Perhatikan 7 Hal Berikut Bila Ingin Membeli Tanah

Sejak dari beberapa tahun yang lalu, kami sudah mencicil sebidang tanah di daerah Paiton. Kami membelinya dari seorang yang sebut saja namanya Bapak A. Bapak A setuju tanahnya dicicil selama 3 tahun setelah sebelumnya kami membayar sejumlah uang muka. Pada mulanya semua berjalan lancar. Kami bersama dengan Bapak A mendatangi notaris untuk menandatangani perjanjian jual beli. Tahun pertama semua berjalan mulus. Cicilan kami bayar melalui transfer bank, karena jarak rumah yang jauh antara kami dan Bapak A. Selain itu suami kerja dengan sistem shift, yang tak tentu liburnya, sehingga akhirnya susah sekali menemukan jadwal ketemu. Karenanya, agar lebih praktis, kami memilih bayar dengan transfer bank saja. Begitu selesai ditransfer, suami akan sms atau telpon Bapak A. Kami usahakan untuk tidak pernah terlambat membayar dari tanggal yang telah ditentukan. Bapak A juga pernah dua kali ke rumah, mengantarkan kuitansi pembayaran. Kadang sesekali Beliau menanyakan apakah kami mau melunasi cicilan atau tidak. Di pertengahan tahun kedua cicilan, mulai ada yang janggal. Bapak A mulai jarang membalas pesan dan sulit dihubungi. Namun suami tetap meneruskan cicilan, karena itu merupakan kewajiban kami. Hingga akhirnya ketika cicilan kurang beberapa bulan lagi, kami mau langsung melunasi cicilan, agar tidak pusing lagi memikirkan hutang. Suami langsung menghubungi via chat whatsapp. Ternyata dibalas oleh anaknya dan mengabarkan bahwa Bapak A sudah meninggal kurang lebih 6 bulanan. Lalu suami pun menghubungi notaris dan minta nomor anak almarhum. Akhirnya suami mengajak anak  Bapak A ketemuan di notaris untuk mengurus kelunasan tanah. Ternyata hanya anaknya yang datang dan sepertinya belum begitu dewasa kelihatan dari gugup dan bawaannya. Kami kira ia akan datang bersama ibunya, ternyata tidak. Semua berjalan normal dan lancar, kami membawa pulang kuitansi lunas, sebelumnya kami sudah menunjukkan bukti pembayaran lengkap selama mencicil. Notaris bilang dokumennya akan selesai sekitar sebulan lagi, kami akan dihubungi oleh pihak notaris. Setelah menunggu sebulan lamanya, belum ada panggilan dari notaris. Dua bulan, belum juga. Akhirnya kami pun menelpon notaris dan bertanya kenapa begitu lama? Ternyata permasalahannya ada di Istri A. Beliau belum membayar lunas biaya untuk pembuatan dokumen tanah di notaris tersebut. Kami pun menghubungi anak dan istri Bapak A. Agak sulit menghubungi mereka. Bila mengirimkan pesan via WA, hanya diread biru saja, tanpa dibalas. Sekali pernah diangkat waktu suami menelpon, mereka bilang, sabar dulu ya Pak, uangnya masih dipakai untuk kebutuhan lain yang urgent. Ternyata bukan hanya kami yang sertifikatnya bermasalah, ada beberapa pembeli lain yang juga seperti kami. Kini, sudah sekitar 7 bulan berlalu dari waktu kami melunasi cicilan tanah tersebut. Sampai saat ini kami belum mendapatkan hak kami, berupa sertifikat hak milik dari notaris. Tapi beberapa hari yang lalu, pihak notaris bilang bahwa istri bapak A akan mengurus pembayaran di notaris dan menyelesaikan masalah ini. Semoga saja segera beres masalah sertifikat tanah ini, Aamiin.

Nah, dari pengalaman kami membeli tanah tersebut, setidaknya ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan ketika membeli tanah, agar kejadian yang sama tidak terulang lagi.

1. Tujuan membeli

Mengetahu tujuan membeli tanah ini akan memudahkan kita menemukan lokasi tanah yang kita mau. Bila membeli tanah dalam rangka mau dibangun rumah, belilah di daerah yang kita suka, lingkungan yang kita suka, dan lainnya.

Bila membeli tanah karena untuk investasi, perhatikan lokasinya, bila mau dijadikan toko, carilah yang lokasinya dekat pemukiman, mudah diakses, dan lainnya.

Bila membeli tanah untuk berkebun, belilah di tanah yang subur, jauh dari rumah warga, bila ingin menanam pohon-pohon besar, dan yang terpenting merupakan kawasan aman. Jangan sampai menyesal setelah membeli hanya karena salah menentukan lokasi.

2. Jangan beli tanah sengketa

Di kantor kelurahan waktu di Pangkalpinang dulu saya pernah melihat orang yang mengurus dokumen tanah bersengketa. Ribet sekali sepertinya urusannya, dan juga mereka yang  mengurus itu penuh emosi. Jadi saran saya, jangan sampai mau membeli tanah sengketa semurah apapun harganya. Karena akan ruwet sekali masalahnya.

3. Perhatikan dokumen lengkap tanah

Waktu membeli tanah, perhatikan sertifikat yang diberikan nanti. Tanah yang kami beli bersertifikat SHM atas nama suami. Jadi harga sudah include pengurusan SHM. Pembeli tinggal terima beres. Sayang ada sedikit masalah di belakang.

4. Ketahui track record penjual

Kalau sudah terkenal si penjual suka menipu, jangan pernah mau beli tanah di orang itu. Semanis apapun perkataannya, karena pada akhirnya kita juga yang akan dirugikan.

5. Kenali penjual beserta ahli waris

Agar tidak seperti kami, penting sekali untuk tahu alamat penjual, siapa istrinya, dab ahli warisnya. Jangan sampai seperti kami, begitu Bapak A meninggal, kami kelimbungan mencari informasi tentang Bapak A. Untungnya pihak notaris masih menyimpan data keluarganya. Kalau saja dulu kami lebih kenal dengan istrinya, mungkin akan lebih mudah.

6. Harga yang sesuai

Jangan lupa survei harga sebelum membeli tanah. Pastikan harga tanah yang kita beli tidak kemahalan. Atau kalau jago menawar, tawar saja, lumayan kalau bisa dapat potongan, hehe.

7. Jangan beli dengan harta riba

Bagi muslim, ini penting sekali. Tentu kita mengharapkan keberkahan melalui tanah yang kita beli. Entah itu rumah yang berkah, toko yang berkah, atau lainnya. Dan keberkahan itu hanya bisa didapat bila kita membelinya dengan harta yang tanpa riba. Apalagi di dalam Alqur’an jelas tertulis, mereka yang suka makan uang riba akan berperang melawan Allah dan Rasulnya. Tentu kita tidak mau jadi muslim yang berperang dengan Allah dan Rasulnya kan?

 

Begitulah sedikit sharing saya ketika membeli tanah. Kamu punya cerita yang sama? Sharing di kolom komentar yuk! Semoga bermanfaat. 🙂

 

#ODOP

#bloggermuslimahindonesia

2 comments

  • Duh semoga bisa segera selesai ya masalahnya.
    Aku kemarin baru jual tanah, waktu beli ternyata aku agak teledor. Ada akte pembelian yang kurang diberikan pada aku. Sempat jadi muter-muter kesana kemari demi menyelesaikannya. Ternyata surat bebas sengketa aja enggak cukup. Riwayat tanah harus jelas, dan tiap pindah tangan akte pembeliannya harus kita dapatkan juga.
    Benar-benar harus teliti ya, Mbak.

  • Terimakasih tips nya kak, penting sekali untuk abi aisyah yang suka membeli tanah untuk investasi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *