Mudik Bersama Airy Rooms Anti Bikin Kecewa

Mudik bersama airy rooms

Mudik Bersama Airy Rooms Anti Bikin Kecewa

 

Merantaulah,
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang).

Merantaulah,
Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.


(Imam Syafi’i)

 

Penggalan syair tentang merantau dari Imam Syafi’i di atas sebenarnya cukup menjadi pemicu bagi diri saya untuk merantau. Sayangnya saya membaca tulisan ini (entah dari buku mana) ketika kuliah. Yang mana saya sudah menetapkan pilihan untuk kuliah di dalam daerah saja. Mungkin bila saya membaca dan meresapinya ketika SMP atau SMA, saya akan perjuangkan betul agar bisa kuliah di luar daerah.

Baca juga: 

Tapi meskipun begitu, saya tetap berpikir bahwa merantau adalah sesuatu yang menyenangkan. Apalagi ketika SD, saya agak iri dengan teman-teman yang setiap liburan bisa mudik ke tempat keluarganya di luar daerah, sementara keluarga saya kebanyakan hanya berjarak ratusan meter dari rumah. Karena itu keinginan untuk bisa mudik cukup terpendam lama di dalam hati. Pikiran tentang “enak ya, kalau pas liburan, kita bisa main dan jalan-jalan ke tempat keluarga yang jauh di luar daerah” cukup lama terpendam di sanubari.

Hingga suatu hari datanglah masanya PKL (Praktik Kerja Lapangan) dari kampus, saya begitu excited karena ini akan menjadi pengalaman merantau saya yang lumayan lama (sekitar 4 bulan) untuk pertama kalinya, karena kampus menyarankan mahasiswanya untuk bisa PKL di luar daerah. Padahal ketika PKL, saya juga merasakan bagaimana rasanya rindu dengan kampung halaman, bagaimana makanan di tempat baru begitu asing dengan yang ada di kampung, betapa susahnya mencari makanan dengan cita rasa seperti di kampung, dan lainnya. Bahkan saya juga merasakan betapa sedihnya ketika lebaran tak bisa mudik (waktu itu bertepatan dengan lebaran haji).

Tapi meskipun sudah merasakan betapa merantau tidak selalu indah, ketika calon suami (yang sekarang adalah suami) meminta saya untuk jadi istrinya, yang mana itu berarti saya akan jadi perantau (karena suami tinggal di Jawa Timur sementara saya di Bangka), saya juga menyanggupinya. Padahal sebelumnya saya sudah pernah merasakan rasanya jauh dari kampung halaman, bagaimana bila rindu kampung, mahalnya tiket pesawat, dan lainnya. Tapi mungkin sudah takdir, maka akhirnya saya pun menjalaninya.

Akhirnya kini setelah hampir 7 tahun menikah dan tinggal jauh dari kampung halaman, saya pun bisa meresapi quotes yang begitu terkenal di kalangan pemudik.

 

“Merantaulah,agar kau tau bagaimana rasanya rindu dan kemana kau harus pulang.” (Unknown)

 

Apalagi ketika saya ada di masa-masa awal melahirkan anak pertama dulu. Betapa rasanya ingin sekali untuk pulang dan dekat dengan emak. Sepertinya setelah melahirkan anak pertama, saya juga merasakan sensasi baby blues, merasakan sedih yang mendalam, kadang menangis, merasa tak berharga karena sakit dan tak bisa apa-apa, dan merasa begitu bodoh. Setelah mengalami babak ini, saya jadi sedikit paham tentang quotes ini. Belum lagi ketika hamil anak kedua, ketika sudah hampir mendekati HPL (Hari Perkiraan Lahir), ada kabar duka datang di pagi hari, kakak kedua saya meninggal dunia. Rasanya sedih sekali dan ingin pulang seketika, tapi tak bisa (karena khawatir bila hamil tua naik pesawat).

Selain itu, setelah merantau beberapa tahun, saya juga jadi paham tentang meme yang akan mulai ramai ketika waktu mudik lebaran tiba.

 

“Merantaulah kelak kau akan tahu betapa mahalnya ongkos pulang” (Unknown)

 

Untuk bisa sampai ke kampung halaman di Pangkalpinang, kami harus menempuh sekitar 5 jam perjalanan darat ke bandara Juanda Surabaya, 1 jam-an terbang dari Surabaya ke Jakarta, lalu 1 jam-an terbang dari Jakarta ke Pangkalpinang, dan perjalanan sekitar 10 menit, baru bisa sampai ke rumah orang tua. Itu belum ditotal dengan lamanya macet, delay, dan waktu tunggu bus atau pesawat.

Meskipun begitu, rute tercepat untuk bisa sampai di kampung halaman sampai saat ini masih dengan pesawat. Kalau dengan kapal mungkin bisa sekitar 3 hari 3 malam di laut. Kalau jalur darat bisa sekitar 5 hingga 6 hari perjalanan, yang mana akan menyita waktu dan melelahkan sekali sementara waktu cuti suami terbatas. Maka sampai saat ini, pilihan moda transpostasi ketika mudik adalah pesawat, bukan karena gaya atau banyak uang, tapi memang itu pilihan yang paling memungkinkan untuk dipilih, apalagi sekarang sudah ada dua balita.

Karena tahu tiket pesawat mahal ini pula lah, saya dan suami sering hunting tiket murah atau diskon, untuk meminimalisir budget mudik. Apalagi sekarang tiket pesawat naik sampai hampir 100%. Sekali mudik sekeluarga seharga dengan motor baru.

Salah satu aplikasi penjual tiket pesawat yang sering jadi pilihan adalah Airy. Mengapa? Karena diantara banyaknya aplikasi penjual tiket pesawat, Airy adalah salah satu yang harga tiket awalnya paling murah dibandingkan yang lain. Selain itu, Airy termasuk yang tidak pelit dengan diskon. Bila di tempat lain di tulis di bagian depan diskon Rp 500.000, jangan bayangkan bahwa tiket kita akan langsung dipotong Rp 500.000, biasanya ada syarat tambahan beli dengan jumlah berapa, dan lainnya. Kadang yang dikeluarkan harus dengan jumlah yang besar agar bisa dapat potongan seperti iklan. Tapi di Airy seringnya promonya tidak pelit. Seperti promo tiket pesawat terbarunya, diskon Rp 100.000 untuk pengguna baru Airy. Dengan belanja minimum hanya Rp 1.500.000. Lumayan kan?

Beli tiket pesawat di airy rooms

Perbandingan tiket beberapa aplikasi penjualan tiket pesawat. Nomor 1 adalah airy rooms

Pengalaman terbaru kami mudik dengan Airy adalah idul fitri tahun kemarin, sekitar bulan Juni 2018. Jadi sudah kebiasaan kami, bila hendak mudik, sekitar 3 hingga 4 bulan sebelumnya, kami akan mulai hunting tiket murah atau promo. Dan waktu itu Airy lah yang memberikan penawaran terbaik. Diskon Rp 125.000 dari total belanja minimal Rp 1.000.000, kala itu harga tiket Surabaya-Pangkalpinang dengan maskapai  Sriwijaya Rp.1.272.100 untuk saya dan Rp 127.700 untuk anak kedua saya yang baru berusia 1 tahun. Lumayan kan? Kalau dihitung-hitung berarti anak saya hanya membayar Rp 2.700 untuk naik pesawat kala itu. Jadi memang airy rooms ini cocok untuk yang mau mudik tapi harga miring, haha. Tiket murah, tapi tidak murahan.

Mudik bersama airy rooms

Detail harga tiket pesawat waktu mudik Juni 2018.

Tahun ini Insya Allah kami juga berencana untuk mudik, dan sepertinya pilihan kami akan jatuh pada Airy lagi. Meski harus merogoh kocek yang jauh lebih dalam di mudik tahun ini, kami selalu percaya selalu ada jalan untuk mereka yang mau berusaha. Karena saya selalu percaya selalu ada hikmah di balik kebaikan yang kita lakukan. Jadi jangan takut tekor, hanya karena mudik, karena rezeki Allah yang mengatur. Selamat mempersiapkan mudik terbaik!

 

Pulanglah, sejauh apapun kita telah

pergi. Pulanglah selagi masih ada mereka yang kita kasihi. Jangan pedulikan angka, karena itu tak akan sebanding dibandingkan air mata do’a yang senantiasa mereka rapalkan untuk kebahagiaan kita. Pulanglah untuk berterima kasih lagi dan lagi kepada mereka yang terkasih atas cinta kasih yang tak terperi. Pulanglah atas nama cinta maka akan kau dapatkan jutaan rupa bahagia. Pulanglah.

(Julia Amrih)