Muslimah, Perhatikan 6 Etika Ini dalam Media Sosial

Muslimah di media sosial

Muslimah, Perhatikan 6 Etika Ini dalam Media Sosial.

 

 

Di zaman sekarang ini sepertinya hampir semua orang tak bisa dipisahkan dari media sosial. Tak terkecuali para muslimah. Tapi sayangnya, sebagian orang berpikiran bahwa media sosial tidaklah sama dengan dunia nyata. Sehingga kadang-kadang apa yang dihukumi dan diyakini di dunia nyata tidak diterapkan juga di dunia maya. Seperti misalnya menutup aurat. Banyak muslimah yang dalam kesehariannya menutup aurat, tapi begitu di media sosial dia lepaskan kerudungnya. Sebagian melakukannya karena belum paham, tapi sebagian melakukannya karena sengaja.

Sebenarnya, dunia maya dan dunia nyata tak ada bedanya dalam penerapan hukum syariat. Bila di dunia nyata kita tidak boleh ikhtilat (bercampur baur antara laki-laki dan perempuan), seharusnya di dunia maya pun kita tak boleh melakukannya. Berikut ini beberapa hal yang coba saya rangkum untuk muslimah yang ingin bermedia sosial.

  1. Tetap menutup aurat meski di media sosial

Meskipun kelihatannya media sosial seperti tak nyata, sebenarnya hukum penerapan syariat di media sosial tetaplah sama. Bahkan kadang pengaruh media sosial lebih cepat dan luas dibanding dunia nyata. Bisa saja ketika kita posting foto kita yang tidak menutup aurat, orang-orang yang tak bertanggung jawab menyebarkannya ke banyak orang sehingga kemudian foto kita jadi konsumsi ribuan bahkan jutaan orang di dunia maya. Selain itu kita tidak bisa memastikan bahwa yang melihat foto kita adalah hanya mahrom kita saja, mengingat jaringan media sosial yang sangat luas. Karena itu Ukhti, tetap tutuplah auratmu meski di dunia maya. Jangan khawatir jodoh tak akan mendatangimu, karena setiap yang baik telah Allah siapkan jodohnya dengan yang baik juga.

  1. Jangan ikhtilat

Di dunia nyata, seorang muslim atau muslimah dilarang untuk ikhtilat atau bercampur baur antara laki-laki dan perempuan. Bila di dunia nyata saja dilarang, seharusnya hal yang sama juga berlaku di media sosial. Apalagi bila ikhtilat yang dilakukan hanya untuk haha hihi ngobrol tak jelas dengan kawan lama.

Terkait ikhtilat ini saya meyakini diri untuk membatasi diri dari memfollow laki-laki yang bukan mahrom. Karena dengan begitu otomatis feed mereka akan muncul di timeline saya, sehingga saya merasa lebih tenang dengan tidak memfollow mereka. Untuk yang telah telanjur menjadi teman atau follow, biasanya saya mute info dari mereka atau bila facebook saya unfollow namun tetap friend. Karena bila tidak begitu akan memicu terjadinya obrolan yang kurang penting, apalagi bila statusnya muncul di story.

  1. Jaga jempolmu

Kadang saya sering heran dengan orang-orang yang berkoar-koar bahwa mereka meminta orang lain menutup aurat, tapi mereka masih dengan mudah memberi jempol (alias like) pada gambar-gambar yang mengumbar aurat. Selain itu ada juga yang biasanya aktif sekali melarang pacaran, namun dengan mudah menekan tombol like pada mereka yang jelas belum menikah. Selain itu sering saya perhatikan para suami yang dengan mudah memberi like pada perempuan-perempuan yang bukan mahrom mereka namun berpose cantik atau lainnya.

Karena menurut saya, arti tombol like atau jempol ini adalah mendukung si punya status. Dengan memberikan like kita, berarti secara tidak langsung kita seakan setuju dengan yang mereka lakukan. Atau membuat mereka nyaman dengan berpikir, “wah yang ngelike aja banyak kok, berarti aku nggak salah dong!”.

  1. Jangan tabarruj

Saya bukan tipe yang tidak mau sama sekali memposting foto wajah di media sosial. Sesekali saya masih melakukannya. Namun yang saya yakini adalah jangan memposting foto dengan unsur tabarruj. Tabarruj sendiri adalah menampilkan kecantikan seorang perempuan atau menampilkan segala hal yang berkaitan dengan keindahan perempuan yang mendundang syahwat lelaki bukan mahrom. Jika memang dirasa perlu menampilkan foto wajah sebaiknya dengan tidak riasan, tidak mempercantik diri, dan dengan menutup aurat. Dan yang paling penting jangan berlebih-lebihan.

  1. No hoax

Jangan jadi corong penyebar hoax. Bila mendapatkan suatu berita yang kita sendiri belum tahu kebenarannya, jangan asal menyebarkannya. Selain karena itu bertentangan dengan UU ITE, hal itu juga bertentangan dengan syariat. Hoax adalah berita bohong atau berita yang tak jelas kebenarannya. Menyebarkannya berarti sama saja dengan menyebarkan kebohongan.

  1. Awas, followermu adalah harimaumu!

Sejak saya aktif di media sosial, saya pun jadi orang yang mengharapkan follower pada media sosial saya. Tapi kemudian saya sampai pada satu video karya Hawariyyun tentang follower yang dapat menjadi hisab di yaumul akhir. Maka jangan terlalu bangga dengan follower jutaan, karena bisa jadi itu malah mempersulit kita di hari akhir nanti. Bila memang follower sudah banyak, usahakan tetap memposting sesuatu yang bermanfaat. Bayangkan bila yang kita posting adalah hal yang salah atau tidak bermanfaat kemudian para follower malah meniru, berapa banyak dosa berjamaah yang telah kita kumpulkan.

 

Itulah sedikit tentang etika bermedia sosial bagi seorang muslimah. Dengan memposting ini bukan berarti saya telah sempurna dan paling benar dalam bermedia sosial. Saya pun masih belajar dan terus belajar. Semua adalah pilihan. Jangan sampai dunia yang singkat ini malah mempersulit kita di akhirat yang begitu lamanya nanti. Semoga bermanfaat. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *