Menjadi Viral Tanpa Membual, Dikagumi Tanpa Menyakiti

Menjadi viral

Picture credit to pixabay.

 

Di zaman milenial seperti sekarang, yang segala sesuatu bisa diposting di sosial media, banyak sekali orang yang ingin menjadi viral. Bukan hanya orang dewasa, bahkan anak kecil pun sudah tertarik untuk menjadi viral.

Apalagi sekarang di sosial media ada banyak orang baru yang bermunculan karena ternyata ia berhasil menjadi viral. Sebut saja Davina dan Entri, dua anak kecil yang jadi viral karena tingkah mereka yang lucu saat menyanyikan lagu Abdullah. Atau Joni, siswa SMP Atambua yang dengan beraninya menyelamatkan bendera merah putih kala upacara 17 Agustus yang lalu. Lalu baru-baru ini penyanyi Karena Su Sayang asal Maumere Dian Sorowea yang juga jadi viral karena video lagu mereka telah ditonton jutaan viewer di youtube.

 

Salahkah menjadi viral?

 

Sebenarnya apakah menjadi viral adalah sebuah kesalahan? Apakah seseorang yang mengupload videonya di media sosial, kemudian berharap videonya menjadi viral itu salah?

Dari sepanjang yang saya lihat, mereka yang jadi viral kadang adalah mereka yang tak mengharapkannya. Seperti Dian Sorowea, yang ditanya ketika menghadiri acara Ini Talkshow di Net TV, ternyata tak pernah berniat atau berharap bahwa videonya akan viral. Ia membuat video itu karena memang ia suka menyanyi. Begitu pula Joni si pemanjat yang menyelamatkan bendera. Tentu sebelumnya ia tak pernah berpikir dan berniat bahwa ia akan terkenal karena itu. Orang-orang seperti ini biasanya mereka nothing to loose. Tak menjadi viral tak apa-apa, menjadi viral, Alhamdulillah.

Tapi sayangnya, ada orang-orang yang memang meniatkan diri untuk menjadi viral, sayangnya bukan dengan sesuatu yang benar, kadang malah membual. Sebut saja yang sedang viral sekarang, dua komika yang membuat sebuah video lucu tapi di dalamnya banyak unsur-unsur agama yang ditertawakan. Selain itu ada juga aksi prank yang sangat mengganggu dan tak lucu.

 

Jangan halalkan segala cara untuk menjadi viral

 

Sedihnya, semakin kesini, semakin banyak orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk menjadi viral. Sebut saja dua komika yang saya sebutkan di atas. Dengan entengnya mereka menertawakan agama dan apa yang dipercaya oleh orang-orang islam di dalamnya. Menjadikan agama untuk bahan joke menurut saya itu sama sekali bukan hal yang lucu. Itu malah sebuah tanda bahwa mereka melakukannya karena mereka kehabisan ide untuk melucu sehingga mereka mulai menggunakan agama sebagai bahan candaan. Tanpa pernah memikirkan apakah si penganut agama sedih atau tidak. Yang paling penting mereka bisa menjadi viral, lalu ngetop, kemudian mendapatkan banyak job karenanya.Tapi semoga itu hanya karena saya salah duga.

Atau yang baru-baru ini terjadi dan ramai di media sosial saya, prank jadi pocong kemudian menakut-nakuti orang lain dengan itu. Jadi di dalam video itu, ada orang yang menyamar jadi pocong di malam hari, tepatnya di depan ATM. Dan mereka yang melihatnya sangat terkejut bahkan lari. Seorang wanita sampai menangis lama karena ini, bahkan ada yang pingsan. Untungnya tak ada yang jantungan, sehingga tak sampai membahayakan. Tapi kemudian mereka yang membuat prank ini lalu dihukum warga tidur dua malam di kuburan. Alhamdulillah.

 

Boleh saja menjadi viral, asal jangan membual atau malah menyakiti agar dikagumi

 

Menurut saya, untuk menjadi viral, kita tak harus melakukannya dengan membual atau bahkan menyakiti orang lain. Apalagi sebagai muslim kita dilarang bercanda dengan unsur bohong di dalamnya. Bahkan Rasulullah pun bercanda, hanya saja Beliau tetap jujur dalam candaannya.

Seperti kisah nenek tua yang minta dido’akan agar dapat masuk surga, kemudian Rasulullah malah berkata bahwa di surga tak ada nenek-nenek, lalu nenek itu pun menangis karenanya. Kemudian Rasulullah menjelaskan bahwa di surga memang tak ada nenek-nenek, melainkan para nenek akan menjadi muda kembali. Lalu sang nenek pun tersenyum. Begitulah candaan ala Rasulullah, tetap mendidik dan menghibur, tanpa perlu menghina dan menyakiti. Bukan malah menjadikan konten agama untuk dibuat candaan. Seperti, “apakah babi ini akan menjadi halal? Ha ha ha”. Padahal sudah sangat jelas babi diharamkan oleh agama dan tak akan pernah menjadi halal kecuali darurat atau seseorang bisa mati karena tidak makan, dan babi adalah satu-satunya makanan.

Selain itu, ada banyak sekali performer yang walaupun tidak melucu dengan agama, mereka tetap lucu. Seperti para pelawak zaman dulu.

 

Jadilah kreatif agar dapat menjadi viral

 

Yang membedakan kita dengan mahluk lainnya adalah kita memiliki otak yang digunakan untuk berpikir. Tentu dengan segala kelebihan yang kita punya, kita bisa lebih kreatif menciptakan konten tanpa perlu menyakiti orang lain.

Kalau meminjam bahasanya Pak Harry Santosa penulis buku Fitrah Based Education, carilah makna jangan materi. Karena bila kita telah mendapatkan makna, otomatis materi akan datang dengan sendirinya. Tapi bila kita sibuk mengejar materi, maka lama kelamaan makna akan hilang dari sisi kita.

Tentu saya pun masih belajar untuk ini. Bagaimana meniatkan menulis memang untuk berbagi dan ada lebih banyak orang yang tahu, bukan mengharapkan banyak yang membaca lalu bisa dapat banyak sponsored post karenanya. Meskipun agak terdengar naif ya, karena bagaimanapun seorang blogger yang menulis di blog lalu ia ingin banyak orang membacanya, tentu juga berharap ada banyak sponsored post yang datang padanya. Dan menurut saya ini memang hal yang masih wajar dan menandakan kita masih manusia. Kecuali memang para pendakwah yang tingkat keikhlasan dan qanaahnya sudah sangat tinggi.

Tapi maksud saya agar kita jangan semata menuhankan job yang akan datang, kemudian meniadakan hati dan sisi kemanusiaan yang kita punya. Apakah orang lain terluka dengan postingan kita? Atau adakah kebaikan yang bisa diambil dari konten kita, atau lainnya.

Terakhir, saya mau menuliskan ungkapan yang menurut saya bagus, yaitu baik menjadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik. Memang baik menjadikan konten kita viral, tapi jangan lupa tetap menampilkan sisi kemanusiaan yang kita punya.

Terima kasih sudah membaca sampai akhir sedikit tulisan saya, semoga bermanfaat. 🙂

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *