Memilihkan Teman untuk Anak

Memilihkan teman untuk anak. Picture credit to pixabay.

Assalamu’alaikum pembaca sepradik, apa kabar? Semoga selalu dalam lindungan Allah ya, Aamiin.

Alhamdulillah sudah memasuki hari kedua belas one day one post saya ikuti. Alhamdulillah tak ada halangan yang berarti, hanya pas hari kedua belas ini flu hampir menyerang, karena saya hanya bisa menulis di kala bocah tidur, yaitu malam atau pagi, atau saat jam tidur siang. Kadang kalau para bocah tidurnya malam, maka sedikit begadanglah saya. Ditambah kadang saya kurang minum, langsung flu pun mendatangi. Alhamdulillah setelah dibawa tidur dan minum yang banyak, badan kembali segar.

Baiklah, sekian curhat pembukaannya, hehe. Kali ini saya mau cerita tentang memilihkan teman untuk anak. Karena sesuai tagline baru di blog sepradik.com, curhatnya emak rempong, kali ini tulisannya juga masih tentang curhat emak-emak, hehe. Semoga tidak pada bosan ya, hehe.

Jadi dulu ketika si Abang masih 1 tahun lebih, ada tetangga baru di dekat rumah. Dan dia memiliki seorang putri berusia 4 tahun. Saya pun senang, berarti si Abang punya kawan baru sekarang. Jadi anak itu sering main ke rumah, kami pun sering main ke rumahnya untuk bermain.

Sayangnya, tingkah anaknya masih belum terlalu baik. Di usianya yang 4 tahun, dia masih sulit untuk berbagi, masih suka memukul, dan sering mengejek. Saya maklum, karena dia masih kecil, dan memang begitu tipikal anak. Jadi ketika bermain di rumah, kemudian dia meminjam mainan si Abang, saya berikan. Ketika rebutan, saya sering minta si Abang yang mengalah, karena menurut saya si Abang masih belum mengerti bermain. Tapi pada akhirnya selalu berujung dengan tangisan si Abang dan teriakan anak itu. Anak tetangga itu sering berteriak pada Abang, karena tak mau meminjamkan mainan. Awalnya saya diam saja. Saya bilang dengan perlahan, maaf ya Mba’, adek masih belum mengerti. Lama kelamaan, ternyata si Abang jadi meniru gaya si anak tetangga tadi. Dia jadi suka berteriak, susah sekali untuk meminjamkan mainan, dan suka mengejek.

Belakangan, bila anak tetangga tadi main ke rumah atau kami yang main ke rumahnya, selalu berakhir pada tangisan si Abang. Entah itu karena rebutan mainan, ejek mengejek, atau lainnya. Saya hanya bisa diam, karena tak enak pada tetangga. Tapi lama kelamaan saya ingatkan juga si anak tetangga itu. Kelakuannya makin menjadi ketia ia bermain dengan ibunya. Semakin sulit dikasih tahu. Saya lihat orang tuanya juga seperti tak terlalu memperdulikan sikap anaknya yang menurut saya menyebalkan itu. Akhirnya, perlahan tapi pasti, saya pun mulai membatasi pertemuan si Abang dengan anak tetangga itu. Saya tak mau dia jadi ikutan seperti si anak tetangga itu, sulit dikasih tahu, suka berteriak, susah untuk memberi, dan lainnya. Meski sebenarnya masih hitungan normal sih, karena dia masih anak-anak. Tinggal orang tuanya telaten untuk mengarahkan, InsyaAllah bisa berubah baik. Tapi sayangnya saya lihat orang tuanya seperti membiarkan. Maka saya pun menjauhkan si Abang dari anaknya. 

Jadi bolehkah orang tua memilihkan teman untuk anaknya? Saya rasa sah-sah saja. Anak-anak terutama balita, masih sangat rentan. Mereka gampang sekali meniru sekitar. Sedikit saja contoh jelek, akan dengan mudah sekali ditiru. Setelah saya perhatikan, bila bertemu teman yang lain, perlakuan si Abang tak seperti ke anak tetangga tadi. Dia mau berbagi dan tak suka memukul, kalau ada masalah, lebih mudah diingatkan.

Menurut saya, di usia balita yang masih rentan ini, orang tua masih punya hak prerogatif memilihkan teman untuk mereka. Ketika mereka sudah dewasa, barulah mereka bebas untuk menentukan sendiri. Toh, kami masih bergaul dengan anak tetangga itu. Hanya saja, saya lebih membatasi. Kelihatannya agak overprotektif ya? Tak mengapa, karena tujuan saya memang untuk melindungi anak-anak saya.

Saudara saya pernah memiliki teman yang buruk. Pemalas, suka nongkrong, dan lainnya. Padahal kala itu usianya sudah terhitung dewasa. Berulang kali diingatkan, tapi dia tetap mau berteman dan sering berkumpul dengan temannya yang buruk itu. Akhirnya lama kelamaan, dia pun ikut melakukan hal buruk seperti temannya tadi. Nah, kalo begini, barulah kita orang tua menyesal mengapa dulu membiarkannya begitu saja.

Dalam Islam kita juga disarankan bersahabat dengan yang baik. Bila berkawan dengan penjual minyak wangi, kita kecipratan wanginya, begitu pula sebaliknya. Selain itu, bila kita berkumpul dengan orang yang tidak baik, di akhirat nanti kita juga akan dikumpulkan bersama mereka.

Jadi, this is our rules. Saya hanya ingin mengupayakan yang terbaik untuk anak-anak saya. Karena di akhirat nanti, perkara ini yang akan saya pertanggung jawabkan. So, Mommy, apakah Mommy membolehkan anak bergaul dengan siapapun? Sharing yuk. Semoga bermanfaat. 🙂

#ODOP

#Day12

#Bloggermuslimahindonesia

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *