Selamat Jalan Prestoku Sayang, Prestoku Malang

Alhamdulillah tak terasa ramadhan sudah sampai di pertengahan bulan, semoga bisa senantiasa istiqomah sampai akhir, Aamiin. Tema challenge ramadhan kali ini adalah tentang panci presto, cara menggunakan pamci presto atau resep ketupan menggunakan bpanci presto.

Sebenarnya dulu sebelum menikah, saya tak pernah tahu dengan presto. Karena memang waktu itu jarang sekali berada di dapur. Baru ketika menikah dan pindah ke Jawa Timur, saya kenal dengan presto, yaitu di rumah mertua. Di rumah mertua, waktu itu presto lumayan sering digunakan, mulai dari masak daging sampai sekedar merebus kacang ijo. And it really works, memasak jadi lebih mudah dan cepat.

Maka saya pun tertarik ingin memilikinya. Ketika jalan-jalan di supermarket, pas sekali sedang ada diskon. Dari yang awalnya 400an ribu, jadi hanya 200an saja. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung membelinya.

Panci presto ini lumayan terpakai, terutama untuk masak daging dan kawan-kawan. Saya bisa masak rendang, ayam tulang lunak, dan lainnya. Hingga pada suatu hari, saya ingin memasak sesuatu dengan presto. Panci presto sudah mejeng di atas kompor dengan kondisi sudah tertutup, tinggal diputar sedikit sehingga ada bunyi klik!

Tanpa bertanya, saya yang mengira suami sudah meletakkan air di dalamnya, menyalakan kompor dan meninggalkannya. Tak lama kemudian, tercium bau hangus. Setelah sadar, akhirnya saya tahu, bau itu dari presto. Langsung saja kompor dimatikan, dan presto diperiksa. Ternyata tadi saya telah menggunakan panci presto tanpa ada air sedikitpun di dalamnya. Alhasil, presto saya rusak. Plastik kecil yang berfungsi untuk kedap udara, meleleh. Setelah itu saya tidak lagi memasak dengan panci presto, haha.

Setelah beberapa bulan, suami kembali membelikan presto yang baru. Kali ini berbeda dengan yang lalu

Bila yang lalu pancinya menggunakan gagang, kali ini tutupnya dengan diputar. Senang sekali rasanya bisa masak lebih cepat dengan presto. Hingga pada suatu hari, saya terlalu sedikit menaruh air ke dalam presto. Akhirnya presto saya kembali gosong, huhu.

Lalu beberapa bulan setelahnya, suami membelikan kembali sebuah panci presto, kali ini lebih kecil. Saya pun sangat senang.  Suatu hari, ketika masak, saya mengisi banyak air ke dalam panci. Berbekal pengalaman yang lalu. Apa yang terjadi? Airnya luber dan presto saya pun rusak lagi, huhu.

Kini saya tidak lagi menggunakan presto. Setelah tiga kali gagal menjaga presto dengan baik, maka saya simpan saja memori memasak dengan presto.

Itulah sedikit pengalaman saya dengan presto. Jadi bila ibu-ibu di rumah memiliki panci presto, pastikan baca buku panduan sebelum menggunakannya. Pastikan ada air di dalamnya, jangan terlalu sedikit, pun jangan terlalu banyak. Atau kamu juga punya pengalaman dengan presto? Sharing di kolom komentar yuk!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *