Mengenal Suka Duka Menulis Buku Antologi bersama Sundari Eko Wati, Penulis 7 Buah Buku Antologi

Suka duka menulis buku antologi bersama Sundari Eko Wati

Tema kulwap jum’at di grup Odop For 99 days, 3 Agustus kemarin.

Bagi yang memimpikan menjadi penulis buku, tentu memiliki nama kita sendiri tertulis dengan  manis di cover depan sebuah buku sebagai penulisnya adalah kebahagiaan yang tiada tara. Tapi terkadang untuk menulis buku sendiri, butuh usaha dan energi yang berlebih, belum lagi ditambah dengan berbagai tantangan lainnya. Terutama untuk emak rempong seperti saya (malah curhat, haha).

Jangan berkecil hati dulu, karena meskipun begitu, kita masih bisa menjadi seorang penulis buku, dengan cara menulisnya bersama-sama atau istilahnya antologi. Jadi di dalam buku tersebut, ada tulisan beberapa orang terutama kita, dengan tema yang sebelumnya telah disepakati.

Hadir di Kulwap (Kuliah Whatsapp) jum’at grup Odop For 99 Days jum’at 3 Agustus yang lalu, penulis buku yang telah menghasilkan 7 karya buku antologi, Sundari Eko Wati atau biasa disapa Teh Ai. Tujuh karya antologi tersebut adalah:

Genre dewasa:

 

1.33 Kisah Me Time

2.Chamomile Tea For Wonderful Moms (terbaru)

Cerita anak:

1.43 Dongeng Amazing

2.Meraih Bintang Surga

3.Tahukah Kamu?

4.Semar Idul Fitri di 5 Benua 20 Negara (Penerbit mayor, Ziyad)

5.Semarak Idul Adha di 5 Benua 20 Negara (Penerbit mayor, Ziyad)

 

Ketika ditanyai tentang proses kreatif ketika Teh Ai menulis buku, ia mengatakan hampir semua bukunya terinspirasi dari hal-hal yang terjadi sehari-hari atau pernah ia lewati. Terutama ketika menulis cerita anak, seringkali aktifitas anak nya yang menjadi inspirasi. Misalnya ketika hendak membuat naskah dongeng kontemporer, idenya didapat dari aktifitas sang anak, lalu ditambah dengan menonton tontonan atau lainnya, kemudian dibumbui dengan imajinasi pribadi, lahirlah cerita berjudul Tuk-tuk, Perahu, dan Mobil Ajaib Jasmine.

Tak hanya itu, nampaknya segala sesuatu yang terjadi di kesehariannya dapat ia jadikan inspirasi dalam menulis cerita. Suatu hari ketika anaknya sedang mengalami kejadian kurang menyenangkan dengan temannya, kemudian ia tuangkan dalam cerita, dengan konflik yang diganti serta ditambah unsur lucu, jadilah cerita Aisya Berbaik Sangka pada Kiara.

 

43 dongeng amazing

Salah satu buku antologi cerita anak karya Teh Ai dan kawan-kawan. Sumber gambar http://turkiyeandmylife.blogspot.com.

 

 

Seperti buku Semarak Idul Adha di 5 Benua 20 Negara, ia memilih bercerita tentang idul adha di negara Malaysia karena pernah ke sana dan berinteraksi langsung dengan orang Malaysia. Sehingga lebih mudah untuk menuliskannya. Atau buku Chamomile Tea For Wonderful Moms yang ia tulis berdasarkan pengalamannya sebagai ibu rumah tangga.

Ini jadi teguran sekali bagi saya yang masih sangat minim pengalaman dalam menulis buku, yang selama ini rasanya sulit untuk menemukan inspirasi. Ternyata hanya dengan jeli membaca sekitar, ditambah dengan beberapa referensi, maka sudah dapat dijadikan sebuah cerita.

Meskipun juga sibuk sebagai ibu rumah tangga yang harus mengurus rumah dan mendidik anak, wanita lulusan S1 MTK ITB ini tetap berusaha meluangkan waktu untuk menulis naskah sesuai dengan deadline yang ditentukan. Biasanya ia menulis ketika anak tidur atau di malam hari saat sang anak ada yang menemani.

Ini jadi semacam motivasi terutama bagi ibu rumah tangga seperti saya, agar jangan takut untuk bermimpi, meski berprofesi sebagai ibu rumah tangga dengan segudang aktifitas, impian menjadi penulis tetap dapat diwujudkan asal ada keinginan untuk mewujudkannya.

Lebih lanjut lagi Teh Ai mengatakan, bahwa dengan menulis buku antologi, ia bisa kenal dengan banyak penulis lain yang tinggal di berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada yang di luar negeri. Hal ini juga bisa menjadi jalan pembuka untuk bertemu dengan penerbit mayor. Dengan menulis buku ia juga jadi banyak belajar tentang bagaimana menulis dialog yang benar, memasukkan unsur mendidik dalam cerita anak, dan lainnya. Ia juga sering membaca naskah teman yang lain untuk diambil hikmah dan pelajaran, dengan begitu menulis buku antologi dapat menjadi semacam latihan untuk mengasah kemampuan menulis baginya, sebelum nanti menulis buku solonya sendiri.

Tentang banyaknya penulis dan ragamnya cerita dalam sebuah buku antologi, Teh Ai mengatakan itu dapat menjadi kekayaan dan kenunikan tersendiri untuk buku antologi. Bila biasanya sebuah buku hanya berisikan pemikiran seseorang, buku antologi bisa menghadirkan berbagai pemikiran dari orang yang berbeda. Ini dapat menggiring pembaca memiliki banyak sudut pandang akan suatu hal. Seperti buku terbarunya Chamomile Tea For Wonderful Moms, berisikan pengalaman berbeda dari tiap ibu tentang pilihan hidup mereka masing-masing. Di buku ini ia bercerita tentang pilihannya sebagai ibu rumah tangga dengan kesehariannya, lalu bagaimana ia mencoba terus bahagia dengan pilihannya, suka dukanya, hingga bagaimana ia bisa bangkit mengatasi masa-masa sulit sebagai ibu rumah tangga. Selain itu ada juga cerita ibu lain tentang pilihan mereka sebagai ibu bekerja. Tentang perjuangannya, kesulitan dan kemudahan yang ia temui, hingga bagaimana ia juga terus berusaha memberi kasih sayang terbaiknya meski ia harus bekerja.

Selain itu, mengapa ia sekarang masih betah untuk terus menulis buku antologi, karena biasanya banyak halaman yang diminta ke tiap penulis berkisar antara 1 hingga 5 halaman. Ditambah selama ini ia selalu menulis cerita yang ia suka dan kuasai, yaitu cerita anak dan motherhood. Hal inilah yang membuatnya merasa lebih enjoy ketika menulis buku antologi, meski deadline yang diberikan hanya dua mingguan.

Meski telah menulis sekitar 7 buku antologi, Teh Ai mengaku selama ini niat menulisnya adalah ingin meninggalkan jejak kehidupan yang baik, terutama bagi anak-anak nya.Soal bukunya menjadi laris dan disukai banyak orang, itu menjadi semacam bonus bagi seorang penulis.

Tujuh buku antologi yang telah ditulis bersama penulis lainnya tersebut hanya ditulis dalam kurun waktu 2 tahun, yaitu dari tahun 2017 hingga kini 2018. Semua itu bermula ketika ia aktif kembali menulis di blog di tahun 2016 setelah anak pertamanya berusia dua tahun. Lalu di tahun 2017 ia mencoba membuat resolusi di tahun tersebut untuk menulis sebuah buku dalam setahun. Gayung bersambut, Allah pun mendengar doanya,  kala itu ternyata di grup ODOP For 99 Days sedang ada proyek menulis buku antologi dengan tema me time, lalu lahirlah buku 33 Kisah Me Time dengan tulisannya menjadi salah satu pengisi buku tersebut. Setelah itu ia pun menantang kembali dirinya, dengan membuat target baru di tahun 2018. Ia membuat resolusi agar dapat membuat buku lebih dari satu buku di tahun 2018, hingga akhirnya buku-buku berikutnya lahir di tahun ini.

 

Suka duka Menulis buku antologi

Buku antologi pertama Teh Ai, proyek bersama grup Odop for 99 days. Picture credits to www.stilettobook.com.

Di akhir kulwap, Teh Ai sempat menyisipkan beberapa tips untuk menulis buku:

1.Tentukan niat yang kuat yang dapat dijadikan alasan mengapa kita mau menulis buku. Seperti yang dituliskan di atas, Teh Ai sendiri menulis buku dengan niat untuk meninggalkan jejak kehidupan yang baik, terutama bagi anaknya.

2.Cari bidang mana yang disukai untuk ditulis, bisa novel cerita anak, cerita remaja, motherhood atau lainnya.

3.Setelah menemukan niat dan bidang yang mau ditulis, temukan komunitas yang senapas dengan kita. Yang menyukai menulis dan sama-sama mau menulis buku. Teh Ai sendiri selain tergabung di grup  ODOP, juga bergabung bersama Wonderland Publisher.

4.Setelah menemukan ketiga hal di atas, jangan lupa untuk mencari penerbit yang terpercaya. Selama ini bukunya diterbitkan oleh penerbit indie dan mayor. Setiap jenis penerbitan memiliki kelebihan masing-masing. Bila di penerbit indie penulis harus ikut melakukan promosi, namun buku akan dicetak sesuai pesanan, sehingga kita bisa memastikan bahwa buku yang dicetak memang karena ada yang memesan, sehingga tidak ada buku yang percuma. Sedangkan di penerbit mayor penulis tidak harus melakukan promosi, karena sudah ada tim promosi di penerbitan mayor, selain itu juga ada royalti dari tiap penjualan buku.

 

Itulah sekilas tentang kulwap mengenal suka duka menulis buku antologi bersama Teh Sundari Eko Wati. Semoga siapa saja termasuk saya, bisa segera mewujudkan mimpinya untuk menjadi penulis buku, Aamiin. Semoga bermanfaat. 🙂

#JumatKulwapODOP

#giveawaysundari

2 comments

  • Haloo…mbak julia, saya juga hadir di kulwap jumat kemaren, tapi saya belum sempet bebikinan resumenya di blog sendiri, soalnya belum pernah menulis ttg resume2, hehe…karena hari senin waktunya blogwalking dan penasaran dengan cara meresume suatu kulwap, saya pun mampir ke sini mbaaak

    Daaan…suka tulisannya, mbak…mengalir aja pas membaca resume ini…ditambah ada info gbr buku2 yg dah dibuat oleh teh ai, saya pun jadi pengen membaca bukunya deh…sukses terus ya mbak julia😉

  • seru banget ya mbak, kulwap Teh Ai… saya bener-bener dapat banyak semangat jugaa jadinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *