Perhatikan Beberapa Hal Berikut Agar Bukber Tak Merusak Pahala Puasa

 photo PhotoGrid_1557160936507_zpsxvpjzma8.jpg

Ramadhan tiba,

Ramadhan tiba,

Marhaban yaa Ramadhan

Marhaban yaa Ramadhan,

 

Ada yang ingat lagu itu nggak sih? Lagu Opick yang sempat populer beberapa tahun yang lalu itu kayaknya masih cocok lah ya, untuk menyambut ramadhan tahun ini. Alhamdulillah kita masih bisa dipertemukan kembali dengan ramadhan tahun ini. Marhaban yaa ramadhan. Semoga kita bisa melaluinya dengan sebaik-baiknya, Aamiin.

Apalagi bulan ramadhan ini kan bulan ampunan, bulan yang di dalamnya kebaikan bisa dibalas berlipat-lipat pahala. Jadi sayang sekali rasanya kalau kita sia-siakan.

Nah, selain puasa, tadarus qur’an, zakat, salah satu yang paling tren terutama di kalangan anak muda adalah buka puasa bersama. Kadang bahkan hampir tiap hari ada saja undangan buka puasanya. Hari ini buka puasa bersama alumni Sd, besok alumni SMP, besok alumni SMA, kuliah, teman kerja, tetangga, sesama teman geng, dan lainnya.

Sebenarnya nggak masalah sih ya, karena kita memang diperintahkan memperbanyak silaturahim. Tapi kadang ada tuh yang buka puasanya malah jadi merusak puasanya. Merusak bagaimana? Setelah seharian berpuasa, menahan haus dan lapar, gara-gara ikutan buka puasa bersama yang tidak sesuai jalur, rusaklah pahala puasanya hari itu. Itu kalau cuma sehari, kalau sampai sebulan? Wah sayang banget ya.

Sebenarnya apa saja yang perlu kita perhatikan dalam berbuka bersama agar tak merusak puasa? Ini sedikit yang saya rekam selama memperhatikan pola buka bersama umumnya.

 

1.Tidak sholat

Kita memang tidak makan seharian. Bila adzan magrib tiba, kita pun diperintahkan untuk segera membatalkan puasa alias berbuka. Tapi setelah itu bukan berarti bablas tanpa memperhatikan waktu. Setelah makan secukupnya jangan lupa untuk menunaikan sholat magrib, isya dan tarawih. Karena puasa dan sholat adalah dua kewajiban yang sama-sama harus dikerjakan. Untuk tarawih, meski hukumnya sunah, sayang sekali kan, ibadah yang hanya ada di bulan ramadhan ini kita tinggalkan hanya gara-gara keasyikan kongkow dengan teman sejawat. Pokoknya rugi sekali kalau sampai kita puasa tapi gara-gara sibuk dengan acara buka bersama, malah akhirnya meninggalkan sholat. Jika ada acara bukber yang tidak mengindahkan waktu sholat, jangan ragu untuk menegur atau mengingatkan panitia dan pesertanya. Biarlah dibilang sok suci,

daripada sok mengabaikan perintah Ilahi, hehe.

  1. Ghibah ngalor ngidul

Sudah bisa dipastikan, dalam acara bukber, terutama bukber sesama alumni, di dalamnya pasti akan ada acara ngobrol. Obrolan tentang kisah masa lalu, dan lainnya. Nah, biasanya tak jarang obrolan-obrolan mengenang masa lalu itu malah membawa kita pada ajang ghibah yang membahayakan. Mengapa membahayakan? Karena dosa mereka yang menggibah seperti memakan bangkai saudara sendiri. Hii, sudah kayak Sumanto. Semoga kita dijauhkan dari yang seperti ini, Aamiin.

  1. Ikhtilat atau campur baur

Satu lagi yang paling ketara terlihat saat bukber adalah adanya ikhtilat atau campur baur. Terjadi interaksi berlebihan antara laki-laki dan perempuan. Padahal dalam Islam ikhtilat tidak diperbolehkan.

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syeikh rahimahullah berkata mengomentari hadits riwayat Abu Dawud di dalam Sunan, dan Bukhari di dalam Al-Kuna, dengan sanad keduanya dari Hamzah bin Abi Usaid Al-Anshari, dari bapaknya Radhiyallahu ‘anhu :
“Bahwa dia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di saat beliau keluar dari masjid, sedangkan orang-orang laki-laki ikhthilath (bercampur-baur) dengan para wanita di jalan, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para wanita: “Minggirlah kamu, karena sesungguhnya kamu tidak berhak berjalan di tengah jalan, kamu wajib berjalan di pinggir jalan.” Maka para wanita merapat di tembok/dinding sampai bajunya terkait di tembok/dinding karena rapatnya”.
Pergaulan laki-laki dan perempuan yang diperbolehkan yaitu dalam hal pendidikan, muamalah, dan kesehatan. Sementara bukber tidak termasuk dalam ketiganya. Kalau memang harus ada perempuan dan laki-laki di acaranya, harus ada hijab pemisah, sehingga laki-laki tidak akan bercampur dengan perempuan. Ribet ya kelihatannya? Tapi kita mau memilih ribet yang mana, ribet di dunia atau nanti ribet menjawab pertanyaan di akhirat gara-gara kita tidak mau menaati aturan Allah? Na’udzubillah.

  1. Tidak menutup aurat dan menjaga pandangan

Semua pasti sepakat bahwa hukum menutup aurat adalah wajib. Ini khusus untuk wanita ya, karena biasanya yang sering berpakaian seksi adalah wanita. Dalam Islam diperintah kan untuk laki-laki dan perempuan untuk menjaga pandangan serta menutup aurat. Untuk laki-laki dari pusat sampai ke lutut, untuk perempuan seluruh tubuh kecuali muka dan tangan. Tidak boleh dihilangkan salah satu. Jadi saya termasuk tidak setuju dengan pemikiran yang mengharuskan lelaki menjaga pikiran dan nafsunya, sementara si perempuan membuka auratnya seluas-luasnya. Karena yang benar adalah keduanya saling menjaga, dengan tetap memperhatikan aturan pergaulan yang benar menurut Islam.

Sudah sesuai fitrahnya, laki-laki nafsunya lebih kuat dari wanita, makanya ia diminta menjaga pandangan. Sementara wanita juga sukanya dipuji, memamerkan kecantikan dan lainnya. Karenanya wanita diperintahkan untuk menutup aurat. Tak jarang ketika bukber, kita melupakan hal penting ini, menutup aurat dan menjaga pandangan.

  1. Tidak menjaga kehalalan makanan

Kadang gara-gara tren dan dianggap kekinian, kita sering lupa akan kehati-hatian dalam menjaga makanan. Padahal pernah diceritakan oleh Rasulullah seseorang yang terus berdo’a sementara makanannya haram.

Disebutkan dalam hadits  bahwa Rasulullah bersabda, ”Seorang lelaki melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut, mukanya berdebu, menengadahkan kedua tangannya ke langit dan mengatakan,’Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!’ Padahal makanannya haram dan mulutnya disuapkan dengan yang haram, maka bagaimana kah akan diterima doa itu?” (Riwayat Muslim).

Pernah lihat meme orang puasa tapi berbuka dengan miras? Kira-kira begitulah. Apalagi sebenarnya kita tidak hanya diperintahkan makan makanan yang halal saja, melainkan halal dan thayyib.

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi.” (QS.al-Baqarah : 168).

Sayang sekali kan kalau kita sudah puasa menahan lapar seharian tapi malah rusak karena kita makan makanan yang haram.

Itulah beberapa hal yang menurut pengamatan saya dapat merusak pahala puasa. Apakah kita nggak boleh bukber? Boleh saja, asal sesuai aturan. Selain itu, agar lebih bermanfaat bisa kita tambah kegiatan bukber dengan kegiatan manfaat lainnya, seperti berbuka bersama anak yatim, bersama dhuafa, atau sambil menuntut ilmu, terutama ilmu agama. Seru kan? Sambil mendulang pahala sambil bukber. Semoga bermanfaat.

 

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *