Mempersiapkan Si Kecil Menjadi Kakak

Mempersiapkan si kecil menjadi kakak

Sekitar 2 mingguan yang lalu, pagi sekali saya mendapat telpon yang menyesakkan hati dari Emak. Waktu itu yang mengangkat telpon pertama kali adalah Mas Suami, sementara saya masih di kamar depan. Deg, perasaaan saya langsung tak enak. Tak biasanya Emak menelpon apalagi di pagi hari seperti itu.

“Assalamu’alaikum, Cu1, Abang ikak lah dak de agik.” Jelas Emak.

[“Assalamu’alaikum, Cu, Abangmu sudah tiada.”]

Innalillahi wainna ilaihi roji’un. Seketika rasanya sesak di dada. Seperti ada yang mengganjal. Hari itu, saya sama sekali tak nafsu makan, sedih memikirkan Almarhum. Apalagi ditambah saya tak bisa pulang, berkumpul bersama keluarga untuk mendo’akannya. Kandungan saya sudah 9 bulan, tinggal menunggu detik-detik kelahiran, tak mungkin bila saya nekat bepergian jauh apalagi naik pesawat. Akhirnya hanya do’a dari jauhlah yang bisa saya sampaikan kepada Allah, semoga Almarhum tenang di sana, semua amal ibadahnya selama hidup diterima, semua dosa-dosanya diampuni dan dijauhkan dari siksa kubur dan siksa neraka, serta merasakan nikmatnya syurga. Aamiin.

Kini sudah hampir dua minggu sejak berita kepergiannya disampaikan Emak. Masih teringat selalu sedikit kenangan ketika Almarhum hidup. Dan ada satu hal yang saya sesalkan, mengapa saya tak menelponnya ketika beberapa minggu sebelum kepergiannya, Beliau terus menanyakan saya, adiknya.

Kilas balik mengenai hubungan saya dengan almarhum, kami tak begitu dekat, meski kami kakak beradik. Sifatnya yang keras dan sedikit tempramen, membuat kami hanya berkomunikasi sekedarnya saja. Apalagi sejak SMA kami hidup terpisah, saya di asrama, sedangkan Beliau di rumah. Jadi ketika bertemu, kami bicara seperlunya saja, jarang sekali ber haha hihi seperti kebanyakan saudara. Setelah beberapa tahun menikah, Beliau pun pindah ke rumah sendiri, lalu saya pun kuliah dan ngekos di kota lain. Maka pertemuan kami pun semakin jarang. Mungkin hanya satu atau dua kali ketika saya pulang ke rumah Emak dan Beliau sedang di rumah. Tapi tetap saja, bicara seperlunya. Lalu kemudian saya menikah dan pindah ikut suami ke Jawa, maka semakin renggang hubungan kami. Kami hanya bertemu ketika saya pulang mudik saat lebaran. Komunikasi lewat telepon pun jarang sekali, saya lebih sering menghubungi istrinya, Emak, ayah atau Abang pertama.

Hingga menjelang ajalnya, ketika menelpon istrinya yang sedang main ke rumah Emak, ia bercerita, bahwa Abang terus menanyakan saya. Beliau sering memimpikan saya. Tapi sayangnya, saya tak langsung menghubunginya. Mungkin karena kecanggungan hubungan kami, saya agak bingung mau bicara apa dengan Beliau. Sesal itulah yang kadang masih sering terngiang, mengapa saya tak segera menghubunginya dan menyampaikan satu atau dua kalimat perpisahan sebelum ia pergi untuk selamanya.

Beliau adalah orang yang baik, meski sedikit keras dan tempramen. Beberapa kali ketika kuliah dulu, saya sering diberikannya uang saku yang lumayan. Selain itu, waktu kecil saya pernah tersanjung sebagai adiknya. Kala itu ada teman lelaki yang mengganggu saya, entah bagaimana Beliau bisa tahu, kemudian Almarhum memberi sedikit pelajaran kepada teman saya tersebut. Setelah itu, teman tersebut tak berani lagi mengganggu saya.

Begitulah, bila Allah sudah menentukan, kita hanya bisa pasrah. Beliau meninggal dalam usia yang masih tergolong muda, belum genap 30 tahun, meninggalkan 2 orang anaknya yang masih kecil dan istri.

Saya percaya, setiap peristiwa selalu meninggalkan hikmah dibaliknya. Dari peristiwa ini saya mendapatkan pelajaran, bahwa jangan malas menelpon keluarga yang sedang jauh di sana. Sehingga tak ada lagi penyesalan bila suatu saat salah satu dari kami telah mendahului. Ya, saya akui sejak memiliki anak, intensitas menelpon saya berkurang, apalagi terkadang bila menelpon Emak selalu seperti kurang tepat, entah Emak sedang sibuk lah, mengantuk, dan lainnya. Ditambah lagi ada beberapa keluarga yang tinggal di desa yang sinyal teleponnya belum begitu baik, sehingga bila ditelpon, seringnya tidak bisa tersambung. Kemudian dengan kesibukan mengurus balita, kadang membuat saya lupa bahwa belum menghubungi keluarga kala itu.

Satu lagi yang saya tanam dalam hati, bahwa penting sekali menjalin komunikasi yang baik dengan keluarga, terutama saudara kandung. Karenanya, begitu hamil anak yang kedua, saya bertekad, anak-anak kami nantinya tidak perlu seperti Ibunya dengan pamannya. Mereka harus akrab, sebagaimana kakak dan adik semestinya. Semoga saja kami bisa membimbing mereka seperti itu.

Sebagai langkah awal, agar si kakak bisa terbiasa dengan adik, ada beberapa hal yang kami mulai lakukan bahkan sebelum si adik lahir.

  1. Ajak kakak mengelus-elus perut

Sejak pertama tahu bahwa saya hamil lagi, sejak itu pula saya beritahukan kepada si kakak, bahwa di dalam perut Ummi ada seorang adik lucu. Sejak itu, ia sering mengelus-elus dan menciumi perut saya. Mulai dari perut yang belum kelihatan besar, hingga kini yang sudah sangat besar sekali.

  1. Ajak kakak ikut serta mempersiapkan kehadiran si calon adik

Setiap jadwal kontrol kandungan ke bidan atau dokter, kami selalu mengajak kakak ikut. Ia juga melihat gambar usg adiknya, turut mendengar degup jantung adiknya. Ia juga kami ajak serta setiap membeli perlengkapan untuk adiknya.

  1. Sampaikan sugesti positif tentang adik dan kakak kapan saja

Setiap membacakan buku yang ada kaitanya dengan bayi, saya selalu sisipkan, bahwa nanti ia akan memiliki adik yang kecil dan mungil serta lucu. Nanti kakak akan mengajaknya bermain dan menjaganya. Bahkan mas suami sempat mengajarkan bagaimana menjaga adiknya bila ada yang mengganggu, “Awas, jangan ganggu adikku!” haha. Kadang-kadang kami bertanya pada si kakak, akankah nanti ia menyayangi si adik? Mengajak main si adik? Dan menjaganya? Alhamdulillah, jawabannya selalu iya.

  1. Ajak kakak berkomunikasi dengan calon bayi di perut

Ketika sedang bermain atau bepergian bertiga, saya selalu melaporkannya pada bayi di dalam perut. “Dedek, kita sedang jalan-jalan di pantai nih.” Atau waktu lain. “Dedek, Ummi sama Abang lagi belajar ngaji nih.” Sehingga kadang ia juga terbiasa mengajak bayi yang ada di dalam perut bicara. Akhir-akhir ini ia sering bilang, “Dedek, kalau mau keluar, keluar dengan mudah ya, sehat terus.”

Alhamdulillah, meski mungkin ia cuma sekedar meniru tanpa tahu maksud sebenarnya, setidaknya telah ada sugesti positif yang kami tanamkan padanya, bahwa kehadiran adiknya nanti adalah kebahagiaan untuk kami sekeluarga, juga untuknya.

  1. Berdo’a kepada Allah agar bisa mendidik anak-anak menjadi saudara yang baik

Yang paling penting untuk dilakukan adalah berdo’a, semoga ketika nangti adiknya lahir dan mereka tumbuh besar, mereka bisa rukun, saling menjaga dan menyayangi.

 

Itulah sedikit persiapan saya agar si kakak tidak terkejut nanti ketika adiknya lahir. Semoga nanti anak-anak kami bisa saling menyayangi sebagai saudara, serta kami bisa terus memberikan cinta kasih kami tanpa mereka merasa bahwa salah satu dilebihkan atau dikurangi. Semoga ada hikmah dan manfaat dari sedikit cerita yang saya bagi ini. Bagi semua Ibu yang sedang hamil, entah itu hamil kembar dua atau hanya satu, semoga ibu dan janin serta keluarga sehat selalu ya. Semoga Allah mudahkan proses persalinanya nanti, Aamiin. Bagi yang masih punya masalah dengan saudaranya, semoga bisa segera terselesaikan, sehingga tidak ada lagi penyesalan nantinya. Semoga Allah menjaga keluarga kita agar senantiasa dalam lindunganNya, Aamiin.

Catatan: 1) Cu atau Acu adalah panggilan untuk anak bungsu dalam bahasa Bangka.

7 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *