Miliki 10 Hal Ini Sebelum Memutuskan Menikah Muda!

Menikah muda

Miliki 10 Hal Ini Sebelum Memutuskan Menikah Muda!

Pada pertengahan tahun 2017 lalu, sosial media sempat heboh dengan pernikahan seorang anak ustadz di usianya yang baru 17 tahun. Beberapa bulan setelahnya, ada lagi seorang anak muda yang  menikahi teman seorang selebgram di usia yang juga masih muda. Sayangnya pernikahan mereka dikabarkan kandas hanya dalam waktu beberapa bulan.

Lalu ketika sedang asyik scroll timeline (jangan ditiru ya 🙁 ) ada seorang teman di facebook share artikel yang intinya, jangan hanya ngomporin orang lain untuk menikah muda saja, tapi juga ngomporin tentang ilmunya. Jangan sampai gara-gara provokasi menikah muda dari kita, orang lain buru-buru menikah tanpa paham ilmunya. Na’udzubillah. 🙁

Jadi sebenarnya saya tuh pro sekali dengan menikah muda. Saya setuju bahwa dalam islam pacaran itu haram hukumnya. Lebih banyak mudharatnya ketimbang baiknya. Membuat kita mendekati zina. Tapi setelah hampir 6 tahun menikah, saya jadi tahu sedikit bagaimana rasanya menikah, problemanya, dan lainnya, walaupun masih sedikit, karena usia pernikahan kami yang masih muda. Karenanya, makin ke sini, makin jarang saya memprovokasi orang untuk menikah muda. Kecuali bila dia sudah punya pasangan, saya senang menyemangati dengan ” halalkan atau tinggalkan”, hehe.

Bukan berarti saya tidak setuju lagi dengan menikah muda ya. Saya sendiri menikah di usia yang masih bisa dibilang muda ( 22 tahun muda kan ya? Haha). Waktu itu teman-teman seumuran sedang sibuk-sibuknya mengurus kuliah dan karir, saya malah sibuk mengurus tugas akhir dan nikah. Haha. Tapi makin ke sini saya sadar, menikah muda itu akan jauh lebih baik bila dengan ilmunya.

Jadi dalam Islam, selain untuk tujuan berkembang biak, menikah juga jadi sarana menyalurkan naluri fitrah seksual seorang manusia. Tapi di dalam pernikahan itu bukan hanya ada kita dan pasangan saja, ada anak, mertua, ipar, tetangga, pendidikan keluarga, dan lainnya yang sepaket dalam pernikahan. Jadi ketika menikah, kita bukan hanya akan berurusan dengan pasangan kita saja ya, nanti akan ada anak yang harus kita jaga dan didik, akan ada tanggung jawab menafkahi kebutuhan keluarga bagi suami. Selain itu ibu juga harus menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya, dan lainnya. Tapi dengan semua paket di dalam pernikahan, jangan sampai membuat kita takut bahkan enggan menikah ya, justru ini tantangannya. Makanya mengapa dengan menikah (yang sesuai syariat) dapat menyempurnakan separuh agama. Karena di dalamnya kompleks sekali, ada suami yang berusaha memenuhi kebutuhan istri dan keluarga, ada istri yang berusaha menjaga anak dan keluarga, ada bakti anak kepada mertua, dan lainnya. Makanya, agar menikah lebih berkah, lebih siap mengarungi seperti apapun bahteranya, kita harus menyiapkan bekalnya. Sebenarnya bukan hanya yang menikah muda saja sih, tapi semua yang mau menikah, harus tahu dulu ilmunya, baru kemudian menikah. Karena pernikahan yang kandas kan bukan hanya mereka yang menikah di usia muda, banyak juga yang sudah matang tapi baru sebentar menikah lalu berpisah. Tapi karena yang muda ini biasanya masih labil, gampang emosi, menurut saya sebaiknya punya 10 hal ini sebelum memutuskan menikah muda. Apa saja?

1. Niat menikah karena Allah

Bila niat menikah kita hanya karena Allah, kita akan punya pegangan yang kuat ketika mengarungi bahtera rumah tangga. Sebesar apapun ombaknya, seperti apapun masalahnya, kita akan selalu ingat, bahwa Allah lah yang menjadi alasan mengapa kita mau menikah. Tapi beda lagi alasannya bila kita menikah karena ingin memiliki dia yang cantik. Begitu istri mulai keriput, kita jadi bosan dan mau meninggalkannya, na’udzubillah. Atau mungkin menikah karena hartanya, ketika tiba-tiba pasangan jatuh miskin, langsung lari meninggalkannya. Jangan sampai ya.

2. Paham kewajiban dan hak sebagai suami atau istri

Ini penting sekali, karena dengan begini, kita jadi tahu do and don’t nya ketika menikah. Tentu sebelum meminta hak, kita penuhi dulu kewajiban kita. Banyak rumah tangga yang karam di tengah jalan, karena suami atau istri belum paham tentang hal ini. Suami tidak paham bahwa kewajiban suami adalah memenuhi kebutuhan istri. Bukan hanya makan dan minum ya, tapi kebutuhan seperti liburan sesekali atau menuntut ilmu. Jadilah istri sering keluar dengan teman-teman nya tanpa didampingi suami. Jadi mulailah terbuka celah perselingkuhan. Istri lebih senang cerita kepada teman laki-laki nya dibanding suaminya sendiri. Sebenarnya untuk ini bisa sambil belajar, tapi minimal tahu sedikit tentang dasarnya.

3. Semangat menjalankan kewajiban sebagai muslim

Ini penting sekali. Bila sholat masih bolong, belum menutup aurat, sebaiknya perbaiki dulu kewajiban yang lain, lalu menikah. Karena niatan menikah itu kan membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah, keluarga yang dicintai Allah. Nah, bagaimana kita mau sama-sama belajar, sama-sama memperbaiki diri, bila kewajiban yang dasar, seperti sholat, puasa, menutup aurat saja belum kita penuhi.

4. Paham konsekuensi setelah menikah

Setelah menikah akan berbeda sekali dengan sebelum menikah. Bila dulu ketika sendiri kita hanya mengurus semua tentang kita, sekarang setelah menikah, ada istri atau suami yang harus kita jaga. Apalagi bila sudah punya anak, kita harus merawat, menjaga, memelihara, mengajak bermain, memberikan kasih sayang, dan lainnya. Jadi tidak bisa seperti dulu lagi, ngumpul-ngumpul ketawa-ketiwi sesukanya (walau memang ini tidak dianjurkan dalam islam, ya). Jadi ketika kita paham konsekuensi yang akan kita hadapi setelah menikah, kita tidaj akan terkejut dengan perubahan yang ada, sehingga bisa lebih siap menjalani hari setelah pernikahan.

5. Sayang anak-anak

Semua pasangan yang menikah tentu berharap akan memiliki keturunan. Untuk bisa menjaga anak-anak dengan baik, butuh kasih sayang yang besar agar lebih mudah. Memang kasih sayang kepada anak sendiri akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Tapi bila kita sudah mempersiapkan sejak dini, mungkin kita akan jauh lebih dekat dengan anak-anak kita.

6. Sudah punya calon yang shalih atau shalihah

Ini penting sekali. Jangan asal menikah dengan siapa saja. Pastikan dia seiman dan sholih atau sholihah. Suami atau istri yang sholihah akan terus berusaha memnuhi kebutuhan istri atau suaninya dengan baik.

7. Mandiri

Bila piring sehabis makan saja masih harus orang tua yang meletakkan di tempat cuci piring, celana dalam masih dicucikan orang tua, sampai makan pun masih disuapi orang tua, saran saya sebaiknya belajar dulu tentang kemandirian. Minimal bisa melakukan segala sesuatu sendiri. Syukur kalau sudah bisa mencari nafkah atau masak sendiri.

8. Mempunyai kemauan untuk memenuhi kebutuhan keluarga bagi suami

Yang harus digarisbawahi adalah mau. Bila seorang mau, meski dia belum memiliki pekerjaan, dia tidak akan malas dan pantang menyerah. Jadi saran saya jangan hanya lihat apakah calon suami sudah memiliki pekerjaan atau belum. Lihat juga kemauannya untuk bekerja keras, lihat semangatnya. Banyak kan suami yang awalnya bekerja, lalu ketika terpaksa harus diberhentikan malah bingung mau bagaimana hingga akhirnya istri lah yang harus turun tangan mencari nafkah, sementara suami ongkang-ongkang kaki.

9. Mau berusaha menjaga dan memelihara harta, anak, keluarga, dan suami.

Tidak harus pintar memasak, karena sekarang resep masak bertebaran di google. Tinggal mau atau tidaknya kita untuk mencarinya dan mempelajarinya. Misalnya sang istri mau memasak omelet tapi tidak tahu karena belum pernah memasak, tinggal  ketik saja omelet, ribuan bahkan jutaan resep pun bertebaran di google. Jadi penting sekali bagi bagi laki-laki yang ingin menikah, lihat kemauan si calon untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

10. Orang tua mengizinkan

Ini yang paling penting. Jangan menikah bila orang tua belum mengizinkan. Restu Allah ada pada orang tua. Sudah banyak buktinya rumah tangga yang akhirnya berantakan, diawali dari orang tua yang tak ridho. Jadi bila orang tua belum setuju, lakukan terus pendekatan sambil berdo’a agar hati orang tua dilembutkan dan menyetujui niat kita untuk menikah.

 

Saya kira cukup untuk bekal sebelum menikah. Kayaknya berat ya, padahal setelah dilalui ke sepuluh hal di atas ringan sekali. Tapi jangan sampai menjadikan alasan persiapan untuk sambil mengenal lewat pacaran ya. Pacaran itu haram. Bila sudah siap, ya menikah. Bila belum mampu, puasalah. Jangan sampai menikah karena nafsu, karena rugi sekali bila menikah yang hanya sekali ini kita sia-siakan hanya karena tak mau bersabar dan belajar.

Jadi, kamu sudah siap menikah dan memiliki kesepuluh hal di atas? Nikah aja! 🙂

Semoga bermanfaat. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *