudian abang juga tidur. Kemudian diberi pembatas seadanya agar ia tak langsung melihat ibunya bila tiba-tiba bangun. Sembari menahan sakit, saya pun berkali-kali mau pipis dan bolak-balik wc. Tapi tidak keluar pipis sama sekali.

Alhamdulillah, lega setelah melahirkan.

Kemudian sekitar 5.30, saya katakan pada bu bidan saya mau pipis dan BAB, lalu diarahkan bu bidan, “ pipis saja kalau mau pipis, kalau mau pub ya pub aja, diikuti saja kata badannya mau apa” begitu pesannya. Lalu saya pun seperti mau pipis dan kemudian seperti ada cairan keluar. Lalu proses mengeluarkan bayi pun dimulai. Suami mendampingi dari atas, sementara bu bidan dan asistennya dari samping. Beberapa kali saya gagal mengejan. Semua teori terasa lewat. Bahkan bidan sempat memberi arahan bagaimana cara mengejan. Ambil nafas, lalu dorong, kalau tak salah begitu. Beberapa kali bahkan paha sempat kram. Akhirnya jam 5.50, dengan sepenuh tenaga, adek pun keluar. Alhamdulillah, lega sekali rasanya. Penantian selama 9 bulan berbuah seorang bayi lucu dan cantik. Begitu lahir, bayi pun langsung diletakkan di dada untuk IMD, sembari perut dan bagian bawah saya diotak atik. Tapi Alhamdulillah tidak banyak jahitan dan tak perlu epis seperti dulu. Oh ya, selama menahan sakit, saya juga beberapa kali mengajak janin bicara, dan terus mensugesti diri.

Alhamdulillah, lega sekali begitu bayi sudah keluar. Rasa ngantuk yang begitu kuat ketika menahan kontraksi, rasanya hilang, saya seperti bugar. Begitulah cerita persalinan anak kedua kami. Apakah saya kapok melahirkan? insyaAllah tidak, tapi jangan dalam waktu dekat ya kalau bisa, haha. Semoga saya bisa memberikan asi full 2 tahun kepada adek, bisa mendidik abang dan adek menjadi generasi islam yang sholih dan sholihah. Terima kasih untuk semua yang sudah mendo’akan kami sekeluarga, mengunjungi kami dan memberikan hadiah. Semoga Allah membalas dengan kebaikan yang berlipat. Untuk yang sedang menanti momongan, saya do’akan semoga segera diberikan kesempatan, untuk yang menanti detik-detik persalinan, saya do’akan semoga lancar ya Moms! Jangan lupa persiapkan dengan baik persalinannya ya Moms. Jangan hanya mempersiapkan bedak bayi yang bagus, tapi juga mental,fisik, do’a, dan lainnya.

Moms juga punya cerita seputar persalinan? Sharing yuk! Semoga bermanfaat ya. 🙂

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *