Si Kecil yang Dinanti

Menanti buah hati

Picture credit to pixabay.

Sudah sewajarnya bila dua orang yang telah menikah, begitu mendambakan kehadiran buah hati di tengah kebahagiaan mereka. Sayangnya, tidak semua orang bisa dengan mudah mencicipi manisnya rasa memiliki buah hati atau bahkan sama sekali tidak pernah merasakannya.
Bukan hanya dari kalangan manusia biasa, Ibrahim sang nabi pun bahkan harus menunggu ratusan tahun lamanya agar dapat memiliki sang buah hati. Hal itu baru ia rasakan setelah Ia menikah lagi dengan wanita pilihan istrinya, Hajar. Barulah sejenak merasakan betapa menyenangkannya melihat seorang bayi kecil menangis dan tertawa dengan tingkahnya yang lucu, ia harus menjalankan perintah untuk meninggalkan anak bersama istrinya di gurun pasir tandus yang belakangan dinamakan Mekah.
Meski tak harus menunggu hingga ratusan tahun, atau tak perlu meminta suami untuk menikah lagi seperti Sarah istri nabi Ibrahim, kami juga pernah merasakan betapa menanti kehadiran sang buah hati menjadi penantian yang tidak sebentar.
Setelah setahun menikah, dua garis di tespack itu muncul. Akhirnya, setelah menunggu sekian lama, Allah memperkenankan saya untuk mencicipi kenangan manisnya hari-hari mengandung seorang anak. Setelah satu tahun sembilan bulan, anak pertama kami lahir. Kami memberinya nama Uwais Alharits, agar ia bisa meniru bakti Uwais Alqarni kepada ibunya.
Bagi sebagian orang, mungkin waktu setahun adalah waktu yang singkat, mengingat ada orang yang menunggu hingga 11 tahun lamanya, barulah dikaruniai anak, seperti Hanum Rais, penulis buku 99 Cahaya di Langit Eropa. Tapi bagi saya kala itu, setahun menjadi waktu yang teramat panjang dan menguras emosi.
Tanggal 19 Oktober 2012 menjadi hari yang akan selalu dikenang oleh saya dan suami. kami akhirnya menikah, setelah mempersiapkan semuanya dari jauh, saya di Bangka sementara suami di Jawa. Sebelum menikah, saya sudah berniat dalam hati, bahwa saya ingin memiliki banyak anak, bila mungkin hingga selusin banyaknya. Tapi belakangan niat ini sedikit tergerus, ketika saya sadar, bahwa melahirkan anak tak semudah yang saya bayangkan, haha.
Sebulan setelah menikah, saya diboyong suami pindah ke Jawa. Kala itu saya masih tinggal bersama mertua di Mojokerto, sementara suami bolak-balik pulang setiap libur kerja dari Probolinggo. Baru di awal tahun 2013, kami mengontrak sebuah rumah di Paiton Probolinggo, dekat dengan tempat kerja suami. Belum ada tanda-tanda kehamilan saat itu, juga belum ada kekhawatiran sedikit pun mengapa saya belum juga hamil, mengingat usia pernikahan yang masih baru dan sebelumnya kami sempat LDR. Bulan-bulan berikutnya barulah saya lebih sensitif. Rasanya berat sekali menjawab pertanyaan orang lain, “ sudah isi belum?” atau “kapan punya anak?”. Seorang kerabat bahkan tega berkata,” Kelak ka ditinggel laki ka sudeh e, dak hamil-hamil ni!” ( Nanti kamu ditinggalkan oleh suamimu, bila tak kunjung hamil). Sedih sekali mendengar perkataan tersebut. Kadang saya bingung membedakan pertanyaan-pertanyaan itu, apakah murni karena mereka perhatian atau hanya basa-basi untuk mengasihani.
Tidak hanya itu, suatu hari ketika saya sedang pergi dengan sepeda lalu melewati seorang pedagang sayur dengan beberapa ibu yang sedang belanja, sayup terdengar, “ Aruah tak andik anak, jek!”( Dia tak punya anak). Menitiklah air mata ketika mendengar perkataan itu. Maka saya pun semakin tak sabar untuk bisa hamil. Seakan ingin membuktikan bahwa sebenarnya saya ini juga normal, sama seperti wanita lainnya. Mulailah saya mengumpulkan tespack demi tespack di laci meja, mengecek apakah saya sudah hamil atau belum. Menjadi hamil kala itu seperti sebuah ambisi yang sangat dinanti.
Alhamdulillah orang tua saya dan suami tak terlalu memusingkan keadaan ini, meskipun dari pihak suami belum ada cucu sama sekali. Tapi tetap saja saya merasa belum menjadi wanita sejati, apalagi pertanyaan-pertanyaan kapan hamil selalu membayangi.
Untungnya lagi, suami juga tak terlalu ambil pusing mengapa saya tak kunjung hamil. Setidaknya itulah yang saya tangkap darinya. Banyak cara kami lakukan agar diberi kesempatan untuk memiliki buah hati.
Kami mulai memantaskan diri agar bila nanti waktunya tiba, kami sudah siap. Beberapa hal yang kami lakukan untuk memantaskan diri diantaranya:
Mencoba melupakan dan fokus pada nikmat lain yang kami punya
Dimulai dari saya yang mencari kesibukan lain di luar rumah agar tidak stres selalu memikirkan tentang kapan saya hamil. Kala itu saya coba mengajar di sebuah SD dan menjadi staf pengurus di taman kanak-kanak dekat rumah. Dengan begini sementara waktu saya akan lupa tentang mengapa saya belum juga hamil. Kami mencoba untuk terus mensyukuri nikmat lain yang kami punya. Kami lebih sering bersepeda keliling seputaran Paiton, menikmati kebersamaan kami berdua.
2. Memperbaiki kualitas ibadah
Kami coba memperbaiki kualitas ibadah kami, mulai dari yang wajib bahkan sunah. Kami mulai rajin berpuasa sunah kala itu. Kami perbanyak do’a dan pinta di setiap waktu yang mustajab. Kami perbanyak sedekah kami, mencoba untuk lebih sering berbagi.
3. Memperbaiki kualitas hidup
Kami perbaiki kualitas hidup dengan banyak makan sayur, buah, hingga berolahraga. Kami usahakan untuk mengikuti tips dari sisi reproduksi, mulai dari posisi berhubungan hingga waktu yang baik untuk berhubungan. Kami juga perbaiki hubungan dengan kerabat dekat, mulai dari orang tua, hingga kerabatnya. Paling lama sebulan sekali kami akan pulang mengunjungi kedua mertua, karena memang mereka yang paling dekat, meski harus menempuh perjalanan panjang dan melelahkan berjam-jam lamanya. Setiap mudik ke Bangka, kami sempatkan untuk berkunjung ke semua kerabat dekat orang tua saya.
4. Terus sabar, ikhtiar dan tawakal
Karena selalu memikirkan kapan hamil, sepertinya saya sedikit stres. Hampir setiap bulan saya telat menstruasi. Bahkan pernah saya telat menstruasi hingga dua bulan lamanya. Ketika datang ke dokter kandungan untuk memeriksa, dokter berpesan, “ nikmatilah hidup, jangan terlalu ambil pusing. Bila sudah datang masanya, InsyaAllah ibu akan memiliki keturunan.”
Saya terus mencoba untuk ikhlas dan pasrah, bahwa hanya Allah lah yang paling tahu kapan waktu itu tiba. Lama kelamaan saya pun mulai lupa tentang ambisi untuk bisa hamil. Saya terus belajar bersabar dan ikhlas bahwa semua ini adalah kehendakNya.
Kebiasaan mengumpulkan testpack mulai saya tinggalkan. Saya tak pernah lagi memeriksa untuk mencari dua garis itu. Saya takut kecewa seperti sebelumnya.

Masa itu datang juga

Saya ingat betul waktu itu bulan November, sebulan setelah setahun usia pernikahan kami. Bulan sebelumnya, seperti biasanya kami mengunjungi mertua di Mojokerto. Kala itu sedang panen buah mangga di rumah mertua. Saya memang penyuka asam, tapi sepertinya lain saat itu. Buah mangga muda terlihat sangat menggoda. Dicolek dengan garam yang dicampur cabe, sangat menggugah selera. Tapi saya tak berani menduga apapun, takut kecewa untuk kesekian kalinya.
Seperti biasa, kami pulang dengan bus umum. Tapi kali ini saya mabuk perjalanan, bahkan muntah. Padahal baru perjalanan dari Mojokerto menuju Surabaya, satu jam perjalanan. Tidak biasanya saya seperti ini. Beberapa Hari setelahnya, saya dan suami berenang di kolam renang fasilitas perusahaan suami. Kala itu saya bertemu dengan kenalan lama, yang juga menanyakan apakah saya sudah hamil atau belum. Lalu ia menceritakan tentang temannya yang baru menikah tapi sudah memiliki anak-anak yang lucu. Saya yang sebenarnya sudah lupa dengan hal ini, entah mengapa begitu sedih malam itu. Pulangnya saya menangis dan akhirnya ingin memeriksa testpack kembali setelah sekian lama tak melakukannya. Untungnya saat itu masih ada beberapa testpack tersisa di laci meja.
Sungguh tak terduga, akhirnya garis dua itu muncul. Saya beritahukan suami, tapi ia masih belum percaya dan meminta saya memeriksa keesokan harinya.
Esoknya, pagi-pagi saya periksa dan ternyata memang benar ada dua garis itu. Saya bahagia sekali kala itu. Akhirnya masa yang ditunggu datang juga. Seminggu setelahnya kami datang ke dokter kandungan, Alhamdulillah janin dalam kandungan saya telah berusia 5 minggu.

Menjaga titipanNya

Setelah tahu bahwa saya positif hamil, saya jaga betul kandungan ini. Saya tak mau makan yang banyak mengandung msg. Bahkan di warung-warung makan saya selalu mewanti-wanti penjual untuk tak menambahkan msg ke makanan saya. Setiap mau makan mie ayam, saya rela membawa sendiri potongan sawi agar banyak sayur yang saya makan. Bila lupa, saya akan minta ditambahkan banyak sayur.
Saya berhenti makan duren selama hamil, karena takut akan mempengaruhi janin. Saya tinggalkan minuman bersoda, saya rutin minum vitamin dan suplemen herbal, seperti vco dan minyak ikan. Selama hamil saya tak kemana-mana, apalagi setelah dokter mengatakan untuk tidak naik kereta atau pesawat terlebih dulu, hanya sekali saya pergi ke rumah mertua di usia kandungan 4 bulan. Selebihnya saya di rumah saja. Semua saran untuk kebaikan janin dan kehamilan ini saya ikuti, asalkan itu baik dan tidak melanggar syariat.
Saya terus berdo’a agar Allah mengizinkan saya melahirkan anak ini dengan mudah dan melihat mereka tumbuh dewasa. Saya perbanyak sedekah dan do’a di setiap sujud, untuk kelancaran persalinan sang buah hati. Bahkan ketika tahu posisi janin sungsang, saya pasang stopwatch untuk sujud setiap habis sholat. Hingga akhirnya dokter mengatakan posisinya sudah bagus. Saya perbanyak jalan kaki dan jalan jongkok di saat hamil tua.
Akhirnya pada tanggal 25 Juli 2018, atau bertepatan dengan 27 ramadan dini hari, tangisan bayi itu terdengar untuk pertama kalinya. Alhamdulillah, syukur tak terkira kami panjatkan kepadaNya. Lengkaplah kini kebahagiaan kami dengan hadirnya sang buah hati.
Memang tidak ada yang tak mungkin bila Allah sudah berkehendak. Zakaria yang telah tua dengan istrinya yang dinyatakan mandul, dapat memiliki seorang anak sang nabi Yahya. Maryam yang belum menikah dan begitu menjaga kesuciannya, dapat melahirkan seorang nabi sehebat nabi Isa As. Nabi Ibrahim yang menunggu ratusan tahun lamanya, ahirnya bisa memiliki dua anak, Ismail dan Ishak.
Jangan pernah menyerah apalagi berkecil hati dengan kasih sayang Allah, cobalah semua usaha, selama tak melanggar syariatNya. Bukankah Hajar tak pernah menyangka, akan ada air yang keluar di dekat Ismail, padahal yang ia lakukan adalah berlari-lari dari Shafa ke Marwa, dengan penuh harap menemukan air untuk sang buah hati tercinta. Teruslah melakukan kebaikan, bukankah Ibrahim pun tak menduga setelah menyembelih anak sapi yang gemuk lalu dipanggang demi memuliakan tamunya, ternyata yang datang adalah para malaikat yang membawa kabar tentang kehamilan Sarah.
Sementara bagi kita yang tak mengalaminya, lebih beruntung dari mereka yang terus menunggu, cobalah untuk sedikit berempati. Simpan tanya basa-basimu, gantikan dengan do’a di setiap sujudmu untuknya. Jangan khawatir, ketika masanya tiba, kita pasti akan diberi tahu tentang kebahagiaan itu. Jangan menambah beban mereka dengan terus bertanya. Berilah mereka dukungan dan do’a.
Semoga dengan membaca tulisan ini ada banyak orang yang lebih peduli, lalu berhenti menyakiti meski hanya dengan perkara basa-basi.
Semoga akan banyak yang semakin semangat menjemput rahmat dari yang maha hebat. Kita tak pernah tahu jalan mana yang Allah pilih, karena sungguh Dia tahu, tapi menunggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *