Mengapa Harus Ada Hoax Diantara Kita?

Jangan ada hoax di antara kita

Mengapa harus ada hoax diantara kita?

Beberapa hari yang lalu, di grup Whatsapp ibu-ibu arisan yang saya ikuti, ada seorang ibu yang membagikan sebuah berita. Isinya tentang kasus penculikan seorang ibu netizen yang kala itu sedang dalam perjalanan di kereta api hendak mengunjungi ibunya.

Selama perjalanan, ia duduk di sebelah ibu-ibu berusia 60 tahun bersama cucu laki-lakinya. Lalu terjadilah perbincangan layak orang Indonesia pada umumnya. Bertanya siapa nama anaknya, usia, dan lainnya. Lalu si ibu pun mulai curiga, karena si nenek (Kita sebut begitu saja biar gampang ya), mulai menanyakan beberapa hal privasi, seperti nama lengkap anaknya, tempat tanggal lahir dan lainnya. Karena mulai curiga, si ibu pun berbohong kepada nenek tersebut.

Singkat cerita, ternyata benar, si nenek mau menculik anaknya. Ketika sampai di stasiun, si nenek mengaku bahwa anak yang digendong adalah cucunya. Lalu cucu laki-laki tadi mengaku bahwa anak perempuan yang dibawa si ibu tadi, merupakan adiknya. Tarik-menarik pun terjadi, suasana pun mulai ramai. Beruntung ada ayah dan ibu si perempuan tadi yang datang menolong dan akhirnya ibu dan anaknya pun selamat.

Seketika saya pun menjadi ngeri, karena saya juga lumayan sering keluar hanya bertiga dengan anak-anak. Selain itu, ternyata di beranda facebook,  ada juga yang membagikan. Duh, makin ngeri lah saya.

Sampai suatu ketika, ada seorang teman yang juga membagikan berita tadi, namun kali ini menanyakan sumber dan kebenaran berita tersebut. Pada akhirnya ada yang memberitahu bahwa berita itu adalah hoax, sumber pertamanya berasal dari sebuah situs fiksi, yang kemudian disebarluaskan.

Bahkan menurut Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal dari situs m.detik.com, sampai saat ini belum ada laporan soal penculikan anak dengan modus tersebut. Beliau juga menambahkan agar publik jangan langsung percaya dengan berita semacam itu, namun harus tetap waspada.

Waspada perlu, sebar berita hoax, jangan!

Dari kejadian di atas, satu hal yang saya yakini adalah, kita memang harus selalu waspada. Kejahatan bisa menimpa kita dimana saja, bersama orang terdekat apalagi orang yang tak dikenal. Tapi jangan gara-gara hal ini, kita sampai kehilangan identitas keramahan masyarakat Indonesia. Saya rasa masih dalam batasan wajar, bila ada yang bertanya perkara nama, usia atau lainnya. Untuk urusan privasi seperti alamat, nomor telepon, atau pin ATM, sebaiknya memang jangan disebarluaskan, baik ke orang dekat yang kita kenal, maupun orang yang tidak kita kenal.

Selain itu, meski demi meningkatkan kewaspadaan bersama, rasanya tak perlu kita menyebarkan berita hoax atau yang tak jelas kebenarannya. Mengapa?

1. Menyebarkan berita hoax = menyebarkan berita bohong = berdosa

Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).’”

Sumber: https://almanhaj.or.id/4089-berkata-benar-jujur-dan-jangan-dusta-bohong.html

Menurut kamus wikipedia, hoax sendiri berarti berita palsu, berita yang tidak benar, tapi seolah-olah benar adanya. Jadi sama seperti bohong bukan? Bukankah sebagai muslim, kita dilarang menyebarkan kebohongan? Bahkan orang yang selalu berbohong dikatakan sebagai ciri yang munafik.

Jika kita memang ingin meningkatkan kewaspadaan, mengapa harus dengan kebohongan? Setahu saya, islam membolehkan kita berbohong dalam 3 hal, peperangan, mendamaikan orang yang beeselisih, serta perkataan suami kepada istri atau sebaliknya, dengan niat membawa kebaikan di dalam rumah tangga.

Ibnu Syihab berkata, “Aku tidaklah mendengar sesuatu yang diberi keringanan untuk berdusta di dalamnya kecuali pada tiga perkara, “Peperangan, mendamaikan yang berselisih, dan perkataan suami pada istri atau istri pada suami (dengan tujuan untuk membawa kebaikan rumah tangga).” (HR. Bukhari no. 2692 dan Muslim no. 2605, lafazh Muslim).

Sumber : https://rumaysho.com/8848-bohong-yang-dibolehkan.html

Namun itu pun sebenarnya bukan bohong dalam arti kata seutuhnya, melainkan hanya permainan kata. Misal Ahmad dan Azam dua orang muslim yang sedang berkelahi. Lalu kita katakan, aku tahu meskipun kalian berselisih paham, Azam selalu mendo’akanmu (dalam bacaan sholat, ada bagian yang mendo’akan saudara muslim lainnya). ¹

Bagaimanapun, sesuatu yang bermula dari kebohongan, tidak akan pernah memberi hasil yang indah.

2. Membuat orang lain takut yang berlebihan

Bila semua percaya akan broadcast hoax yang kita sebarkan, biasanya yang terjadi bukanlah waspada, melainkan panik, atau takut yang berlebihan. Ada orang asing bertanya sedikit, tak kita jawab, hanya karena ketakutan dia akan menculik anak kita. Sebenarnya bukan hanya berita penculikan ini yang sukses tersebar dan viral, berita virus aids yang tersebar di tusuk gigi, sayur kangkung yang ada lintahnya juga tersebar viral dan ternyata hoax. Padahal virus aids tidak bisa bertahan lama di dunia luar,² kecuali masih belum lama darah yang dioleskan. Selain itu, lintah juga tidak akan bisa bertahan lama di usus, karena akan mati terkena asam lambung³.

Namun dari kesemua berita hoax itu, kita memang harus waspada, jangan asal memberi data kepada orang asing, sewajarnya saja. Jangan bergantian memakai tusuk gigi dengan orang lain, karena bisa jadi ada kuman yang tersisa dari bekas mulut orang lain, bersihkan sampai bersih sayuran yang hendak kita masak, bisa jadi ada kotoran yang masuk lewat sayuran tersebut.

3. Pikiran kita mempengaruhi apa yang akan terjadi pada kita

Allah berdasarkan perasangka hambaNya. Bila kita selalu berpikir anak kita akan diculik, kita akan tertular penyakit ini atau itu, maka bukan tidak mungkin hal itu akan terjadi pada kita. Padahal kan seharusnya ketika menjalani kehidupan, kita bisa memilih untuk selalu berpikir positif. Orang yang berpikir positif biasanya hidupnya lebih tenang.

Teliti sebelum berbagi, agar tak ada hoax diantara kita

Mungkin saya dulu juga pernah menjadi penyebar berita hoax, dan saya minta maaf untuk itu. Ke depan, bila ada suatu kejadian atau berita, yang bukan kits sendiri saksi yang melihat kejadian, atau bukan berasal dari sumber yang terpercaya, maka sebaiknya teliti dulu sebelum berbagi. Cek dan ricek sebelum menyebarkan informasi.

Bila budaya menyebarkan berita hoax ini kita amini dan kita benarkan saja hanya karena alasan untuk meningkatkan kewaspadaan, maka tunggulah akan ada hal buruk yang menimpa kita. Bisa jadi nantinya akan ada informasi palsu mengenai bencana alam, atau ada pihak yang memanfaatkan hal ini. Mengarang cerita lalu menggalang dana, atau lainnya.

Bagaimanapun, katakanlah yang benar meskipun pahit. Jujurlah walau sakit. Semoga kita selalu dimudahkan untuk berkata jujur dan berhenti menyebarkan hoax. Sehingga pada akhirnya, jangan ada hoax di antara kita. Semoga bermanfaat.:)

 

Keterangan:

1: https://rumaysho.com/8848-bohong-yang-dibolehkan.html

2. https://www.google.co.id/amp/s/m.klikdokter.com/amp/2934602/benarkah-tusuk-gigi-bisa-sebarkan-hivaids

3. https://m.detik.com/health/read/2015/10/28/142922/3055602/763/benarkah-lintah-dalam-kangkung-yang-termakan-bisa-bersemayam-di-usus

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *