Sepatu Wanita: Saksi Masa Lalu dan Masa Depan Kaum Wanita

Sepatu wanita

Sepatu wanita saksi masa lalu dan masa depan kaum wanita. Sumber gambar: qlapa.com

 

Bagi sebagian orang, adalah hal yang lumrah bila wanita mulai mengoleksi sepatu. Jika ditanya alasannya kenapa, kadang mereka  akan kompak menjawab “ya… biar banyak pilihan sebagai mix & match dengan outfit aja”. Terdengar seperti alasan remeh memang. Namun mereka juga tak segan-segan menggelontorkan banyak dana hanya untuk sepasang sepatu saja.

Menurut saya sih oke-oke saja bila ingin mengoleksi sepatu. Selama masih dalam batas kewajaran dan tidak berlebihan. Jangan sampai hanya karena ingin membeli sepatu kita tidak makan atau tak mau sedekah. Sepatu kita harganya berjuta-juta, namun tetangga sebelah sampai kelaparan, sungguh menyedihkan bila sampai terjadi seperti ini. Padahal bila kita sedikit melihat bagaimana status wanita di masa lalu, membeli shampo yang layak pun rasanya hampir mustahil.

Jangankan sepatu, wanita di masa lampau tak mampu “membeli” dirinya sendiri

Model sepatu wanita kini sudah sangat beragam. Mulai dari yang populer seperti high heels, flats, wedges, sneakers, hingga sepatu kulit. Belum lagi model sepatu lukis yang sedang banyak diminati dewasa ini karena corak-corak unik dan lucunya.

Dulu, jangankan untuk melihat model-model sepatu seperti di atas, kaum perempuan Indonesia di masa lalu bisa dikatakan tidak dapat memperjuangkan harga dirinya sendiri. Terutama ketika masa penjajahan Jepang pada tahun 1942. Hingga sekarang, dampak sosial dari perbudakan seks zaman penjajahan Jepang masih terasa. Terlebih pada mereka yang masih hidup saat ini, bahkan juga keluarganya. Diperkirakan 80.000 hingga 200.000 wanita pada masa penjajahan dijadikan “wanita penghibur” oleh tentara Jepang. Karenanya seharusnya kita bersyukur, karena telah bebas dan merdeka dari penjajahan, sehingga bisa sesukanya membeli sepatu atau barang lainnya.

Masa kelam kaum hawa pra era perempuan ber-sepatu wanita

Di dalam beberapa hal, wanita penghibur ini bisa dijadikan dua segmentasi. Pertama ialah para perempuan ini resmi dan memang khusus direkrut. Mereka memiliki agen yang menjadi penengah transaksi antara si perempuan dengan tentara Jepang. Mungkin kita lebih mengenal agen ini dengan sebutan mucikari atau germo. Sementara untuk kasus kedua, adalah para perempuan yang awalnya diiming-imingi sebuah pekerjaan, namun malah dijadikan sebagai wanita penghibur. Atau lebih parah lagi, mereka adalah perempuan yang diculik atau dibawa secara paksa.

Dampak status “wanita penghibur” sudah pasti sangat negatif. Dari segi kesehatan, jika mereka melayani banyak pelanggan maka barang tentu menyebabkan penyakit AIDS. Kemudian pada segi psikologis, mereka rela untuk menjadi wanita penghibur demi mencukupi kebutuhan ekonomi. Belum lagi bila mereka masih harus menerima siksaan dari majikannya. Dan, jika kita membicarakan usia, banyak dari mereka juga yang masih dikategorikan sebagai anak-anak. Dampaknya tak lagi hanya pada psikologis, namun juga biologisnya.

Sejarah beberapa wanita Indonesia, boleh saja kelam. Namun kini, masa-masa tersebut sudah dilalui dengan perjuangan serta kisah yang tak kalah juga panjang. Perempuan kita berhasil bangkit dari keterpurukan, bahkan sekarang mampu berdiri sejajar bersama para laki-laki.

Sepatu wanita sebagai simbol eksistensi kaum hawa bagi lingkungan sekitar

Bukti pergeseran persepsi terhadap wanita di era globalisasi kini sudah tak terbantahkan lagi. Jaman dahulu, kaum perempuan sangat dilindungi dan terkesan tertutup. Mereka bak sebuah perhiasan yang senantiasa dijaga oleh pemiliknya. Namun sekarang, justru perempuan banyak berlomba-lomba untuk menunjukkan eksistensi dirinya kepada dunia. Mereka tidak ingin dipandang lemah serta mampu berdiri sendiri. Hingga kemudian muncul istilah kesetaraan gender.

Kesetaraan perempuan masa kini dapat dilihat pula dari sisi perkembangan sepatu wanita. Model sepatu boots adalah salah satunya. Bila dulu boots hanya identik digunakan oleh kaum pria saja, saat ini sudah berbeda cerita. Model boots untuk wanita malah sedang banyak digemari terutama bagi kalangan muda.

Sepatu boots untuk wanita

Salah satu model sepatu boots untuk wanita. Sumber gambar: qlapa.com

Semakin ke sini, mungkin kita juga semakin akrab dengan istilah perempuan berkarir. Mereka memiliki pendidikan tinggi, bahkan beberapa perempuan berpartisipasi di dunia politik, sosial, dan lain sebagainya.

Kendati demikian, fenomena ini bagaikan pisau bermata dua. Ada dampak positif dan negatifnya. Dampak positif perempuan berkarir tentu akan dapat membantu ekonomi keluarga. Kemudian juga dapat membuat mereka lebih percaya diri sekaligus sebagai bentuk peningkatan sumber daya manusia. Sementara dampak negatifnya, ialah akan muncul sebuah jarak antar anggota keluarga. Baik itu orang tua, suami, bahkan anak. Padahal kita tau sendiri, bagaimana pentingnya peran perempuan bagi pertumbuhan anak.

Dalam Islam sendiri, wanita diperbolehkan untuk bekerja di luar, dengan syarat-syarat tertentu, seperti: tidak meninggalkan kewajibannya untuk memelihara anak dan keluarga, menutup aurat, tidak berdua-duaan dengan rekan kerja, tidak menjual kecantikan dirinya, tidak mengandung unsur haram, dan lainnya.

Melihat fakta eksistensi wanita di Instagram dan marketplace jual-beli

Perihal perempuan berkarir, memang tak semua dari mereka berdampak negatif. Ada juga yang mendulang sukses, sembari tetap menjaga keseimbangan keluarga serta lingkungan sekitar mereka. Sebut saja para selebgram seperti Ayudia Bing Slamet (Rp 6 juta/postingan), Jessika Iskandar (Rp 8 juta/postingan), dan Oki Setiana Dewi (Rp 9 juta/postingan).

Selain nama-nama terkenal di atas, ada pula kisah dari Andina Nabila Irvani, atau yang lebih akrab disapa Dina. Dina memiliki usaha industri kreatif sepatu wanita bernama Slight Shop. Konsep Art to Wear dari Slight Shop menyediakan banyak sepatu wanita handmade modern yang dipadukan dengan unsur seni. Seperti sepatu lukis, kemudian sepatu dengan ragam pernik sebagai hiasan, atau gabungan keduanya.

Saat ini, Slight Shop bisa menjual sampai 200 pasang sepatu wanita di qlapa.com dan channel lainnya. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di berbagai negara seperti Thailand, Filipina, Taiwan, Malaysia, Thailand, dan Australia. Pencapaian gemilang Sepatu Slight Shop tentu tak datang begitu saja. Banyak sekali rintangan yang harus dihadapi Dina. Salah satunya ialah kendala pemasaran serta promosi. Permasalahan tersebut membawa Dina untuk berkenalan dengan Qlapa. Sebuah marketplace tempat bertemu antara pengrajin produk handmade Nusantara dengan para pembelinya. Dari sana pula Sepatu Slight Shop mulai dikenal masyarakat lokal maupun internasional.

Sepatu slight Andina di qlapa.com

Salah satu model sepatu slight karya Dina yang dijual di qlapa.com. Sumber gambar qlapa.com.

Kehadiran marketplace yang mendukung eksistensi pengrajin lokal seperti qlapa.com ini memang diperlukan sekali, mengingat perkembangan teknologi kini telah mengharuskan semua penjual juga berkecimpung di penjualan online, agar produknya lebih dikenal tidak hanya di negeri sendiri, tapi juga mancanegara.

Pada akhirnya, pilihan juga ada di tangan kita. Mau atau tidaknya kita turut mendukung eksistensi pengrajin lokal dalam negeri dengan cara turut membeli sepatu atau buatan pengrajin lokal lainnya, yang sebenarnya tak kalah bagus dari sisi kualitas dengan produk buatan luar negeri. Jayalah selalu produk-produk dalam negeri. Semoga bermanfaat. 🙂

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *