Nasihat Pernikahan dari Buku Sebuah Catatan Hati, Jangan Bercerai Bunda Karya Asma Nadia dan Kawan-kawan

Tidak ada pasangan menikah yang menginginkan perceraian. Semua mengharapkan kebahagiaan, senyuman, dan cinta selalu ada dalam sebuah rumah tangga. Namun, bila ternyata badai besar datang menyapa dan mulai melukai semua yang ada dalam bahtera, bagaimana lagi harus bertahan?

Menikah adalah sunah Rasulullah dan bercerai adalah suatu yang sangat dibenci oleh Allah. Sebagai seorang muslim yang baik, sudah seharusnya kita mempertahankan pernikahan kita, karena bagaimanapun syetan sangat suka mengganggu sebuah pernikahan dan begitu bahagia melihat perceraian. Tapi bila semua jalan telah ditempuh, do’a telah dipanjatkan pagi, siang, sore, petang dan tengah malam, tak bisa membuat kedua suami istri kembali tersenyum seperti awal pernikahan, bahkan sampai berdarah-darah, maka bisa jadi perceraian adalah jalannya. Tapi sayangnya, selalu ada luka di balik sebuah perpisahan. Dan korban utama dari semua drama sedih ini adalah anak-anak. Selanjutnya baru istri, dan jarang sekali suami.

Dalam buku Sebuah Catatan Hati karya Asma Nadia, dkk, dituliskan 18 kisah nyata bagaimana perceraian sungguh meninggalkan luka. Dari ke delapan belas cerita tersebut, saya coba ambil kesimpulan berupa beberapa nasihat pernikahan agar rumah tangga senantiasa sakinah, mawaddah, dan marohmah.

1. Menikahlah karena Allah

Hampir semua cerita perceraian di buku Jangan Bercerai Bunda terjadi karena pernikahan jauh sekali dari Allah. Bahkan diawali suatu yang dibenci Allah: hamil sebelum menikah.

Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu , ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.

(Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu Mâjah (no. 4105); Imam Ibnu Hibbân (no. 72–Mawâriduzh Zham’ân); al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.)

Sumber: https://almanhaj.or.id/4260-jadikanlah-akhirat-sebagai-niatmu.html

Ada yang menikah karena si calon orang barat, ada yang menikah karena begitu mencintai si calon, dan lainnya. Mari murnikan niat. Jangan menikah karena takut dibilang tak laku, karena kitalah yang akan menjalani pernikahan, bukan mereka yang memberi label. Kita yang akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan kita.

Jangan menikah karena cinta mati pada si dia, atau karena parasnya. Karena sungguh semua akan sirna. Menikahlah karena Allah dan terus pupuk cinta kita padaNya, sehingga kita pun menemukan seseorang yang mencintaiNya.

Apakah hanya dengan niat menikah karena Allah prahara di rumah tangga akan menjadi nihil? Tentu tidak. Tapi setidaknya bila sudah meniatkan menikah untuk ibadah karena Allah, kita akan lebih ikhlas dalam menjalani semua biduk rumah tangga. Dan senantiasa menyerahkan semuanya kepada Allah. Lihatlah Fatimah Ra, yang menjalani pernikahannya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran bersama Ali Ibn Abi Thalib Ra.

2. Menikahlah dengan restu kedua orang tua

Dari ke delapan belas kisah perceraian,  lima diantaranya menikah tanpa restu orang tua, baik itu orang tua istri atau orang tua suami. Dari beberapa cerita, bila orang tua istri yang tak setuju, yang terjadi biasanya adalah sang istri seperti tak punya tempat mengadu, karena malu, dulu telah menikah tanpa izin.

Sedangkan bila yang tak merestui adalah orang tua suami, yang terjadi adalah suami sering menyalahkan istri atas hal-hal buruk yang terjadi di rumah tangga, atau lebih membela keluarganya daripada istri, bila ada perselisihan yang terjadi, tanpa melihat masalah dengan adil.

Meski memang tak semuanya begitu, kadang ada yang baik-baik saja menikah tanpa restu kedua orang tua. Tapi menurut saya, restu kedua orang tua sangat penting. Ridho Allah ada pada ridho orang tua.

3. Menikahlah dengan yang seiman

Ada satu cerita tentang sepasang suami istri yang awalnya beda agama. Lalu si calon istri pun pindah agama dan meninggalkan pekerjaannya yang waktu itu dia telah menjabat sebagai supervisor, setelah sebulan bekerja di salah satu supermarket. Keluarga dan semuanya ia tinggalkan demi lelaki yang katanya mencintainya tersebut. Ternyata, keluarga calon suami juga tak merestui. Sayangnya mereka tetap melanjutkan hubungan mereka, bahkan hingga hamil di luar nikah. Akhirnya mereka pun menikah tanpa restu orang tua dengan status istri yang telah pindah agama.

Apa yang terjadi kemudian? Suami tersebut adalah penggila wanita. Ketika berhubungan dengan sang istri sebelum menikah, sang suami juga menjalin hubungan dengan wanita lain! Bahkan ketika menikah ia malah menjalin hubungan dengan wanita-wanita lainnya. Bahkan ketika sang istri sakit, sang suami tega membawa wanita lain ke rumahnya. Cerita cinta indah yang dijanjikan di awal kenal dulu, kini berubah jadi seperti neraka!

4. Jangan mudah berhutang apalagi dengan riba

Beberapa cerita di buku ini mengungkapkan bahwa awal mula suami meninggalkan istri adalah karena hutang! Takut dikejar-kejar debt collector, lalu minggat dari rumah. Maka kemudian istri yang harus menghadapi para penagih hutang, sementara suami entah kemana.

Inilah bahayanya hutang. Semua ikatan bisa rusak. Jangankan pertemanan, pernikahan bahkan kekeluargaan pun rusak dibuatnya. Apalagi hutang dengan riba di dalamnya, yang Allah dan Rasul pun mengajak perang dengan yang mengambil riba di dalamnya.

Baca juga: Awas! Jangan Sepelekan Hutang!

5. Jangan remehkan ikhtilat atau campur baur antara laki-laki dan perempuan

Cerita lainnya, perceraian terjadi karena suami selingkuh dengan rekan kerjanya. Seringnya bertemu, mengerjakan berbagai hal bersama termasuk urusan keluar kota karena pekerjaan, membuat rasa cinta pun tumbuh.

Memang tak semua suami seperti ini. Hanya mereka yang lemah imannya yang gampang tergoda. Lupa akan semua perjuangan dan kebersamaan bersama keluarga karena tergiur dengan cantiknya paras sang rekan kerja. Na’udzubillah.

Namun ternyata bukan hanya laki-laki yang bisa selingkuh. Dalam sebuah cerita, seorang istri yang sering ditinggal kerja sang suami, malah selingkuh dengan cinta pertama ketika SMA lewat media sosial. Awalnya hanya bertanya kabar, lalu berlanjut saling telpon, bertemu, dan melakukan zina. Na’udzubillah.

Itulah pentingnya menjaga batasan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya. Kelihatannya sepele dan berlebihan, tapi lihatlah, Allah maha tahu. Betapa banyak perselingkuhan yang terjadi berawal dari reuni yang bercampur baur antara laki-laki dan perempuan.

Selain itu, tempatkan masa lalu pada tempatnya. Seorang motivator pernah berkata, jadikan masa lalu seperti kaca spion saat mengendarai sepeda motor. Ketika mau berbelok, kita lihat kaca spion. Jangan terlalu lama atau fokus pada kaca spion, karena akan menyebabkan terjadi kecelakaan. Lihatlah spion hanya sesekali, sebentar, lalu berbeloklah. Begitu pula masa lalu. Kita hidup untuk saat ini. Jangan terlalu bergantung pada masa lalu.

6. Kenali calon suamimu

Jangan asal memilih. Karena dia tampan, lalu terpikat. Di beberapa cerita ada yang memilih pasangannya hanya karena calonnya bule. Akhirnya yang terjadi adalah tak seperti yang diharapkan. Budaya yang berbeda, membuat suami tak seperti yang diharapkan. Lambat laun sifat aslinya keluar. Kehidupan yang terlalu bebas, minum alkohol, dan lainnya.

Itulah beberapa nasihat yang bisa saya simpulkan dari buku Jangan Bercerai Bunda karya Asma Nadia dan kawan-kawan. Buku ini baik dibaca bagi yang belum, telah, dan akan menikah. Bukan untuk menakuti bahwa pada akhirnya pernikahan hanya akan berakhir dengan perceraian, tapi jadi semacam do and don’t dalam pernikahan. Memang bukan panduan baku, tapi setidaknya bisa jadi sedikit pengingat bagi yang mau berumah tangga.

Tak perlu waktu lama bagi saya untuk menyelesaikan buku ini. Buku yang ceritanya bersumber dari kisah-kisah nyata ini membuat saya berdo’a semoga tak ada lagi cerita perceraian seperti yang di buku. Bukunya sangat mengura s emosi, apalagi beberapa kisahnya, pernah saya temui langsung di sekitar saya. Semoga Allah selalu menjaga rumah tangga kita agar senantiasa sakinah, mawaddah dan warohmah. Aamiin. Semoga bermanfaat. 🙂

2 comments

  • Bener banget poin2 tsb. Banyak perceraian yang terjadi karena terlalu percaya diri dg pilihannya atau menyepelekan hal-hal yg sebenarnya bisa dihindari.

  • semua yang ditulis dalam buku ini sepertinya benar semua ya, dan terjadi di lingkungan sekitar kita. Mudah2an kita sekeluarga dijauhkan dari bencana perceraian ya mbak. Amiiin….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *