Mengenalkan Bulan Ramadan pada Anak, yang Penting Mereka Merasakan Semangat Ramadan

 

Picture credit to pixabay.

 

Marhaban yaa Ramadan,

Marhaban yaa Ramadan

 

Saat masjid ramai suara orang mengaji terutama di malam hari, saat jamaah sholat isya lebih banyak dari biasanya, saat di pinggir jalan banyak orang jualan makanan dan masakan di sore hari, saat hampir semua tempat makan jadi penuh karena dipesan banyak orang, saat iklan di tivi sudah banyak tentang sirup, saat orang-orang giat menyuruh makan di jam sebelum subuh, saat  adzan magrib begitu dinanti, saat itulah berarti kita sedang berada di bulan ramadan, bulan penuh berkah, bulan yang di dalamnya pahala kebaikan dilipat gandakan.

 

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)¹

 

Alhamdulillah ramadan kali ini sudah ada dua balita di rumah kami. Bila tahun kemarin si abang belum terlalu paham tentang puasa, tahun ini sepertinya dia mulai mengerti bahwa ummi dan abinya tidak makan di siang hari karena puasa. Bila tahun kemarin dia masih menyuapi kami makanan di siang hari, tahun ini dia sudah bisa protes bila kami ketahuan makan di siang hari (emang ada yang mau mokel? Haha).

Di usianya yang baru 3 tahun 9 bulan, saya rasa terlalu dini untuk memaksanya ikut berpuasa. Karenanya saya setuju dengan Mba’ Diah Deka, tak perlu memaksa atau dengan cara yang negatif bila ingin mengenalkan bulan ramadan pada anak. Yang penting anaknya bahagia dan semangat ketika ramadan datang, itu sudah sangat baik sebagai permulaan.

 

Baca juga tulisan Mba’ Diah: Mengenalkan Bulan Ramadan pada Anak, Hindari Cara Negatif.

 

Bila anak sulung Mba’ Diah sudah mulai puasa, si abang anak pertama saya belum, seperti yang tulis di atas, masih terlalu kecil, hehe. Tapi sebenarnya kadang-kadang dia ikut puasa juga. Kadang ia baru makan di pagi hari jam setengah 10 siang. Meski kadang sambil minum, haha.
Karenanya, tahun ini kami belum mulai mengajak abang untuk puasa. Masih sebatas mengenalkan semangat ramadan pada si abang. Apa saja yang kami lakukan untuk mengenalkan bulan ramadan pada anak?

1.Ngobrol tentang makna puasa

Beberapa hari sebelum ramadan, saya mulai sampaikan pada abang dengan dialog. S (saya), A (abang)

S: “ Bang, sebentar lagi Ummi dan Abi akan puasa. Tidak boleh makan dan minum. Tapi nanti kalau puasa, kita bisa dapat pahala.”

A: “ Pahala itu apa Mi?”

S: “ Pahala itu kalo kita mau masuk surga. Semakin banyak pahalanya, semakin mudah masuk surganya. Nanti kalau Abang sudah di surga, bisa minta apapun sepuasnya.”

A: “Minta permen yupi Mi, banyak-banyak”.

Dengan begitu abang akan tahu, mengapa orang tuanya berpuasa.

  1. Ajak anak sahur dan buka bersama

Karena abang belum mulai puasa, jadi ia baru ikut berbuka bersama. Setiap saya selesai menyiapkan menu berbuka, ia yang paling antusias mencicipi pertama kali. Dengan begini kelak akan ada sedikit momen dari ramadan yang ia rindukan. Karenanya menunya tak perlu mewah, agar anak tak kecewa bila suatu waktu menu berbukanya biasa saja. Menu berbuka yang paling sering di rumah es cincau ( orang Jawa sini bilangnya cao), kurma dan sesekali dengan buah.

  1. Ajak anak tarawih bersama

Abang paling senang diajak sholat tarawih di masjid. Karena dengan begitu ia bisa bertemu dengan banyak temannya. Tapi sebelumnya kami buat kesepakatan, bila ia ribut dan mengganggu orang lain sholat, kami akan segera pulang. Alhamdulillah ia jarang ribut. Meski sholatnya seenaknya sendiri, tapi ia bisa awet duduk dan berdiri di sajadahnya sendiri, meski teman-temannya berlarian di seputar masjid.

  1. Ajak anak berbagi walau sedikit

Bulan ramadan adalah bulan berbagi. Karenanya kami mau semangat untuk berbagi anak-anak bisa tercipta sejak ramadan dan semoga bisa berlanjut setelahnya. Kadang bila saya membuat kolak agak banyak, abang saya minta membagikan kepada para tetangga, walau tidak terlalu banyak.

  1. Menonton video tema ramadan

Meski bulan puasa, jatah nonton video abang tetap sama. Bila kuota sedang banyak, saya pilihkan si abang video yang membahas tentang tema ramadan.

  1. Membaca buku tema ramadan atau ibadah
Raya and the weather

Beberapa buku yang siap dibaca di bulan ramadan. Kalo yang ini bukan giveaway, tapi dikirim langsung penulisnya, yang merupakan teman SMA saya di Bangka dulu. Terima kasih Tante Wulan, semoga bukunya laris dan berkah.

Ramadan saatnya meningkatkan ibadah. Karena abang lumayan senang membaca, kadang kami membacakannya buku tema ibadah atau ramadan. Alhamdulillah kemarin sempat dapat hadiah GA buku worksheet anak sholih tentang tema sholat. Abang pun senang sekali membacanya.

 

Itulah beberapa hal yang kami lakukan dalam rangka mengenalkan bulan ramadan pada anak-anak, terutama abang. Kalau adik sih cuma ikut-ikutan saja, karena masih imut, haha. Bila anak mengenang ramadan sebagai bulan yang menyenangkan, semoga mereka jadi sayang dengan bulan penuh berkah ini, dengan begitu mereka akan lebih mudah untuk memperbanyak ibadah di bulan suci, Aamiin.

Oh ya, postingan ini adalah postingan perdana #NgobrolinRamadan saya duet dengan Mba’ Diah Deka dari blog dekamuslim.com. InsyaAllah setelah ini akan ada tema lain tentang ramadan. Kamu punya pengalaman tentang mengenalkan ramadan kepada anak? Atau mau usul ide #NgobrolinRamadan kami berdua? Sharing di kolom komentar ya, terima kasih. Semoga bermanfaat. 🙂


Sumber 1: https://rumaysho.com/11279-pahala-amalan-di-bulan-ramadhan-1000-kali-lipat-dibanding-bulan-lain-benarkah.html

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *