Teguran Secara (Tidak) Langsung

Dikisahkan, seorang mandor bangunan yang
sedang bekerja di sebuah gedung bertingkat,
suatu ketika ia ingin menyampaikan pesan
penting kepada tukang yang sedang bekerja di
lantai bawahnya. Mandor ini berteriak-teriak
memanggil seorang tukang bangunan yang
sedang bekerja di lantai bawahnya, agar mau
mendongak ke atas sehingga ia dapat
menjatuhkan catatan pesan. Karena suara
mesin-mesin dan pekerjaan yang bising, tukang
yang sedang bekerja di lantai bawahnya tidak
dapat mendengar panggilan dari sang Mandor.
Meskipun sudah berusaha berteriak lebih keras
lagi, usaha sang mandor tetaplah sia-sia saja.
Akhirnya untuk menarik perhatian, mandor ini
mempunyai ide melemparkan koin uang logam
yang ada di kantong celananya ke depan seorang
tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya.
Tukang yang bekerja dibawahnya begitu melihat
koin uang di depannya, berhenti bekerja sejenak
kemudian mengambil uang logam itu, lalu
melanjutkan pekerjaannya kembali. Beberapa kali
mandor itu mencoba melemparkan uang logam,
tetapi tetap tidak berhasil membuat pekerja yang
ada di bawahnya untuk mau mendongak keatas.
Tiba-tiba mandor itu mendapatkan ide lain, ia
kemudian mengambil batu kecil yang ada di
depannya dan melemparkannya tepat mengenai
seorang pekerja yang ada dibawahnya. Karena
merasa sakit kejatuhan batu, pekerja itu
mendongak ke atas mencari siapa yang
melempar batu itu. Kini sang mandor dapat
menyampaikan pesan penting dengan
menjatuhkan catatan pesan dan diterima oleh
pekerja dilantai bawahnya.
Sumber: http://argatikel.blogspot.com/2008/08/jika-allah-menarik-perhatian-kita.html?m=1

Waktu jaman masih kuliah dan jahiliyah dulu, saya pernah dibonceng seorang teman menggunakan rok yang lumayan lebar dan ngembang dengan sepeda motor. Waktu itu duduknya miring. Di perjalanan, tiba-tiba roknya tersangkut dan melilit di jeruji motornya, walhasil rencana keluar saya bersama teman itu pun batal dan saya terpaksa harus pulang, Alhamdulillah, saya tidak apa-apa, karena tidak lama sebelum lulus kuliah kemarin, seorang teman cewek juga pernah mengalami hal yang sama dan tangannya patah karena itu. Pas dulu kejadian ini terjadi, saya gak terlalu mikir macem-macem, biasa-biasa aja. Belakangan baru saya sadari, ternyata itulah caraNya untuk menghentikan perbuatan saya yang salah kala itu. Alhamdulillaah. Mungkin kalau rok saya sampe tidak melilit di jeruji motor saat itu, ada hal yang tidak baik yang akan saya lakukan. Na’udzubillah.
Beberapa waktu yang lalu ketika berkunjung ke TK, seorang Ummahat menceritakan tentang perjuangannya mengenakan sepasang kaus kaki. Sampai-sampai Beliau dimarahi suaminya karena sempat memberikan sesuatu kepada tamunya (padahal hanya dari pintu saja dan hanya beberapa detik saja) tanpa mengenakan kaus kaki. Suaminyà  langsung menasehatinya dan mengatakan kalau istrinya itu bisa termasuk orang yang bermudah-mudah dalam syariat. MasyaAllah, malunya saya ketika mendengar cerita Ummahat itu. Betapa dulu saya juga masih sering kalau nyapu halaman, atau buru-buru kalo mau beli sayur di tukang sayur depan rumah, atau sekedar duduk-duduk sebentar sama Ibu-Ibu di depan rumah masih lupa pakai kaus kaki. Astaghfirullah. 🙁
Begitulah, dalam hidup sebenarnya Allah sudah begitu baik kepada kita hambaNya, yang punya masalah, Allah kasih jalan keluar yang terbaik. Yang kesulitan rezekinya, Allah bukakan pintu rezekinya. Begitupun ketika kita melakukan kesalahan atau bahkan baru mau melakukan kesalahan, Allah langsung cegah dan tegur kita untuk tidak melakukannya. Hanya saja, sebagai manusia kadang kita memang banyak lupa. Saking asyik dan sibuknya dengan kesenangan-kesengan yang diberikanNya, seperti tukang yang sibuk mengambil recehan uang koin yang jatuh tadi, kita sampai lupa bahwa sesungguhnya ada maksud yang hendak Allah sampaikan kepada kita melalui semua peristiwa yang kita lalui, baik kecil maupun besar, baik berupa recehan uang koin ataupun lemparan batu, berupa kesenangan atau kesulitan. Semoga kita termasuk hamba-hambaNya yang senantiasa ingat kepadaNya dalam setiap apapun yang terjadi di kehidupan kita ya, Aamiin.. 🙂
Sehingga tak perlu menunggu lemparan batu dari Allah baru kita mau sadar. 🙂
Paiton, 4 Juni 2014
Di sela -tendangan mungil si Dedek Shalih


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *