Mendidik Anak Perempuan Menutup Aurat Sejak Dini

Sebagai orang tua, sudah seharusnya kita mengenalkan semua hal yang baik kepada anak-anak kita. Baik di sini bukan hanya menurut persepsi kedua orang tua atau orang banyak, melainkan baik menurut Allah dan dicontohkan Rasulullah. Sebagaimana yang diperinthahkan Alah SWT.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
[at-Tahrîm/66:6]

Sumber: https://almanhaj.or.id/4126-jagalah-dirimu-dan-keluargamu-dari-api-neraka.html

Meski pada akhirnya, ketika seorang anak baligh, merekalah yang akan menanggung sendiri pahala dan dosa atas perbuatan mereka, namun kedua orang tua tetap akan dimintai pertanggung jawaban mengenai proses pendidikan hingga si anak baligh atau dewasa.

Pada zaman khalifah Umar Ibn Khatab, ada seorang ayah yang mengeluhkan tentang anaknya yang durhaka. Umar pun menanyakan perkara ini pada anaknya. Lalu anaknya pun tak terima dengan keluhan ayahnya mengatakan bahwa terlebih dulu ayahnya tak memenuhi haknya sebagai anak, yaitu memilihkan calon ibu yang baik, memberikan nama yang baik, hingga mengajarkan al-Qur’an. Tak satu pun dari ketiga hak tersebut dilakukan sang ayah pada anak tadi. Ibunya adalah seorang yang tidak baik, nama yang diberikan berarti buruk, dan ayahnya tak pernah mengajarkan al-Qur’an pada anaknya. Mengetahui hal ini, Khalifah Umar pun marah pada sang ayah. Ternyata sang ayah telah mendurhakai sang anak lebih dulu sebelum anaknya mendurhakainya.

Dari kisah di atas bisa kita simpulkan bahwa anak juga punya hak yang harus dipenuhi orang tuanya. Jangan sampai anak yang kita harapkan jadi penolong di hari akhir nanti, malah menghambat masuknya kita ke SyurgaNya, na’udzubillah.

Mengenai mengajarkan al-qur’an pada anak, termasuk di dalamnya mengajarkan segala sesuatu yang diperintahkan dan dilarang dalam al-qur’an. Tentu saja antara anak laki-laki  dan perempuan terdapat perbedaan dalam hal ini, mengingat fitrah antara anak laki-laki dan perempuan pun berbeda. Misalnya anak laki-laki dididik agar bisa menjadi pemimpin dalam sholat, sementara anak perempuan diajarkan menutup aurat, dan lainnya. Untuk menutup aurat sendiri, saya sepakat bahwa anak perempuan memang harus dikenalkan tentang menutup aurat sejak kecil. Anak yang sejak kecil terbiasa pakaian seksi, diajari centil, didandani tak sesuai dengan umurnya, maka tak heran bila di usia dewasanya ia tak terbiasa menutup aurat bahkan cenderung enggan.

Meskipun memang penting untuk kita para orang tua menanamkan kemauan menutup aurat sejak kecil pada anak, namun orang tua juga seharusnya dapat mengkemas kegiatan ini menjadi suatu yang menarik dan menyenangkan bagi anak, bukan malah sebaliknya.

Alhamdulilllah, kini kami juga sudah dikaruniai seorang putri berusia yang baru berusia 11 bulan. Sejak dilahirkan hingga kini, kami selalu berupaya menanamkan kemauan menutup aurat padanya, meski sebagian orang bilang ini masih terlalu dini, mengingat ia bahkan belum mengerti mengapa dia harus berkerudung. Tapi menurut saya, justru sekarang lah masa yang tepat untuk mengajarkannya berkerudung. Bila ia sudah bisa menerim penjelasan, barulah kami akan mengemukakan mengapa ia harus menutup aurat. Lalu, bagaimana cara kami mengajarkan kepada si kecil tentang menutup aurat sejak dini?

1. Memberikan contoh

Sebagai ibunya, saya selalu berusaha mencontohkan tentang bagaimana menutup aurat yang baik dan benar kepada anak-anak. Dengan begini, semoga mereka pun akan mudah meniru dan senang untuk melakukannya.

2. Pilihkan lingkungan yang baik

Sebisa mungkin anak-anak kami pilihkan teman yang baik. Minimal ibunya berkerudung atau berpakaian sopan. Dengan begitu, anak akan terbiasa dengan kerudung. Bila ternyata temannya sewaktu-waktu berpakaian mini atau lainnya, maka di sinilah butuh peran orang tua untuk menjelaskan sebabnya.

3. Pilih model yang lucu dan si kecil suka

Agar si adik suka dan tak bosan, kami pilihkan untuknya model dan warna yang cerah atau lucu. Bila nanti dia sudah bisa memilih, maka kami akan membolehkan ia untuk memilih sendiri model kerudung yang ia mau.

4. Tidak memaksa

Kini, bila keluar rumah, kami upayakan si adik selalu memakai kerudung. Namun bila ia telah merasa bosan dan mau melepasnya, tentu kami turuti kemauannya, agar nanti tidak ada semacam trauma padanya ketika menutup aurat.

Sementara itu saja yang baru kami lakukan terkait mengajarkan si kecil untuk menutup aurat sejak dini pada si kecil. Mungkin bila dia sudah sedikit mengerti, tak lupa kami tanamkan pemahaman ini ketika membaca buku, menonton film, atau lainnya. Begitulah sedikit sharing tentang menutup aurat bagi si kecil. Kamu punya cerita serupa? Sharing di kolom komentar ya. Semoga bermanfaat. 🙂

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *