Poligami di Mata Emak Rempong

Poligami di Mata Emak Rempong (photo by pixabay)

 

Assalamu’alaikum, apa kabar pembaca sepradik.com semua? Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah ya, Aamiin. Alhamdulillah, pertengahan Agustus sampai awal september kemarin kami sekeluarga bisa mudik ke kampung halaman saya di Bangka Belitung, tepatnya di pangkalpinang. Bersilaturrahim dengan kedua orang tua dan sanak saudara, melepas rindu dengan keluarga. Sepulangnya dari Bangka, kami lanjut ke desa Soso Blitar, menghadiri pernikahan sepupu. Pulangnya kami berempat langsung batuk pilek sekeluarga. Karena sibuk jalan-jalan ini pula lah, program one day one post saya kemarin macet di tengah jalan, haha. (Alasan).

Nah, kali ini setelah ikutan one day one post, saya ikutan lagi postingan rutin mingguan bertajuk kolaburasi blogging dalam satu grup, kali ini bersama Kumpulan Emak Blogger. Grup kami diberi nama Najwa Shihab. Kali ini di grup kami membahas masalah poligami, agak berat sih bagi saya yang gampang baper ini, haha. Sebagai postingan trigger, Mba’ Aya telah menuliskan pemikirannya tentang poligami di sini. Menurut Mba’ Aya yang juga mengutip ceramah Ustadz Khalid Basalamah, poligami itu bukan untuk gaya-gayaan atau bangga-banggaan karena bisa punya dua atau tiga. Bila dengan satu istri saja suami belum bisa beres, berantakan, sering cek cok tak karuan, berarti sejatinya suami belum siap untuk poligami.

Kalau menurut saya sendiri, sebagai seorang muslim, saya meyakini bahwa sejatinya poligami itu boleh dilakukan, tapi tetap harus memperhatikan banyak hal, tidak mentang-mentang boleh, sang suami langsung saja menikahi dua, tiga atau empat istri,  tanpa pernah memperhatikan tugas dan kewajibannya sebagai suami dan kepala keluarga.

 

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” [An-Nisaa’/4: 3].

 

Dalam ayat tersebut jelas dituliskan, bila takut tidak dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja(ups, bold jebol, haha).

 

Kadang mereka yang mau poligami ini sering menekankan, poligami adalah sunah Rasul dan berpahala, tapi anehnya, mereka hanya mau mengikuti tentang menikahi lebih dari satunya saja, tapi tak mau mengikuti perkara lainnya. Padahal istri Rasulullah yang gadis hanya ‘Aisyah saja, selain itu janda. Selain itu sebagian janda yang dinikahi Rasulullah adalah istri para sahabat yang suaminya meninggal saat perang dan semua tindakan Rasulullah adalah perintah Allah, seperti menikahi mantan istri anak angkatnya, karena ada hikmah di dalamnya, bukan semata karena nafsu. Selain itu Rasulullah juga tak pernah menjalin hubungan gelap di belakang istri pertama, lalu tiba-tiba minta izin poligami pada istri.

Herannya lagi, mereka seakan-akan mengagung-agungkan sunnah poligami ini, namun seakan lupa sunnah Rasul yang lainnya. Padahal kadang untuk bisa sholat lima waktu saja masih keteteran, sudah ujug-ujug sibuk mau poligami. Seharusnya, bila memang semangat mau poligami karena mau melaksanakan sunnah Rasul, harusnya terlebih dahulu menerapkan sunnah Rasul yang lain, mulai dari A sampai Z, ujung kepala hingga ujung kaki. Barulah kemudian ketika  sebagian besar sunnah Rasul dikerjakan, poligami jadi pilihan berikutnya. Selain itu seharusnya juga dapat mencontoh sikap Rasulullah terhadap istri-istrinya, adil dan sangat menjaga. Tidak seperti yang kebanyakan terjadi di masyarakat, awalnya terkadang diawali dengan hubungan gelap di belakang, lalu menikah diam-diam. Atau bila sudah menikah lagi, istri yang pertama seakan-akan tidak berarti lagi, ditinggalkan, hanya dilihat sesekali, sementara dengan istri kedua begitu mesranya. Bahkan kadang ada yang menelantarkan begitu saja anak-anaknya dengan istri yang pertama, sementara istri yang pertama banting tulang mencari nafkah untuk anak-anaknya, sang suami ongkang kaki bersama istri keduanya. Duh, kalau suami begini mah, minta ditenggelamkan.

Seperti yang baru-baru ini tersebar di timeline facebook, suami yang sedang tinggal berjauhan dengan sang istri karena kuliah lagi, minta izin untuk poligami. Sementara selama ini gajinya hanya cukup untuk membiayai kuliah, sedangkan anak dan ibunya dinafkahi oleh sang istri. Selain itu sang istri juga diminta menjaga ibunya. Alasannya mau poligami adalah tak ada yang mengurusi di tempat kuliah, lalu ketika sang istri mau menemani di tempat kuliah, suami berdalih dengan alasan sang istri diminta menjaga anak dan ibunya. Duh, suami macam ini nih, yang mesti ditenggelamkan juga. Dikira istri hanya pembantu, tukang ngurus anak dan rumah. Kalau memang begitu, mengapa harus mencari istri? Sewa saja baby sitter atau pembantu.

Mereka yang ingin melaksanakan poligami ini kadang lupa, bahwa poligami bukan hanya sebatas mengahalalkan wanita lain agar bisa menjadi ganti di kala sang istri pertama sedang berhalangan. Ketika sudah menjadi suami, entah dari satu, dua atau tiga istri, seketika itu pula para suami akan dimintai pertanggung jawaban atas semua yang terjadi pada keluarganya, termasuk anak-anak dan istri-istrinya, mulai dari pendidikan, nafkah lahir, juga batin. Jika memang menikah lagi hanya agar bisa untuk melampiaskan hawa nafsu, sekalipun memang jauh lebih baik ketimbang berzina, betapa rendah sekali derajat istri di mata suami.

Jangan lupa para suami, terutama yang ingin menikah lagi, semua amal perbuatan kita akan dimintai pertanggung jawaban di hari akhir nanti. Termasuk perlakuan kita terhadap anak dan istri-istri kita.

Segitu dulu pendapat saya, tentang poligami. Intinya, saya meyakini poligami boleh dalam islam, namun tentu ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Bila ditanya, apakah saya siap untuk dipoligami? Kalau sekarang masih belum, saya masih sibuk mengurus dan terus belajar mendidik dua anak kecil di rumah. Tapi ke depan, saya tak pernah tahu bagaimana takdir Allah. Semoga Allah selalu menjaga keluarga kita semua agar senantiasa berada di jalan yang diridhoiNya, Aamiin. Kalau menurut kamu, gimana? Sharing di kolom komentar ya. Semoga bermanfaat. 🙂

7 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *