Traveling Bersama Anak, Ribet Nggak Sih?

Traveling bersama anak

Sebelum menikah, bila mau pergi ke suatu tempat, saya lebih sering sendirian. Kadang-kadang bersama teman atau keluarga. Kalau bepergian untuk traveling, saya lebih sering pergi bersama teman dibanding keluarga. Mungkin hanya ketika silaturrahim pas momen lebaran barulah bersama keluarga.

Setelah menikah, semua berubah. Kemana-mana seringnya ditemani suami. Tapi semakin ke sini jadi semakin paham, wanita yang ingin bepergian, apalagi lama perjalannya sampai 24 jam lalu harus menginap di tempat baru, harus ditemani seorang mahrom laki-laki. Bisa ayah, paman, kakak, atau adik laki-laki. Karena demi keselamatan si wanita.

Setelah melahirkan dan memiliki dua anak ( si Abang berusia 3,6 tahun dan si adik berusia 11 bulan), sekarang kemana-mana selalu mengajak anak. Ikut seminar, kumpul blogger (walaupun jarang sekali, maklum blogger  tinggal di desa, malah curhat, haha), pengajian, atau lainnya. Apalagi sejak menikah kami tinggal jauh dari orang tua dan keluarga. Jadi mau meninggalkan anak dengan orang lain agak khawatir dan sungkan. Selain itu, karena sudah terbiasa mengajak anak-anak, rasanya ada yang kurang bila tak mengajak anak-anak.

Kemana saja bepergian dengan anak-anak?

Seperti yang saya sebutkan di atas, bila bepergian, kami hampir selalu mengajak anak-anak. Terutama saya,  bila terpaksa harus keluar namun mas suami tak bisa ikutan. Selama ini, kemana saja kami sudah bepergian bersama anak-anak?

1. Main ke pantai

Di Paiton banyak pantai bagus dan murah. Sayang sekali rasanya bila kami tak pernah main ke pantai. Si Abang senang sekali bisa mandi, main air dan pasir di pantai. Seringkali bila diajak ke pantai, Abang akan makan lebih lahap dari biasanya karena kecapekan lalu lapar. Si Adik bagaimana? Untuk sekarang, adik baru kami ajak mandi air laut. Untuk pasir masih belum kami lepas, karena dia masih dalam fase memasukkan semua makanan ke dalam mulut.

2. Mandi di sungai

Selain pantai, Paiton di Paiton juga ada beberapa sungai yang masih jernih. Cuma harus hati-hati bila ada benda kuning kecoklatan yang mengambang, haha. Anak-anak senang sekali bisa main air sepuasnya.

3. Keliling melihat sawah nan hijau

Selain pantai dan sungai, Paiton juga dikelilingi sawah nan hijau. Sesekali kami main jalan-jalan mengitari persawahan, menikmati alam yang hijau.

4. Bepergian dengan pesawat

Si Abang sudah 3 kali bepergian dengan pesawat. Sementara si adik, baru sekali, di usianya yang keenam bulan. Alhamdulilllah semuanya lancar, ketika lepas landas mereka sibuk tidur atau menyusui.

5. Bepergian a pdengan kereta api

Kalau bepergian dengan kereta, sudah beberapa kali kami lakukan. Agar tidak jenuh, biasanya kami akan bercerita tentang apa saja yang dilihat di jendela kepada anak-anak.

6. Bepergian dengan Bus

Sebenarnya saya tak terlalu senang bepergian dengan bus. Sempit dan padat. Bila boleh memilih, saya lebih suka naik kereta api. Luas dan lapang. Tapi karena jarak stasiun ke rumah kami yang jauh, sesekali kami harus bepergian dengan bus. Biasanya si adik akan sering tirur dan menyusui. Lalu si Abang, akan bercerita tentang pemandangan sekitar.

7. Bepergian dengan motor

Ini baru sekali kami lakukan. Nekat kami berempat naik motor dari Paiton ke Mojokerto. Hasilnya, perjalanan yang bila suami sendirian bisa ditempuh hanya dengan 3,5 jam perjalanan, harus ditempuh selama 8,5 jam perjalanan, haha. Dengan hampir 6 kali pemberhentian.

8. Berenang di kolam renang

Anak-anak memang senang sekali dengan air. Sehingga mulai sejak bayi hingga kini, kami sering mengajaknya bermain air di kolam renang. Begitu pula adiknya. Senang sekali ia bisa main air sepuasnya di kolam renang.

Apa saja yang harus dipersiapkan bila hendak bepergian dengan anak-anak?

✓ Do’a

Ini penting sekali. Setiap mau bepergian, terutama mengajak anak-anak, saya usahakan untuk berdo’a. Meminta keselamatan dan kenyaman selama bepergian. Bila sudah berdo’a hatipun jadi tenang.

✓ Sugesti dan informasi positif

Beberapa waktu sebelum berangkat, anak-anak akan diberitahu bahwa tak lama lagi kami akan pergi suatu tempat. Anak-anak diminta tenang dan mau bekerja sama di perjalanan atau selama di tempat tujuan. Alhamdulilllah ini lumayan berhasil.

✓ Bekal dan perlengkapan anak-anak

Mulai dari makanan, baju ganti, plastik baju kotor, plastik tempat popok kotor, minyak telon, mainan, dan lainnya. Semua dibawa untuk antisipasi bila sewaktu-waktu baju anak-anak kotor, merek pup, minta mandi, atau lainnya. Dengan begitu, tak perlu pusing bila sewaktu-waktu membutuhkannya.

✓ Stok sabar yang melimpah

Kadang harapan kita dengan realita yang terjadi tak sama. Anak-anak tak terlalu suka dengan tempatnya, kadang mereka rewel, maka kami perlu memperbanyak stok sabar, terutama saya, agar tak sering marah-marah di perjalanan atau di tempat tujuan, sehingga traveling pun jadi lebih menyenangkan.

Begitulah sedikit tentang traveling bersama anak-anak. Jadi, menurut saya, traveling atau bepergian dengan anak-anak memang lebih ribet dibandingkan bila pergi sendiri. Banyak yang harus dipersiapkan dan diurus.

Traveling bersama anak

Salah satunya harus mengangkat si kecil seperti ini.

Tapi, bepergian dengan anak-anak akan selalu lebih rame dan seru. Selalu ada hal baru bila mereka ikut serta. Karenanya, kami tak pernah menyesal untuk selalu mengajak mereka lagi dan lagi, kemanapun tempat traveling tujuan kami berikutnya, sebab mereka telah tergabung dalam tim traveling kami, hingga nanti pada akhirnya mereka pun akan menemukan tim traveling mereka sendiri, kemudian kami hanya bisa mendengar cerita manis tentang perjalanan mereka.

Kamu juga punya pengalaman traveling bersama anak-anak? Sharing di kolom komentar ya, semoga bermanfaat. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *