Saya dan Buku

Gila buku

Picture credit to pixabay.

Saya bukanlah penggila buku. Ayah yang hanya seorang nelayan dan emak yang hanya pedagang sayur keliling, tak mampu membelikan kami anak-anaknya buku bacaan. Kadang bahkan kami harus mencicil untuk membayar buku pelajaran. Meski begitu saya mencoba untuk tak pernah menuntut dan kecewa dengan keadaan. Rasanya, bersyukur lebih menenangkan dibanding mengeluh tak berkesudahan.

Mungkin karena itulah akhirnya saya tumbuh menjadi anak yang tak begitu suka membaca. Maksudnya jadi tipe pemilih bacaan, tak seperti beberapa orang yang melahap habis semua bacaan, baik ringan atau berat. Dulu, masa-masa SMP hingga kuliah saya lebih memilih bacaan ringan seperti teenlit dan komik, daripada novel-novel berbau sastra, seperti Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi, dan lainnya. Barulah ketika menikah saya lebih memilih buku-buku tema pernikahan, parenting motivasi dan islam, karena tuntutan profesi sebagai ibu rumah tangga. Tapi meskipun pemilih dalam membaca, entah mengapa sedari dulu saya selalu berpendapat mereka yang suka membaca adalah mereka yang keren. Selain banyak motivasi membaca yang didapatkan dari guru-guru dan teman-teman ketika sekolah.

Waktu kecil saya suka membaca majalah Bobo. Saya mendapatkannya tidak dari membeli baru ataupun bekas, melainkan dari tempat sampah yang tak jauh dari rumah. Jadi rumah kami di Pangkalpinang itu terletak tak jauh dari tempat pembuangan sampah. Ketika saya masih SD, emak dan ayah dipinjami sebidang tanah yang boleh kami kelola untuk diambil hasilnya. Lalu emak dan ayah menanam banyak tanaman. Tanaman utamanya adalah sahang, yang merupakan komoditas pertanian pertama di Bangka kala itu. Waktu itu timah masih dilarang untuk ditambang di Bangka.

Setiap sore, emak dan ayah akan pergi ke kebun untuk sekedar menyirami tanaman atau memanen apa yang bisa dipanen. Kadang kami memanen timun, kacang panjang, atau semangka. Kadang-kadang di hari minggu, kami anak-anaknya akan turut serta ke kebun. Nah, sebelum ke kebun, kami akan mampir di tempat sampah yang merupakan tempat menemukan harta karun bagi kami kala itu. Kadang kami menemukan makananan yang masih layak dimakan, emak menemukan kayu-kayu untuk disulap menjadi kandang ayam di rumah, dan bila beruntung, saya dapat membawa pulang majalah Bobo yang masih bagus, atau sedikit ternoda oleh kotoran sampah.

Oki dan Nirmala, Bona dan Rong-rong, menjadi tokoh yang tak asing bagi saya di masa kecil, meski tak untuh sepenuhnya karena merupakan majalah bekas. Hampir dipastikan saya akan membaca semua bagian majalah, sampai ke surat pembaca atau daftar isinya pun tak lupa untuk dibaca. Kadang ingin sekali mengirimkan karya berupa gambar atau sekedar menuliskan surat pembaca ke majalah Bobo, hanya saja saya tak tahu bagaimana caranya kala itu.

Membaca buku dari perpustakaan atau meminjam dari teman

Karena tak mempunyai uang untuk membeli buku ini pula lah, saya sering nongkrong dan main di perpustakaan kala istirahat tiba. Buku karya NH Dini, menjadi salah satu buku yang dibaca kala SMP, meski tak begitu mengerti maksudnya kala itu. Saya lebih suka membaca buku-buku cerita rakyat, seperti asal-usul Banyuwangi, asal-usul si pahit lidah, dan lainnya.

Beruntungnya, saat SMP saya memiliki beberapa teman yang juga suka membaca dan memperbolehkan bukunya untuk dipinjam. Novel teenlit pertama yang saya baca adalah Dealova  yang akhirnya bukunya difilmkan dan berhasil mengundang penonton yang banyak. Waktu itu pemerannya adalah Jessika Iskandar. Jessica yang polos dan pacarnya yang cool, sempat membuat saya merasa mendambakan kisah percintaan yang sama. Untungnya keinginan ini tak berlangsung lama.

Lalu ketika SMA, saya mulai membaca buku yang mulai beragam. Ini tentu karena pengaruh teman-teman seasrama yang kebanyakan suka membaca buku, terutama novel. Tapi tetap tidak dapat membeli buku sendiri, karena uang saku sangat terbatas kala itu. Perpustakaanlah yang menjadi penolong. Saya ingat betul pernah membaca majalah Horison, sebuah majalah nasional yang banyak membuat karya sastra di dalamnya, dimana terdapat cerita tentang betapa terharunya pihak penerbit majalah tersebut, ketika mengunjungi suatu perpustakaan di sebuah sekolah. Majalah Horison yang dipajang di sekolah itu lecek sekali, awalnya pihak sekolah sempat meminta maaf, tapi pihak majalah Horison malah terharu, karena itu berarti majalah tersebut sering dibaca. Karena bila majalahnya masih rapi berarti itu berarti tak pernah disentuh sama sekali.

Akrab dengan buku Agnes Jessica

Dari teman-teman asrama, saya mulai mengenal banyak penulis. Teman sekamar kala itu, Melsha, sangat menyukai teenlit dan ia sangat menyukai karya-karya Agnes Jessica. Sepatu Kaca, Bukan Pengantin Terpilih, dan Jejak Kupu-Kupu adalah beberapa novel karya Agnes Jessica yang sempat saya baca tentu hasil meminjam dari Melsha, teman sekamar waktu di asrama.

Budaya pinjam meminjam buku ini begitu kental di asrama kala itu. Setiap seseorang membawa buku baru, maka langsung antrean pinjaman mengular panjangnya. Dan Melsha adalah salah satu astri (panggilan untuk siswa putri di asrama) yang rajin membawa buku ke asrama, lalu saya adalah yang sering menjadi peminjam buku-bukunya, haha.

Tapi Melsha sangat ketat akan buku-buku yang ia pinjamkan. Setiap peminjam bukunya tak boleh melakukan hal-hal yang dapat merusak buku, seperti melipat, merobek, atau menekuk. Kalau sampai kita melakukannya, maka langsung mendapat blacklist dari si Melsha bila ingin meminjam bukunya kembali.

Membaca buku Kang Abik

Selain Melsha, ada banyak lagi teman lain yang sering membawa buku ke asrama. Mereka membawanya ke rumah atau meminjamnya dari kakak kelas. Waktu itu kami masih kelas satu SMA, seorang teman yang sedang dekat dengan kakak kelas tiga kala itu, mendapat pinjaman novel best seller, Ayat-Ayat Cinta dari kakak tersebut. Dan tentu saja, saya pun mengantri untuk meminjam buku tersebut, meski waktu itu rasanya susah sekali untuk mengerti bahasa novel itu.

Membaca karya Andrea Hirata

Selain dari Bangka, teman-teman sekolah kami ada juga yang berasal dari Belitung. Waktu itu seorang kakak kelas meminjamkan buku yang ternyata ditulis oleh seorang asli Belitung, Andrea Hirata. Buku itu berjudul Laskar Pelangi. Saya pun senang saja karena mendapat buku bacaan yang katanya bagus. Meski butuh membacanya berkali-kali untuk bisa memahami makna dari buku tersebut, karena bahasanya yang tinggi.

Menularkan gila membaca pada anak-anak

Setelah menikah, Alhamdulillah saya mendapatkan suami yang tidak sayang uangnya terbuang karena dibelikan buku. Kini ada banyak buku bacaan terutama parenting di rumah. Setiap mendapat uang dari hasil ngeblog, saya usahakan untuk bisa membelikan buku dibaca sendiri atau anak-anak. Saya ingat sekali kala SMA, seorang teman mendapat jatah membeli buku Rp 100.000 setiap bulan. Pantas saja di rumahnya ada banyak sekali buku dan majalah, terutama majalah Trubus karena ayahnya yang juga bekerja di bidang pertanian. Dan dari teman yang satu ini pula lah, saya bisa membaca karya Harry Potter dengan tebal beratus-ratus halaman sampai tamat, sebanyak 7 buku.

Buku parenting

Beberapa buku parenting yang saya punya di rumah.

Karena tahu pentingnya manfaat dari membaca buku ini, saya pun mencoba menularkannya kepada anak-anak. Sejak kecil kami biasakan mereka untuk suka membaca. Ketika abang berusia 3 bulanan, kami membelikannya buku bantal yang aman dan tidak gampang robek. Sayangnya dia tak terlalu tertarik dengan buku bantal. Waktu itu kami membelikannya semacam ensiklopedia tentang kehidupan hewan. Ada gambar hewan warna-warni di buku itu. Dia sangat senang melihat buku itu. Sesekali kami membacakannya. Sayangnya tak begitu lama buku itu habis dirobeknya.

Banyak sekali buku yang dirobek abang ketika usia 1 hingga 3 tahun. Tapi tak membuat kami lantas berhenti membelikannya buku. Karena berdasarkan yang saya baca, merobek juga merupakan tahapan penting dalam perkembangan si kecil. Akhirnya kami lebih sering membelikannya buku-buku boardbook, buku yang cover dan isinya tebal dan tak gampang robek. Tapi ketika usia abang sekitar 3 tahunan, ia mulai menyukai buku-buku dengan gambar yang mirip aslinya, yang kebanyakan dari kertas biasa. Setelah abang, kini ada adiknya yang mengulangi hal yang sama. Jadi kini bila kami membelikan buku, kami akan membelikan boardbook untuk adik, dan kertas biasa untuk abang.

Menularkan anak gila membaca

Sudut buku di rumah. Ini foto setelah dibersihkan.

Alhamdulillah anak-anak mulai menunjukkan hasilnya sedikit demi sedikit. Setiap hari di rumah rasanya tak ada hari tanpa membaca buku. Kadang bahkan kami yang sampai kewalahan membacakan mereka buku. Buku selalu kami tempatkan di sudut rumah agar mudah dilihat anak-anak. Jadi setiap hari mereka akan dengan mudah menemukan buku-buku yang mereka mau baca, meski pada akhirnya rumah jadi bolak-balik berantakan karena buku berserakan dimana-mana.

Begitulah cerita saya dengan buku. Meski masih belum menjadi penggila buku, tapi kini saya semakin sadar, dengan bermimpi menjadi seorang penulis, buku harusnya menjadi teman akrab di keseharian. Selain karena ada banyak yang harus dipelajari sebagai bahan untuk mendidik anak-anak, juga agar buku menjadi lebih bernyawa. Kamu juga punya cerita dengan buku? Sharing pengalamanmu di kolom komentar yuk! 🙂

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *