Mengajarkan Bahasa Inggris pada Balita, Yeay or Nay?

Mengajarkan bahasa Inggris pada balita, yeay or nay?

Picture credit to pixabay.

Ngomong-ngomong soal bahasa, saya jadi mengenang masa lalu sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat SD, pelajaran bahas Inggris pertama kali diajarkan ketika kami duduk di kelas 4 SD. Saat itu guru yang mengajar kami namanya Bu Aminah. Orangnya cantik, ramah, dan menyenangkan. Sejak saat itu bahasa Inggris jadi pelajaran kesayangan saya. Lalu otomatis nilai bahasa Inggris saya pun sangat baik, baik tertulis maupun lisan.

Lalu beranjak SMP, guru bahasa Inggris otomatis berganti. Kali ini cara mengajarnya berbeda dengan waktu SD. Masih lebih mengasyikkan ketika SD, tapi saya tetap menyenanginya. Nilai saya pun masih di atas rata-rata. Bahkan saya beberapa kali ditunjuk untuk mengikuti lomba pidato bahasa Inggris, meski hasilnya maksimal hanya juara 3 untuk tingkat kota. Saat kelas 2 SMP saya juga pernah mengambil kursus bahasa Inggris, saking saya mau mahir dalam bahasa ini.

Lanjut ketika SMA, bahasa Inggris tetap menjadi pelajaran kesayangan. Bila banyak teman ketakutan ketika pelajaran bahasa Inggris, saya malah menikmatinya.

Maka akhirnya ketika kuliah, saya pun menjadi seorang guru paruh waktu untuk kursus dasar bahasa Inggris. Mengajar anak SD dan SMP bahasa Inggris. Hingga saat ini meski sudah vakum, sedikit banyak, masih ada yang melekat tentang bahasa inggris di kepala.

Suatu waktu saat dalam perjalanan naik kereta api dari Probolinggo ke Mojokerto, saya duduk bersebelahan dengan dua orang turis asing dari Prancis. Maka saya pun langsung mengajak mereka ngobrol. Surprisingly, nothing loose from my memory, haha. Saya masih bisa lancar ngobrol bersama mereka, meski kadang masih mencari kosakata yang pas. Waktu itu kalau tak salah saya sempat sharing kepada si turis tradisi maaf-maafan saat lebaran di negara ini. Saya juga bertanya mereka memesan hotel dimana, ternyata di salah satu aplikasi khusus tiket pesawat dan hotels.

Lain saya, lain lagi suami. Suami malah tak pernah kursus bahasa Inggris. Kesukaannya pada bahasa Inggris biasa saja. Tapi sejak kelas 4 SD dia sudah sering berinteraksi dengan bahasa Inggris. Melalui hobi main game, baca komik, dan nonton film yang audionya bahasa Inggris. Hasilnya adalah nilai bahasa inggrisnya jarang sekali kurang dari 8. Dan sekarang dia juga bekerja di salah satu perusahaan milik asing yang kadang mengharuskannya berinteraksi menggunakan bahasa Inggris dengan pekerja asing.

Apa kesimpulan dari kenangan masa lalu kami berdua tentang bahasa Inggris di atas? Dari kami berdua, tidak ada yang sengaja diajarkan dari balita atau sebelum sekolah khusus untuk pelajaran bahasa Inggris. Tidak ada yang mengikuti kursus bahasa Inggris sejak kecil dan Alhamdulillah kami berdua bisa.

Nah, berdasakan pertimbangan hal inilah, kami berdua lantas memutuskan untuk tidak perlu memaksa mengajarkan anak-anak secara khusus bahasa Inggris.

 

Apakah anak-anak tidak dikenalkan dengan bahasa Inggris?

 

Tidak diajarkan secara khusus bukan berarti kami tidak mengenalkan kepada mereka sama sekali. Meski kami berdua percaya bahwa ada hal lain yang lebih penting untuk dikenalkan dan diajarkan kepada anak terutama di masa golden age mereka, yaitu akidah dan agama, tapi kami tetap harus mendidik mereka sesuai zaman, dimana di zaman ini bahasa Inggris mulai sering digunakan dalam kegiatan sehari-hari, tapi hanya sebatas mengenalkan sekedarnya saja.

Terutama abang, yang sekarang sudah berusia 3 tahun 10 bulan, sudah mulai mengerti belajar dan paham sedikit bila diajarkan sedikit tentanh bahasa Inggris. Kami mencoba mengenalkan bahasa Inggris melalui beberapa video menarik yang ia suka, lagu-lagu, dan kadang sambil belajar angka.

Hasilnya sekarang abang sudah bisa bernyanyi sambil berhitung dari 1 hingga 10 dan a hingga z. Selain itu ada beberapa buku alfabet bahasa Inggris yang sesekali kami bacakan untuknya dan adik, salah satunya buku Raya and weather hadiah dari Tante Wulan, buku baru si abang. Sesekali abang juga bertanya tentang nama benda atau kata dalam bahasa Inggris. Yang penting bagi kami abang memiliki semangat belajar, bila sudah memiliki semangat belajar yang tinggi, InsyaAllah bahasa atau pelajaran apapun, bisa dikuasai dalam waktu cepat dan singkat.

Itulah sedikit tentang pengajaran bahasa Inggris pada anak dalam keluarga kami.

Nah untuk kamu yang ingin anaknya jago bahasa Inggris, mungkin bisa mencoba lima tips dari Mba’ Nia, salah satunya dengan gerakan dan bernyanyi, agar anak lebih tertarik.

Baca juga punya Mba’ Nia: Lima Tips Anak Jago Bicara Bahasa Inggris.

Kalau saya dan suami, tidak ada tips khusus atau perlakuan khusus. Bila anak mau belajar ya monggo, bila belum mau ya tak mengapa. Yang paling penting dia senang belajar tentang agamanya, mengenal Tuhanya, belajar mengaji dari kecil, lalu tumbuh menjadi generasi shalih sepanjang masa, Aamiin. Karena yang terpenting dia punya bekal yang cukup untuk di akhirat nanti. Kalau kamu, bagaimana? Anak-anak sudah dikenalkan dengan bahas Ingris sejak kecil? Sharing yuk! Semoga bermanfaat. 🙂

3 comments

  • Wah ternyata Mak Julia jago bahasa Inggris yaaa…seneng banget bisa menularkan keahliannya ke anak dengan cara yang seru

  • Saya juga belum mau mengajarkan khusus anak saya bahasa asing, saya percaya nanti juga bisa kok..hihi.. Anakku yang pertama termasuk speech delay, tapi udah hapal doa2 dan beberapa surat pendek, padahal saya ga pernah ngajarin loh.. Dia dengar di aplikasi hp aja tiap hari. Makanya saya masih santai aja, pelan-pelan dia serap ilmunya biar ga berasa di-push otaknya..

  • kuncinya dibuat prosesnya menyenangkan yaa supaya lebih mudah diserap otak, hehhee 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *