Review Buku Diary Ibu Bahagia, Karena Ibu Juga Butuh Bahagia

Diary ibu bahagia

Diary Ibu Bahagia.

Siapa bilang jadi ibu tak bisa bahagia. Menjadi ibu dengan berbagai kesibukannya, mengurus anak, suami atau bahkan sambil bekerja, tetap bisa membuat sang ibu bahagia. Karena bahagia itu kita yang ciptakan. Untuk bahagia tak harus selalu merogoh kocek yang dalam, kadang hanya dengan melihat senyuman anak-anak yang bahagia selepas sibuk mengurus rumah seharian, sudah membuat beberapa ibu sangat bahagia. Atau bisa juga dengan mengumpulkan beberapa alat masak di dapur para ibu.

Baca juga: Rekomendasi Alat Masak untuk Mendukungmu di Dapur.

Setidaknya begitulah yang ingin disampaikan buku yang baru saya baca, Diary Ibu Bahagia, sebuah buku antologi karya ibu-ibu yang tergabung dalam Komunitas Ibu Bahagia di bawah bimbingan penerbit Ihsan Media.

Buku yang terdiri dari 26 kisah ibu mencari celah bahagia di tengah kesibukan dan masalahnya masing-masing ini mengingatkan saya, bahwa saya bukanlah satu-satunya ibu dengan kesibukan yang sepertinya tak pernah selesai di rumah.

Buku ini menceritakan berbagai kisah yang harus dilewati oleh para ibu, seperti perceraian, anak yang aktif, anak yang sakit, bahkan hingga harus ditinggal anak dan suami yang tercinta selama-lamanya. Membaca buku ini membuat saya tersadar, bahwa masalah yang saya hadapi bukan apa-apa bila dibandingkan beberapa masalah yang diceritakan di buku ini. Meski begitu, mereka tetap mencoba untuk ikhlas dan bersabar, sambil terus mendekat kepada sang khalik.

Dari ke 26 kisah yang ditulis, memang ada beberapa yang inti ceritanya sama, namun dibawakan dengan gaya berbeda. Menurut saya itulah salah satu kelebihan buku ini. Jadi kita seakan mendengar 26 ibu bercerita mengenai kisah hidup dan masalah yang mereka hadapi sebagai ibu dan wanita. Satu hal yang saya suka dari buku ini adalah kesemua kisah memiliki satu titik persamaan, bahwa semua masalah hanya akan selesai bila kita semua merapat padaNya. Ada yang melalui mentadabburi Alqur’an, sholat malam, istighfar, hingga membaca kisah.

Di buku ini kita akan dipaparkan mengenai kisah mengasuh anak yang hiperaktif, berkebutuhan khusus, normal, balita, hingga remaja. Nah, bagi kamu yang sedang menjalani hubungan pernikahan secara LDR (Long Distance Relationship), di buku ini juga ada kisah para istri dan ibu yang harus berjuang tanpa suami padahal di rumah ada anak-anak yang minta ditemani. Ada juga kisah ibu yang trauma dengan maling karena terpaksa harus LDR dengan suami yang sedang belajar dan bekerja.

Dari semua kisah, yang paling membuat saya deg-degan dan begitu bersyukur memiliki anak-anak yang sehat, adalah kisah tentang Izzy, CintaNya Untukku oleh Hani Khaerunnisa. Ketika membacanya saya jadi seakan terbawa sedang di rumah sakit dan menanti dengan penuh kecemasan ketika para petugas rumah sakit mengeksekusi Izzy. Saya juga jadi teringat ketika abang usia 8 bulan yang harus dirawat di rumah sakit karena panas yang tinggi. Kala itu abang menangis sejadi-jadinya karena mau dipasang selang infus. Itu adalah kali pertama ia harus disuntik, ngiku sekali rasanya hati ini melihat buah hati tercinta yang harus kesakitan karena disuntik. Belum lagi infus yang lepas sehingga darah harus tertumpah, membuat saya merasa bagaimana bila saya yang menjadi ibunda Izzy.

Buku dengan nuansa hijau ini saya beli seharga Rp 79.000 ketika masih pre order. Menurut saya sesuai dengan apa yang akan kita dapatkan setelah membaca buku ini. Buku ini cocok dibaca untuk wanita dan pria baik yang belum menikah atau yang sudah menikah, sehingga jadi tahu bahwa kehidupan pernikahan tidak selalu disuguhi dengan pemandangan indah, tapi juga ada drama tentang menyusui, me time, hingga stres pasca melahirkan. Selain itu para bapak juga jadi punya sudut pandang bahagia dari sisi ibu. Buku ini juga cocok dibaca bagi ibu yang rasanya sulit mencari celah me time karena banyaknya urusan yang tak berkesudahan, karena ada beberapa tips me time sederhana di buku ini. Bagi yang sedang mengurus anak-anak berkebutuhan khusus, jangan sedih, karena ternyata ada banyak ibu yang juga sedang berjuang di luar sana.

Sedikit koreksi, di beberapa tulisan memang ada yang penulisannya kurang pas seperti kata di untuk keterangan tempat yang tidak dipisah, atau kata yang salah tulis, dan lainnya. Tapi itu semua tidak membuat buku ini jadi berkurang hikmahnya. Setelah membaca, dari skala 10, saya berikan nilai 8 untuk buku ini. Semoga setelah buku ini ada banyak lagi review buku yang lainnya di blog ini. Selamat membaca! ๐Ÿ™‚

 

Judul buku: Diary Ibu Bahagia

Penulis: Rena Puspa, dkk Komunitas Ibu Bahagia

Jumlah halaman: 260 halaman

Tipe buku: Motivasi

Penyunting dan perwajahan: Tim Ihsan Media

Penata letak: Abi Khalid

Penerbit: Ihsan Media

IDBN: 978-602-5633-24-9

 

3 comments

  • Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

    MasyaAllah, Subhanallah.
    Jazฤkillahu khair mba Julia, sudah berkenan me-review buku Diary Ibu Bahagia. Khususnya karena memberi atensi khusus pada part kisah nyata saya.. ๐Ÿ™ (sebenarnya semua berdasar kisah nyata masing-masing kontributor, dan kami tidak saling tahu menahu atau “janjian” tentang tema tulisan, saat diminta membuat naskah ๐Ÿ˜)

    Barakallahu fiik.. Ini judulnya saya ngga sengaja ‘nemu’ review di blog mba.
    Insomnia membawa bahagia ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜˜

  • Assalamualaikum. Terima kasih Reviewnya Mbak, Salam Kenal sy salah satu penulis DIB. Afie Yuliana dari Tangerang. Moga bukunya bisa bermanfaat ya. Reviewnya bagus mbak. Apa boleh sy share tulisan mba di wall FB saya?

    Terima kasih sebelumnya๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

  • Terimakasih telah membaca buku DIB Bahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *