Menanamkan Fitrah Seksualitas pada Anak Berdasarkan Teori Fitrah Based Education

Menanamkan fitrah seksualitas pada anak

Picture credit to pixabay.

 

Manusia dilahirkan hanya dengan dua jenis kelamin, laki-laki atau perempuan. Tidak ada yang berada di tengah-tengah, entah itu laki-laki yang bertingkah seperti perempuan atau perempuan yang bertingkah seperti laki-laki. Semua manusia dilahirkan sesuai dengan fitrah seksualitasnya, laki-laki atau perempuan. Barulah ketika besar, penyimpangan itu mulai terjadi. Muncul laki-laki yang merasa dirinya adalah perempuan, atau sebaliknya.

Menurut Harry Santosa, seorang pakar parenting yang mengembangkan konsep pendidikan  fitrah based education, mengatakan setidaknya ada 8 fitrah yang dibawa seorang anak ketika ia lahir ke dunia. Salah satu di dalamnya adalah fitrah seksualitas, fitrah yang dibawa anak sesuai dengan kelaminnya masing-masing, laki-laki atau perempuan. Dan ke depan, anak-anak diharapkan dapat tumbuh sesuai dengan peran seksualitasnya masing-masing. Bagaimana laki-laki tumbuh menjadi pemimpin yang tegas dan perempuan menjadi anak yang penuh dengan kasih sayang.

Karena itu, masih menurut beliau, penting sekali bagi kedua orang tua, untuk dapat mendidik anaknya sesuai dengan tahapannya agar fitrah seksualitas ini dapat berkembang sesuai usianya.

Apa saja yang dapat dilakukan orang tua agar fitrah seksual dapat berkembang dengan baik?

 

Usia 0-2 tahun

 

Anak-anak usia 0-2 tahun harus dekat dengan ibunya, karena mereka harus mendapatkan asi langsung dari ibunya. Banyak orang mengira bahwa ketika mereka telah memberikan asi pada anaknya itu berarti telah cukup. Namun nyatanya, bukan hanya karena kandungannya, asi dibutuhkan bayi karena memang diperlukan bonding antara si ibu dan anak. Melalui sentuhan atau tatapan. Karenanya sebaiknya ketika menyusui tidak disambi dengan kegiatan lainnya, agar tahap bonding ini dapat berjalan dengan baik.

 

Usia 3-6 tahun

 

Pada usia ini anak-anak harus dekat dengan kedua orang tua mereka. Anak-anak harus dikuatkan dengan imaji positif tentang gendernya, dari ayah dan ibunya. Anak anak sedikit belajar tentang kasih sayang dan lemah lembut dari ibu, sementara belajar tegas dari sang ayah. Masih menurut teori fitrah based education, indikator tumbuhnya fitrah seksualitas dengan baik di usia ini adalah anak sudah jelas dan bangga menyebutkan gendernya di usia 3 tahun.

 

Usia 7-10 tahun

 

Pada usia ini, anak mulai didekatkan dengan kedua orang tua sesuai gendernya. Anak laki-laki dengan sang ayah, anak perempuan dengan ibunya. Pada usia ini sang ibu atau ayah sebisa mungkin menunjukkan keeksistensian mereka. Ibu harus lebih sering memasak, menjahit atau kegiatan keibuan lainnya bersama anak perempuannya, sementara ayah harus lebih sering mengajak anak laki-laki memperbaiki motor, main bola, diskusi, atau lainnya. Pada masa ini ayah mulai menjelaskan mimpi basah, fungsi sperma, dan mandi wajib. Sementara ibu mulai mengajarkan tentang menstruasi, dan lainnya. Indikatornya adalah ketika anak laki-laki kagum dan ingin seperti ayahnya, sementara anak perempuan kagum dan ingin seperti ibunya.

 

Usia 10-14 tahun

 

Pada masa ini, anak laki-laki atau perempuan yang telah sadar potensi kelakiannya atau kewanitaannya, mulai memahami dengan mendalam lawan jenisnya dari ibunya atau ayahnya. Anak laki-laki harusnya lebih dekat dengan ibunya, anak perempuan dengan ayahnya.

Pada usia ini seharusnya anak-anak tak merasa perlu pacaran, karena ia sudah mendapat perhatian dan dekat dengan ayah atau ibunya. Anak laki-laki dengan ibunya, anak perempuan dengan ayahnya. Indikator tahap ini adalah persiapan dan keinginan bertanggung jawab sesuai gendernya.

 

Usia diatas 15 tahun

 

Pada masa ini anak-anak bukan lagi anak, melainkan mitra bagi orang tuanya. Pada masa ini anak-anak telah akil baligh, dan seharusnya bila ia telah melalui semua tahapan fitrah dengan baik, ia telah siap memikul beban syariat.

 

Bagaimana kami menanamkan fitrah seksualitas pada anak?

 

Kami setuju dengan teori fitrah seksualitas di atas dan berharap agar bisa menerapkannya di kehidupan kami. Karena kami percaya, LGBT bukanlah takdir  atau genetik, melainkan sesuatu yang terjadi karena ada kesalahan di belakang, baik itu pengasuhan dan lainnya. Mereka yang tergabung dalam LGBT biasanya adalah mereka yang tidak menjalani tahapan pendidikan fitrah seksualitas dengan baik.

Alhamdulillah Allah telah mengamanahkan kami dua anak-anak lucu, laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki berusia 4 tahun, dan anak perempuan berusia 18 bulan. Sebisa mungkin kami mencoba agar dapat mendidik mereka sesuai fitrah seksualitasnya. Apa saja itu?

 

  1. Memberikan asi full hingga 2 tahun

 

Alhamdulillah secara hitungan hijriyah, abang lolos asi 2 tahun, namun secara masehi kurang 12 hari lagi untuk sampai 2 tahun. Saya berhenti karena hamil kembali. Sementara adik, Alhamdulillah proses pemberian asi masih terus berlanjut dan semoga bisa full hingga 2 tahun. Hanya saja yang masih berat adalah fokus untuk menyusui dan tidak melakukan yang lainnya. Sementara anak-anak begitu sering menyusu, sehingga kadang saya sambilkan dengan membaca atau menulis draf postingan.

 

  1. Mendekatkan mereka dengan ayah dan ibu

 

Meski saya hanya di rumah sementara suami bekerja, bukan berarti anak-anak hanya dekat dengan saya. Sepulang bekerja, suami akan menyempatkan diri bercengkrama dengan anak-anak. Karena suami kadang harus kerja malam dan mengantuk di pagi hari, tapi kadang sedikit dipaksakan untuk bersama dengan anak, entah itu main bersama, menyuapi makan, atau memandikan anak. Kadang bila libur, anak-anak juga sering bermain dengan ayahnya. Biasanya permainan yang lebih ke fisik, seperti lari, main bola, gulat, dan lainnya. Sementara dengan saya lebih sering bermain yang sifatnya kalem serta mengasah otak dan kreatifitas seperti menempel, menggunting, mencoret, dan lainnya.

 

  1. Abang mulai sering ikut ayah, adik mulai belajar menutup aurat

 

Meski ini kaitannya dengan fitrah keimanan, kami mulai mengenalkan tentang menutup aurat sejak kecil pada si adik. Kemanapun bila hendak keluar rumah, saya usahakan ia akan menggunakan kerudung, meski kadang baju atau celananya pendek. Tapi kami tak pernah memaksa, bila ia mulai merasa panas atau gerah, kami akan membolehkannya untuk membukanya.

Selain itu, sejak usia 3 tahunan, abang mulai iku ayahnya sholat di masjid atau ikut mengaji ke rumah ustadz. Kami usahakan untuk tidak memaksa, tapi kami coba tanamkan dengan unsur gembira di dalamnya.

 

  1. Membiasakan abang tidur dengan ayah, sementara adik dengan ibu

Meski perintah memisahkan tempat tidur anak dimulai ketika anak berusia 10 tahun, tapi saya rasa tak ada salahnya mulai membiasakan anak-anak tidur terpisah. Sejak satu tahun terakhir, abang mulai terbiasa bila tidur dengan ayahnya, sementara adik dengan saya. Namun tidak bersifat memaksa, bila suami bekerja atau tidak di rumah, mereka berdua akan tidur bersama saya.

 

Itulah beberapa hal yang kami lakukan dalam rangka menanamkan fitrah seksualitas pada anak. Di zaman yang jelas berbeda dengan zaman kita dulu, sudah seharusnya pendidikan anak tidak lagi kita tekankan hanya pada nilai dan angka. Sudah saatnya kita beralih dari sistem pendidikan yang  selalu menanyakan, anakmu kuliah atau kerja dimana? Berapa rumah atau mobil yang kau punya? Beralih kepada sistem pendidikan yang mempersiapkan anak menjalani peran peradabannya sebaik mungkin.

Karena anak-anak adalah generasi terbaik yang Allah titipkan pada kita, sementara kita adalah orang tua terbaik yang Allah pilihkan untuk anak-anak kita, lalu mengapa kita tidak mendidik mereka dengan sebaik-baik pendidikan? Semoga bermanfaat.

 

#kelasmenulisceritaanak
#menanamkanfitrahseksualitaspadaanak
#batch3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *