Pilih Melahirkan di Klinik Bersalin Atau Rumah Sakit?

Pilih melahirkan di klinik bersalin atau rumah sakit

Pilih Melahirkan di Klinik Bersalin Atau Rumah Sakit?

Assalamuโ€™alaikum, apa kabar pembaca sepradik semua? (Semoga ada yang baca ya, hehe). Kali ini saya mau berbagi lagi mengenai pengalaman ketika melahirkan kemarin. Nah, kali ini saya mau sharing perbedaan yang saya rasakan ketika melahirkan di klinik bersalin dengan bantuan bidan, atau di rumah sakit dengan bantuan dokter.

Bila pada persalinan pertama saya dan suami memilih di rumah sakit dengan bantuan dokter, di persalinan kedua kemarin kami memilih melahirkan di klinik bersalin dengan bantuan bidan. Awalnya sih, karena saya merasa agak kecewa dengan hasil yang didapat ketika melahirkan anak pertama dulu. Lalu kemudian rekomendasi dari teman dekat saya yang juga sudah dua kali melahirkan dengan bantuan bidan, ternyata semuanya baik-baik saja. Ditambah lagi dengan rekomendasi dari teman kerja suami yang istrinya juga melahirkan dengan bantuan bidan, semuanya aman saja.

Sebenarnya sah-sah saja bila kita ingin memilih melahirkan dengan bantuan bidan. Dengan catatan, tidak ada komplikasi atau tanda-tanda bahaya selama kehamilan. Karenanya, meskipun memilih melahirkan dengan bantuan bidan, setiap bulan kami tetap rutin melakukan pemeriksaan dan USG di dokter kandungan. Selain itu, meski sudah merencanakan melahirkan di klinik bersalin, kami juga sudah siapkan rencana kedua bila nantinya terjadi sesuatu yang mengharuskan saya dibawa ke rumah sakit serta kami juga sudah menentukan pilihan dokter dan rumah sakitnya, serta biayanya.

Selain itu, ketika memutuskan untuk melahirkan dengan bantuan bidan, sebelumnya kami lakukan survey kecil-kecilan terlebih dahulu terhadap bidan yang hendak dipilih. Salah satu kriteria yang kami tetapkan adalah bidannya harus bidan delima. Saya kurang tahu, sih, syarat untuk menjadi bidan delima itu apa. Tapi setahu saya tidak semua bidan memiliki label bidan delima, tergantung pada lamanya praktik, jumlah pasien, serta jumlah seminar yang diikuti. Begitu jelas bidan yang membantu saya kemarin.

Baiklah, untuk lebih detailnya, saya jabarkan satu persatu ya, apa saja perbedaan yang saya rasakan melahirkan di klinik bersalin dengan bantuan bidan dan di rumah sakit dengan bantuan dokter.

  1. Biaya

 

Pada kelahiran pertama dulu, total uang yang saya keluarkan, untuk persalinan normal dengan tambahan menginap 3 hari di ruang VVIP di rumah sakit adalah sekitar 7 jutaan. Jumlah ini tentunya sangat kecil kalau untuk di kota besar, tapi kalau di desa tentu sangat mahal ya. Alhamdulillahnya, semua biaya dicover perusahaan suami.

Sementara, ketika melahirkan dengan bantuan bidan, total biaya yang kami keluarkan sudah include dengan biaya pemeriksaan pra dan pasca persalinan hanya sekitar 1 jutaan. Bedanya jauh sekali ya.

Jadi bagi pasangan yang memang terbatas dalam pembiayaan, sementara kondisi kehamilan baik-baik saja, melahirkan dengan bantuan bidan mungkin bisa jadi pilihan.

  1. Fasilitas

Ketika melahirkan di rumah sakit, kami mendapatkan fasilitas selimut, ruangan ber AC, tersedia tabung oksigen, alat USG, alat rekam jantung, perlengkapan bayi, gurita ibu, hingga makan 3 kali sehari.

Sementara di klinik bersalin dengan bidan, kami harus membawa sendiri semua perlengkapan, mulai dari kain untuk ibu, baju bayi, sabun, popok, dan selimut. Klinik bersalin hanya menyediakan ruang untuk melahirkan, karena waktu itu kami memang tidak menginap, serta beberapa perlengkapan medis, seperti alat-alat menjahit dan lainnya. Selain itu, kebersihan di rumah sakit lebih terjaga ketimbang di klinik tersebut.

Jadi, bila memang tetap memutuskan memilih melahirkan di klinik bersalin, pilihlah klinik bersalin yang fasilitasnya oke, kebersihannya terjamin, serta bidannya sudah terbukti oke.

  1. Pelayanan

Sebenarnya, ketika melahirkan di rumah sakit dulu, saya pun dibantu bidan sebelum dokternya datang. Hanya saja, mungkin karena kelelahan, terlalu banyak pasien, dan lainnya, bidan yang waktu itu membantu agak kurang sabar. Selain itu, karena waktu itu dokter kandungannya masih ada praktik, jadilah kami harus menunggu sampai tengah malam baru dokternya datang. Memang pembukaan saya belum lengkap, tapi bila didampingi dokter, kan bisa lebih tenang, hehe.

Sementara ketika dengan bidan, waktu itu saya datang ke klinik pagi, sekitar jam 3an. Di sana saya ditunggui terus, hingga melahirkan. Mungkin juga karena pasiennya sedikit dan tidak ada yang melahirkan kala itu. Selain itu, saya rasakan sekali bidan yang melayani kami kala itu sabar sekali menunggu. Terus menguatkan ketika saya mulai mengeluh.

Hal paling puas yang saya rasakan adalah ketika saya bisa berlama-lama melakukan IMD (Inisiasi Menyusi Dini), waktu itu saya bisa IMD sekitar 1 jam lamanya. Sedangkan di rumah sakit, bayi sudah buru-buru mau dibawa ke ruang penghangat. Mungkin Cuma sekitar 15 menit waktu itu. Selain itu, ketika asi saya belum keluar, para perawat di rumah sakit terburu-buru sekali mau memberikan susu formula kepada bayi kami kala itu.

Jadi, pastikan ketika memilih fasilitas kesehatannya, harus yang pro asi, sehingga bisa memaksimalkan ketika kita mau mengusahakan asi untuk si buah hati.

  1. Pemulihan

Karena ketika di rumah sakit saya harus diepisiotomi, sedangkan di klinik hanya dijahit sedikit, tentu pemulihan ketika melahirkan dengan bantuan bidan lebih cepat. Pagi harinya saya melahirkan, sorenya saya pulang dengan dibonceng motoran. Selain itu jalannya pun biasa, tidak sesakit yang dulu.

Sementara ketika di rumah sakit dulu, saya terpaksa harus melakukan jahitan ulang, bolak-balik kontrol, dan rasanya sakit sekali setelah dijahit.

 

Itulah beberapa perbedaan yang saya rasakan ketika melahirkan di rumah sakit dengan bantuan dokter atau di klinik bersalin dengan bantuan bidan. Semua yang saya rasakan di atas, sifatnya subjektif, ya. Bisa jadi di tempat lain, hasilnya pun berbeda. Tapi overall, setidaknya, beberapa hal di atas bisa menjadi pertimbangan teman-teman bila nanti ingin melahirkan. Semoga bermanfaat. J

7 comments

  • kalau dengan dokter memang ga ditunggui mbak. ibaratnya si dokter cuma nerima bayinya pas dah keluar aja. pas sebelumnya selalu para bidan yang menangani. tapi pas saya melahirkan anak kedua di klinik dengan dokter, dokternya agak lama nungguin dan kebetulan ada masalah, jadi saya ditungguin terus dari mulai bukaan hampir sempurma sampai akhirnya harus dioperasi.

  • Zia

    Waalaikumsalam. Alhamdulillah kabar baik. Aku kalau nanti melahirkan lagi pilihannya selalu ke bidan, karena rumah bersalin sekarang ini udah canggih fasilitasnya mirip yang ada di rumah sakit, beberapa rumah bersalin sekarang ada dokter kandungannya juga. ๐Ÿ™‚

  • kalau ngga ada keluhan dan kelainan selama kehamilan enakan lahiran di bidan ya mbak ๐Ÿ™‚

  • Halo mba salam kenal
    Aku pas melahirkan di rumah sakit mba karena harus operasi caesar ๐Ÿ™‚
    Tentu dengan berbagai pertimbangan ๐Ÿ™‚

  • Kalau saya dulu sebaliknya. Awalnya saya ke bidan dulu, tapi ga ditugguin karena ungkin bidan dan asistennya pada lelah terlalu banyak pasien. Karena terlalu lama lebih dari 24 jam tidak ada perkembangan (pembukaan malah berkurang) saya ke rumah sakit. Di sana malah ditungguin walaupun bukan sama dokternya tapi mungkin asistennya. Jadi lebih tenang kalau ditungguin kan, alhamdulillah lancar jaya ibu dan bayi selamat. Di rumah sakit waktu itu saya habis 2 jutaan karena persalinan normal (kalau punya BPJS gratis walaupun caesar).

  • Kalo saya kemarin lahiran di Bidan emang pengen di bidan kemudian pilihan selanjutnya Rumah bersalin baru Rumah Sakit heheu tfs yaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *